detikhealth

Kontroversi Pendirian Bank ASI

Nurul Ulfah - detikHealth
Senin, 03/08/2009 12:12 WIB
Kontroversi Pendirian Bank ASI(Foto: eHow)
Bogor, Seperti layaknya bank yang mengatur dan menyediakan stok uang, kini ASI pun dirasa perlu tersedia dalam bentuk bank atau yang dikenal dengan bank ASI. Namun hal ini masih mengundang kontroversi. Mengapa?

Kesulitan para ibu memberikan ASI untuk anaknya menjadi salah satu pertimbangan mengapa bank ASI perlu didirikan, terutama di saat krisis seperti pada saat bencana yang sering membuat ibu-ibu menyusui stres dan tidak bisa memberikan ASI pada anaknya.

Hal ini disampaikan dr Asti Praborini SpA, IBCBC dalam acara lokakarya tentang ASI yang bertepatan dengan hari pertama pekan ASI sedunia yag digelar di Hotel Novotel Bogor, 1-2 Agustus 2009.

"Indonesia sebaiknya segera mendirikan bank ASI seperti negara Kuwait yang sudah memilikinya. Hal ini untuk membantu para ibu terutama mereka yang tidak bisa memberikan ASI karena faktor stres pasca bencana," ujar dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Perinatologi Indonesia (PERINASIA).

Bank ASI juga diharapkan dapat mengurangi serbuan susu formula yang saat ini banyak sekali diiklankan oleh produsen-produsen susu untuk bayi di bawah 2 tahun. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi ibu dalam pemberian ASI.

"Gencarnya iklan-iklan produk susu formula jelas sangat mengganggu program ASI yang seharusnya diberikan ibu hingga anak berumur 2 tahun. Banyak ibu yang tergoda memberikan susu formula padahal anaknya baru berusia beberapa bulan," ujar Asti.

Padahal menurut Asti, susu formula yang diberikan pada bayi di bawah 2 tahun cukup berbahaya. Hal ini disebabkan karena kandungan gizinya yang tidak tepat, komposisinya yang dimodifikasi agar mirip dengan ASI, adanya tambahan zat yang berbahaya untuk bayi, dan yang paling penting adalah masalah sanitasi (air dan pencucian botol) pada pembuatan susu formula tersebut.

Beberapa waktu lalu, masalah susu formula sempat terangkat ketika ditemukannya bakteri E. Sakazaki pada susu formula bayi. Dari situ saja sebenarnya dapat terlihat bahwa tidak ada susu yang sesteril dan sebaik ASI.

Bahkan lembaga Internasional Abbot mengungkapkan bahwa susu formula yang selama ini beredar umumnya nilai gizinya tidak lebih baik dari susu hewan sekalipun. Beberapa jenis susu bahkan mengandung unsur kimia yang dihasilkan dari fermentasi jamur.

Untuk itu, ASI benar-benar harus digalakkan untuk memerangi serbuan susu formula yang bisa menggoyahkan pendirian ibu untuk menyusui, terutama karena banyak diantara produsen susu yang mengiming-imingi para ibu dengan souvenir-souvenir cantik.

Usulan didirikannya bank ASI sebenarnya lebih ditujukan untuk membantu para ibu yang mengalami bencana agar tetap dapat memberikan ASI ketimbang susu formula yang banyak sekali diberikan oleh donatur produsen susu guna mempromosikan produknya.

"Sebagian ibu yang mengalami bencana mengaku terpaksa memberikan susu formula karena kesulitan mengeluarkan ASI akibat situasi traumatik pasca bencana," ujar Asti.

Padahal menurut pengamatan UNICEF pasca gempa Yogyakarta 2006 silam, kasus diare pada bayi di bawah dua tahun yang mengonsumsi susu formula meningkat 2 kali lipat dibanding mereka yang tidak mengonsumsi susu formula.

Hampir 80 persen anak di bawah dua tahun mendapat bantuan susu formula dari donatur dan sumbangan tersebut tidak dapat terkontrol dengan baik oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Menurut Asti, yang menjadi bahaya utama susu formula adalah bahan susu itu dan cara penggunaannya. Pada Desember 2005, ditemukan susu formula yang dipalsukan, dimana setelah dicek di laboratorium kandungannya hanya tepung dan gula.

"Botol, dot dan benda lain yang digunakan dalam pemberian susu formula juga bisa jadi masalah. Jika tidak steril, benda-benda itu bisa memicu beragam bakteri berbahaya, apalagi dengan kondisi air yang sangat krisis pada saat bencana," ujar Asti.

Oleh karena itu, mendirikan bank ASI menurut Asti dapat menjadi salah satu solusi yang tepat untuk menangani kasus diare pada bayi korban bencana.

Namun hingga saat ini bank ASI masih menjadi kontroversi di Indonesia. Hal ini terkait dengan masalah agama dan kepercayaan yang dianut umat muslim di Indonesia.

Disebut-sebut bahwa adanya bank ASI menyalahi aturan mengenai saudara sepersusuan yang diatur ketat dalam agama Islam. Jika bank ASI didirikan, ada kemungkinan beberapa bayi mendapatkan air susu dari satu sumber, dan hal ini dapat meningkatkan resiko pernikahan yang diharamkan jika suatu saat sang bayi yang menyusu dari satu sumber tersebut dewasa dan menikah.

Namun Asti menjelaskan bahwa bank ASI yang sudah ada di Kuwait justru menganut kiblat Imam Syafii yang mengatakan bahwa saudara sepersusuan hanya dianggap jika bayi mendapatkan air susu langsung dari payudara yang berasal dari satu ibu, artinya jika si bayi disusukan langsung dari payudara satu ibu.

Jadi jika mengarah pada kiblat tersebut, sebenarnya bank ASI dapat didirikan karena bank ASI hanya merupakan tempat penyimpanan dan pendistribusian ASI saja, bukan tempat menyusui bayi secara langsung.

Namun dr Utami Roesli SpA, MBA, IBCLC yang menjadi salah satu narasumber pada lokakarya tersebut mengatakan bahwa pendirian bank ASI masih terlalu jauh untuk diterapkan di Indonesia. Butuh waktu dan proses yang panjang untuk mengikuti negara Kuwait yang sudah lebih dulu memiliki bank ASI.

Selain itu, kendala yang mungkin dihadapi adalah proses screening penyakit pada ibu-ibu yang akan mendonor, terutama HIV. "Pendonor harus diperiksa HIV dulu, dan tidak banyak orang yang mau melakukannya karena mungkin malu jika ketahuan, apalagi dilakukan dengan sukarela," ujar Utami.

Utami justru lebih menggencarkan program laktasi dan relaktasi untuk para ibu yang kesulitan mengeluarkan ASI karena faktor stres pasca bencana.

"Ibu-ibu korban bencana yang mendapatkan sumbangan susu formula dari produsen merasa mubazir jika produk sumbangan tersebut tidak terpakai, oleh karena itu mereka menghentikan kegiatan menyusui anaknya padahal ASI-nya masih bagus," ujar Utami.

Untuk itu, posko menyusui perlu didirikan jika terjadi bencana-bencana selanjutnya. "Disitu para ibu akan diberi konseling, motivasi dan pengetahuan tentang pentingnya menyusui bagi anak terutama di saat genting seperti bencana," jelas Utami.

Utami juga menjelaskan rencananya membuat sistem 'empowering comunity' yang menyerupai sistem rantai MLM dimana petugas-petugas kesehatan terus menggalakkan pentingnya ASI dan menolak pemberian susu formula pada bayi di bawah dua tahun, terutama untuk para ibu yang berada di daerah terpencil dan terbatas pengetahuannya tentang ASI.

"Masyarakat harus benar-benar sadar dan jangan menganggap remeh ASI, karena banyak dokter-dokter dan bidan yang dikompori oleh para produsen susu untuk menyarankan susu formula ketimbang ASI pada ibu yang baru melahirkan," ujar Utami.

"Jangan mau dibodohi iklan susu formula, karena sebaik-baiknya susu formula tidak ada yang bisa menandingi ASI, apalagi mendapatkannya gratis, tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun," tegas Utami.

Memberikan ASI pada anak adalah yang terbaik, namun yang tidak kalah penting adalah kegiatan menyusui itu sendiri karena dari situlah ikatan ibu dan anak terbentuk.

Adanya bank ASI memang penting dalam situasi tertentu, namun memang membutuhkan proses yang panjang untuk mewujudkannya. Selama kontroversi belum berakhir, sebaiknya lakukan saja apa yang bisa dilakukan sekarang.

(fah/ir)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit