detikhealth

Mengenal Penyakit Parkinson dari Mbah Joyo

Rizaldy Pinzon - detikHealth
Senin, 23/11/2009 10:40 WIB
Mengenal Penyakit Parkinson dari Mbah Joyo(Foto: directnews)
Jakarta, Mbah Joyo (64 tahun) datang ke tempat praktik dokter dengan dituntun oleh putrinya. Gerakan langkahnya lambat, badan sedikit membungkuk, langkah kakinya kecil-kecil dan diseret dan tremor (gemetaran) pada kedua tangannya.

Dokter bertanya, 'Ada keluhan apa bu?'. Bu Joyo menjawab dengan suara lirih 'Niki lho dok, kulo buyuten' (ini lho dok saya mengalami tremor). Dokter bertanya kembali 'Sudah berapa lama Bu Joyo?', lalu Bu Joyo menjawab 'Sudah lebih dari 6 bulan, dan semakin memberat'.

Dokter mempersilakan Bu Joyo ke tempat tidur periksa, dan mulai melakukan pemeriksaan fisik dan neurologi. Bu Joyo dalam kondisi yang cukup baik, tanda vitalnya pun baik. Tremor istirahat dijumpai pada kedua tangannya, namun lebih dominan pada tangan kanan. Setelah kembali ke meja, Bu Joyo bertanya, 'Saya sakit apa dok?'. Dokter menjawab 'Berdasar hasil pemeriksaan saya, ibu sakit parkinson'.

Putri Bu Joyo menyela 'Sama seperti petinju Muhammad Ali ya dok'. Dokter menjawab, 'Ya sama seperti Muhammad Ali, penyakit ini dapat dikendalikan dengan obat, namun tidak dapat sembuh sempurna tanpa obat atau tindakan medis'. Bu Joyo dengan lirih berkata 'Lha kulo niki dereng kagungan buyut, kok empun buyuten' (Lha saya ini belum punya buyut, kok sudah buyuten/tremor).

Penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif yang bersifat progresif akibat hilangnya neuron dopaminergik di daerah nigrostriatal (Olanow, 2008). Penyakit Parkinson adalah penyakit yang disebabkan adanya gangguan pada otak, yaitu pada sistem saraf pusat otak manusia mengalami kemunduran.

Pertama kali ditemukan oleh seorang dokter inggris yang bernama James Parkinson pada tahun 1887. Penyakit ini merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalami ganguan pergerakan. Penyakit Parkinson merupakan bentuk penyakit neurodegeneratif yang umum dijumpai dalam praktik sehari-hari dan memiliki prevalensi kurang lebih 1% diantara populasi berusia di atas 60 tahun (Less, 2008).

Penyakit Parkinson terjadi di seluruh dunia, jumlah penderita antara pria dan wanita seimbang. Pada 5-10 persen orang yang terjangkit penyakit parkinson, gejala awalnya muncul sebelum usia 40 tahun, tapi rata-rata menyerang penderita pada usia 65 tahun.

Penelitian terdahulu memperlihatkan masih adanya kesenjangan dalam tatalaksana penyakit parkinson. Pada umumnya ada 3 hal utama yang menjadi kesenjangan dalam tatalaksana penyakit parkinson, yaitu:

1. Kesenjangan dalam hal diagnosis (pasien didiagnosis terlambat).
2. Kesenjangan dalam mengelola gejala dan meningkatkan kualitas hidup (kurang terkenalinya gejala non motorik pada penyakit parkinson).
3. Kesenjangan dalam terapi (keseimbangan antara efektivitas dan keamanan terapi, keterbatasan teknologi terapetik, dan keterbatasan akses terhadap deep brain stimulation di banyak negara berkembang).

Penyakit parkinson secara klasik ditandai oleh 4 gejala kardinal utama yang disingkat dengan TRAP. TRAP merupakan singkatan dari:
T: Tremor (tremor muncul pada saat istirahat)
R: Rigiditas (kekakuan)
A: Akinesia/ Bradikinesia (gerakan yang lambat)
P: Postural Instability (ketidakseimbangan postural).

Sebagai sebuah penyakit neuropsikiatrik yang kompleks, gangguan sistem dopaminergik di otak tidak hanya menimbulkan gangguan motorik.

Gejala penyakit Parkinson adalah:
1. Gemetaran/tremor. Seseorang penderita penyakit parkinson pada saat beristirahat atau tidak melakukan aktivitas akan mengalami gemetaran. Gemetaran yang timbul dapat terjadi pada tangan, kaki, rahang, atau kapala.
2. Kekakuan. Penderita akan mengalami rasa kaku pada otot, rasa sakit pada bahu, leher, dan sendi-sendi sehingga sulit untuk bergerak.
3. Hilangnya refleks postural. Penderita akan mengalami ganguan keseimbangan tubuh dan mudah roboh.
4. Kebekuan. Gejala ini mengacu terhadap ketidakmampuan untuk melakukan pergerakan yang aktif. Ketika akan berjalan, memutar, berjalan melalui jalan yang sempit penderita akan sulit utuk melakukannya.
5. Gejala nonmotor (tidak berhubungan dengan pergerakan).

Gangguan motorik hanya merupakan puncak gunung es dari penyakit parkinson. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa nyeri, depresi, gangguan tidur, dan gangguan otonom sangat sering dijumpai pada penyakit parkinson.

Depresi dilaporkan berkisar antara 30%-40% pada pasien dengan penyakit parkinson (Lemke, 2007). Nyeri dilaporkan berkisar antara 60%-80%. Gangguan memori ditemukan pada kurang lebih 50% pada saat awal diagnosis, namun seringkali tidak terdeteksi. Berbagai gejala non motor tersebut sangat sering tidak terdiagnosis dan tidak terkelola dengan baik (Poewe, 2009).

Gejala non motorik seringkali terabaikan dan tidak diterapi secara adekuat. Gangguan tidur merupakan keluhan yang umum dijumpai di praktek. Gangguan fungsi saraf otonom berupa hipotensi orthostatik (yang berdampak mudah roboh) dan konstipasi juga seringkali dijumpai pada penyakit parkinson (Jost, 2008). Perhatian lebih terhadap keluhan subyektif pasien perlu dilakukan untuk berbagai gejala non motorik ini.

Penyebab dan diagnosis penyakit Parkinson

Penyakit parkinson terjadi ketika sel saraf atau neuron di dalam otak yang disebut substantia nigra mati atau menjadi lemah. Secara normal sel ini menghasilkan bahan kimia yang penting di dalam otak yang disebut dopamin. Dopamin adalah suatu bahan kimia yang dapat menghantarkan sinyal-sinyal listrik diantara substantia nigra dan di sepanjang jalur sel saraf yang akan membantu menghasilkan gerakan tubuh yang halus.

Ketika kira-kira 80 persen sel yang memproduksi dopamine rusak, gejala penyakit parkinson akan tampak. Kerusakan sel penghasil dopamin dipicu oleh karena degenerasi akibat usia, trauma, atau toksin.

Diagnosais penyakit parkinson didasarkan dengan pengambilan data-data riwayat pasien secara hati-hati dan dengan pemeriksaan fisik pasien yang dikaitkan dengan gejala-gejalanya. Hingga saat ini belum ditemukan test laboratorium atau alat pencitraan (radiologi) yang dapat mengkonfirmasi penyakit parkinson.

Pencitraan resonansi magnetik atau yang dikenal dengan MRI mungkin menunjukan kondisi lain yang mempunyai gejala serupa dengan penyakit parkinson. Oleh karena itu pasien yang mempunyai gejala-gelaja serupa disarankan utuk mencari seorang ahli saraf pada penyakit parkinson.

Perawatan Penyakit Parkinson

Perawatan pada penderita penyakit parkinson bertujuan untuk memperlambat dan menghambat perkembangan dari penyakit itu. Perawatan ini dapat dilakukan dengan pemberian obat dan terapi fisik seperti terapi berjalan, terapi suara/berbicara dan pasien diharapkan tetap melakukan kegiatan sehari-hari.

Penyakit parkinson merupakan penyakit neurodegenratif yang kronik dan progresif. Esesmen dan tatalaksana yang tepat diperlukan untuk memperbaiki gejala, menghambat perjalanan penyakit, dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Berbagai upaya perbaikan dalam terapi farmaka dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita parkinson.

Penulis
Rizaldy Pinzon, dr, MKes, SpS
Anggota Movement Disorder Society dan bekerja di RS Bethesda Yogyakarta
(ir/ir)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit