Robert Koch: Penemu Bakteri TBC

Paruresis, si Penakut Toilet Umum

Vera Farah Bararah - detikHealth
Kamis, 25/03/2010 07:40 WIB
Paruresis, si Penakut Toilet UmumIlustrasi (Foto: mentalhelp.net)
Maryland, AS , Beberapa orang tertentu ada yang sangat takut untuk menggunakan kamar mandi umum yang dikenal dengan istilah shy bladder syndrome atau paruresis. Ketakutan yang aneh ini membuat penderitanya sulit beraktivitas di luar rumah.

Shy bladder syndrome telah mempengaruhi sekitar 17 juta orang Amerika, penderita sindrom ini biasanya akan berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri dari buang air kecil atau besar saat berada di tempat kerja, sekolah atau saat menjalani aktivitasnya.

"Sindrom ini kini telah menjadi isu global dan membuatnya menjadi salah satu yang paling umum dari fobia sosial," ujar Profesor Steven Soifer dari University of Maryland, seperti dikutip dari AOLNews, Kamis (25/3/2010).

Prof Soifer menuturkan ketakutan ini mungkin agak terdengar lucu, tidak masuk akal atau hanya sesuatu hal yang bodoh. Tapi sindrom ini lebih dari sekedar itu, seseorang yang mengalaminya harus mendapatkan pertolongan agar terbebas dari rasa takut ini.

Bagi orang yang memiliki shy bladder syndrome akan mengalami dilema yang menyakitkan dan memalukan, seperti:

  1. Seseorang harus menunggu untuk buang air kecil sampai dirinya berada di rumah.
  2. Gangguan ini akan membuat hidup dan aktivitasnya menjadi terbatas, seperti harus mencari pekerjaan yang dekat dengan rumahnya, tidak bisa pergi jauh atau menggunakan pesawat, sering dianggap sebagai kelakuan yang aneh serta tidak peduli seberapa besar usahanya untuk menahan buang air kecil yang bisa membuatnya tidak nyaman dan menyakitkan.

Bila kelainan yang dimilikinya masih ringan, maka kemungkinan masih bisa buang air kecil di tempat umum meskipun timbul rasa tidak nyaman. Tapi bila sangat parah, tentu akan benar-benar mengubah dan membatasi aktivitas dan kehidupannya.

Pada dasarnya shy bladder syndrome ini adalah suatu gangguan kecemasan. Karena adanya kecemasan yang terus menerus ditambah dengan rasa malu, maka seseorang akan mengecangkan otot sfingter urin yang akan menjaga ketat agar urin tidak keluar. Keharusan bagi otot sfingter untuk menekan ini dilakukan di bawah alam sadar dan bukan suatu pilihan.

Hingga kini belum dapat diketahui dengan pasti apa penyebab dari shy bladder syndrome. Laki-laki dan perempuan diketahui memiliki jumlah yang sama dalam hal gangguan ini.

Jika gangguan ini berlangsung terus menerus, maka sangat mungkin menimbulkan penyakit pada organ yang berhubungan langsung dengan proses pengeluaran urin seperti ginjal, uretra atau kandung kemih.

Namun ada beberapa pilihan pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini, yaitu:

1. Terapi perilaku kognitif akan sangat bermanfaat dalam mengatasi hal ini. Dengan cara ini, seseorang dibantu untuk mengubah pikiran dan perasaannya mengenai buang air kecil di kamar mandi umum.

2. Desensitisasi sistematis, yaitu terapi yang digunakan untuk membantu pasien mengambangkan asosiasi menyenangkan. Ketika benar-benar tenang, seseorang akan mengerti perlunya buang air kecil di kamar mandi yang jauh dari rumah.

3. Mengajarkan teknik relaksasi yang berguna untuk mengatur pernapasan, relaksasi otot serta membayangkan sesuatu yang menyenangkan atau santai.

4. Memberikan obat anti-kecemasan sebagai jalan terakhir, karena jika terlalu sering pakai obat ini dapat menimbulkan kecanduan yang berbahaya.

(ver/ir)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit