
-
Selasa 22/05/2012 20:10 WIB
Plus Minus Melakukan Phone Sex dengan Pasangan -
Selasa 22/05/2012 19:33 WIB
Latihan untuk Pria Agar Bisa Orgasme Berkali-kali -
Selasa 22/05/2012 19:07 WIB
Serangan Stroke Tak Bisa Ditangani Sendiri, Segera ke Rumah Sakit -
Selasa 22/05/2012 18:27 WIB
Istri Keluarkan Banyak Cairan Saat Bercinta, Wajarkah? -
Selasa 22/05/2012 18:32 WIB
Aksi CSR Rokok Hanya untuk Cari Muka - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 471.000
-
Rp 2,790.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
6 Makanan Peletup Gairah Seks
Jangan heran jika ada yang mengatakan bila makanan adalah salah satu rahasia cinta. Berikut ini enam makanan yang dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Selasa, 22/05/2012 12:01 WIB
Pasca Operasi, Dokter Pakai Semen untuk Menambal Dada Pasien
Posted : matsukoArtikel terkait :
- Mengatasi Cegukan Pada Bayi
- Waspadai Penyakit Hodgkins Pada Anak-anak
- Apa yang Paling Dikhawatirkan Anak-anak?
- Adan Kini Terbebas dari 'Dunia Sepi' Tuna Rungu
- Alergi Kulit
- Blefaritis
- Buang Gas
Info Penyakit :
- Amoxicillin 125 mg/5 ml Sirker
- Benidipine
- Citicoline
Info Obat :
Impian Bocah Berotak Sebelah Menjadi Balerina
Vera Farah Bararah - detikHealth
Cameron Mott (Foto: dailymail)
Meski punya otak cuma sebelah gadis cilik ini tetap berkeingingan menjadi penari balet alias balerina. Punya otak sebelah tak membuat Cameron ciut untuk menjadi balerina.
Cameron diketahui mengalami kelainan sindrom Rasmussen saat berusia tiga tahun, penyakit ini telah menggerogoti sisi kanan dari otaknya. Kondisi ini memicu terjadinya epilepsy dan kejang-kejang, hingga akhirnya dokter sepakat untuk mencegah hal tersebut dengan cara mengeluarkan setengah otaknya.
"Hal itu sangat menakutkan, karena Anda tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan anak Anda setelah operasi otak ini," ujar Shelly Mott, sang bunda, dilansir dari Dailymail, Minggu (28/3/2010).
Shelly menambahkan bahwa operasi tersebut adalah pilihan yang tepat dan merupakan satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan untuk membantunya menjadi lebih baik dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Kini Cameron baru saja selesai melakukan fisioterapi dan sudah dapat berjalan serta bermain, meskipun masih terlihat pincang dan kehilangan sebagian dari penglihatan tepinya.
Dokter pun menyadari bahwa mengeluarkan sisi kanan dari otaknya yang berfungsi mengontrol sisi kiri tubuhnya, akan membuatnya menjadi lumpuh saat selesai melakukan operasi.
Meski tahu kondisi tubuhnya yang tidak sempurna, Cameron selalu berkata, "Saya ingin menjadi balerina'. Kini Cameron harus berjuang keras untuk penyembuhannya agar bisa segera menjadi balerina.
Dokter mengatakan bahwa otak anak-anak mampu melakukan pemasangan ulang (rewiring) diri mereka sendiri dan mencoba untuk mengambil alih fungsi.
Empat minggu setelah operasi, Cameron sudah bisa keluar dari rumah sakit. Saat ditanya apakah ada efek samping dari operasi ini, "Tidak ada sama sekali dan saya tetap ingin menjadi seorang balerina saat saya besar nanti," jawabnya.
Seperti dikutip dari Medicinenet, sindrom Rasmussen adalah suatu kelainan otak yang disebabkan oleh peradangan sel-sel otak di salah satu bagiannya. Hingga kini belum dapat diketahui dengan jelas apa penyebabnya.
Sindrom ini menyebabkan penderitanya seringkali mengalami kejang-kejang yang tidak dapat dikontrol oleh obat-obatan. Akibatnya lama kelamaan otak akan mengalami penyusutan (atrofi). Peradangan kemungkinan akan berhenti dengan sendirinya, tapi kerusakan yang diakibatkannya tidak bisa diperbaiki.
Kelainan otak ini menyebabkan seseorang mengalami kejang-kejang yang parah, kehilangan keterampilan motorik dan berbicara, hemiparesis (kelumpuhan salah satu sisi tubuh), radang otak, kepikunan serta kemunduran mental. Kelainan ini biasanya hanya terjadi di salah satu bagian otak dan umumnya menyerang anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Pengobatan yang biasa dilakukan untuk mengobatinya adalah melakukan operasi untuk menghilangkan bagian otak yang terkena peradangan (hemispherectomy). Obat anti-epilepsi tidak akan efektif untuk jangka panjang dalam mengendalikan kejang. Alternatif lain yang bisa dilakukan adalah diet ketogenik (tinggi lemak dan rendah karbohidrat) serta obat steroid.
Jika kelainan otak ini tidak segera diobati, maka dapat mengakibatkan defisit neurologis yang parah termasuk keterbelakangan mental dan kelumpuhan.
Pada beberapa pasien yang sudah menjalani operasi mengalami pengurangan frekuensi kejang, meskipun kebanyakan pasien mengalami gangguan dalam berbicara. Namun, hingga kini operasi masih menjadi salah satu pilihan yang tep
(ver/ir)
BACA JUGA :









