detikhealth

Melawan Virus Bersama Eijkman

Nurul Ulfah - detikHealth
Jumat, 11/12/2009 15:05 WIB
Melawan Virus Bersama Eijkman(dok. ACME)
Jakarta, Berdiri di kompleks rumah sakit paling ramai se-Indonesia,--Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)--, tak membuat nama lembaga penelitian Eijkman populer di masyarakat. Hanya segelintir orang yang tahu ada lembaga tersebut meski cuma sekedar tahu nama.

Wajar jika masyarakat belum mengenalnya, selain jarang terekspose seperti Namru, dulu Eijkman memang terkesan seperti tempat penelitian di gedung tua, setua alat-alat laboratoriumnya.

Lembaga Biologi Molekul Eijkman nama panjangnya, tapi cukup dengan menyebut Eijkman akan langsung tertuju pada tempat penelitian di Jalan Diponegoro Jakarta itu. Karena memang Eijkman cuma satu-satunya lembaga penelitian di Indonesia yang memakai nama itu.

Eijkman punya posisi yang strategis di dalam dunia penelitian Indonesia. Lembaga yang didirikan oleh Christian Eijkman pada tahun 1888 itu bekerja dalam penelitian biologi molekul terutama kaitannya dengan diagnostik pengobatan maupun pencegahan penyakit.

Kini Eijkman mulai berbenah bukan sekedar lembaga yang berdiri di gedung tua tapi sudah menjadi lembaga dengan fasilitas moderen dan berteknologi canggih. Eijkman akan berpacu meneliti ilmu biologi molekuler yang menjadi inti pengembangannya sehingga tak ada virus yang tak bisa dilawan.

"Aplikasi dari biologi molekul sangat luas, bukan hanya dalam penanganan penyakit infeksi tapi juga dalam bidang penyakit genetik dan forensik," kata Dr Herawati Sudoyo, Deputi Direktur Lembaga Biologi Molekul Eijkman dalam acara seminar 'Membahas Biologi Molekul untuk Kesejahteraan Rakyat' di Lembaga Biologi Molekul Eijkman, Jakarta, Jumat (11/12/2009).

Meski masih terdengar awam di telinga masyarakat, tapi ilmu biologi molekuler sangat penting dan bermanfaat untuk menyelesaikan setiap masalah yang muncul, mulai dari penanganan penyakit, memerangi terorisme, mencegah perdagangan manusia dan lainnya.

"Banyak sekali kegunaan science, untuk itulah lembaga riset seperti Eijkman ini perlu dikembangkan dan dikenalkan pada masyarakat," kata David Mulyono, seorang peneliti dari lembaga Eijkman.

Yang menjadi masalah saat ini adalah penelitian-penelitian lokal masih jarang yang diekspose oleh kalangan dalam negeri sendiri, padahal banyak karya penelitian yang dihasilkan lembaga Eijkman yang diakui secara internasional.
"Lembaga ini harus terhubung dengan industri. Tidak cukup kita jadi jago di kandang sendiri," tambah David.

Ancaman virus kata David, saat ini sudah mulai menyebar dan polanya bukan hanya di daerah pesisir saja tapi mulai masuk ke daerah dingin.

"Seiring menurunnya kualitas lingkungan dan meningkatnya suhu bumi, virus akan lebih mudah bermutasi. Yang tadinya virus itu hanya tidur di alam, tapi karena lingkungannya rusak maka bisa muncul ke permukaan. Dunia yang sedang out of balance ini akan memunculkan penyakit-penyakit baru. Tantangan ke depan adalah bagaimana mengatasi meledaknya penyakit degeneratif dan genetik," ujar David.

Untuk itu, lembaga riset Eijkman perlu terus didukung oleh pemerintah dan swasta jika ingin menyaingi peneliti-peneliti luar. "Kita butuh leadership yang baik untuk mengembangkan lembaga ini," kata David.

(fah/ir)


Ikuti survei online detikHealth berhadiah paket dari SOHO dan merchandise di sini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit