
-
Selasa 22/05/2012 20:10 WIB
Plus Minus Melakukan Phone Sex dengan Pasangan -
Selasa 22/05/2012 19:33 WIB
Latihan untuk Pria Agar Bisa Orgasme Berkali-kali -
Selasa 22/05/2012 19:07 WIB
Serangan Stroke Tak Bisa Ditangani Sendiri, Segera ke Rumah Sakit -
Selasa 22/05/2012 18:27 WIB
Istri Keluarkan Banyak Cairan Saat Bercinta, Wajarkah? -
Selasa 22/05/2012 18:32 WIB
Aksi CSR Rokok Hanya untuk Cari Muka - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 2,790.000
-
Rp 471.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
6 Makanan Peletup Gairah Seks
Jangan heran jika ada yang mengatakan bila makanan adalah salah satu rahasia cinta. Berikut ini enam makanan yang dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Selasa, 22/05/2012 12:01 WIB
Pasca Operasi, Dokter Pakai Semen untuk Menambal Dada Pasien
Posted : matsuko
Kamis, 20/05/2010 13:30 WIB
ilustrasi (Foto: urologyoffice.com)Jakarta, Normalnya bayi laki-laki yang baru lahir memiliki dua buah testis (buah zakar). Tapi pada beberapa kasus tertentu, seorang anak hanya memiliki satu testis. Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal ini?
Selama pertumbuhannya di dalam rahim, testis seharusnya mulai turun ke skrotum (buah zakar) jika sudah mendekati waktu kelahirannya. Tapi untuk kasus tertentu kondisi ini tidak terjadi dan menyebabkan testis tidak turun atau dikenal dengan istilah undescended testicles (cryptorchidism).
Kondisi tidak normal ini merupakan hal yang umum terjadi pada anak laki-laki, biasanya terjadi pada 30 persen anak yang lahir prematur dan sekitar 4 persen yang lahir pada waktu normal.
Secara normal testis sudah turun sejak anak baru lahir. Namun pada kasus ini testis berada tidak pada tempat yang seharusnya dan bisa mengganggu spermatogenesis (pembentukan sperma) sehingga akan mempengaruhi kesuburan seorang laki-laki.
Seperti dikutip dari Kidshealth, Kamis (20/5/2010) kondisi ini bisa didiagnosis dengan melakukan pemeriksaan fisik pada saat lahir atau pada pemeriksaan selanjutnya. Testis yang tidak turun ini akan terasa saat dokter meraba untuk pemeriksaan fisik. Dalam beberapa kasus testis mungkin tidak berada di lokasi tempat biasanya testis teraba dan tampak seperti hilang, tapi kemungkinan testis berada di dalam perut atau hilang ketika bayi berada di dalam rahim.
Bila testis yang turun ke skrotum (kantung zakar) hanya satu tapi tidak ditemukan adanya kelainan kelamin, maka orangtua dapat menunggu kondisi ini hingga 6 bulan yang diharapkan testis akan turun sendiri.
Hingga kini belum diketahui dengan pasti apa penyebab testis tidak turun, tapi diperkirakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi ini seperti gangguan hormon pada ibu dan janin yang dikandung atau adanya suatu penyumbatan di lipat paha (kanalis inguinalis) yang membuat testis tidak bisa turun ke skrotum.
Diungkapkan oleh dr Aditya Suryansyah, SpA dalam rubrik konsultasi detkHealth bahwa bila testis belum juga turun setelah 6 bulan atau disertai dengan kelainan kelamin, maka segera diperlukan tindakan karena ditakutkan adanya kelainan pada alat kelamin. Pemeriksaan yang dilakukan adalah ultrasonografi (USG) atau MRI dan pemeriksaan hormon. Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah testis tersebut ada dan adakah kelainan di dalam rongga perut.
Dahulu tindakan yang dilakukan adalah melakukan operasi, tapi seiring kemajuan teknologi kini bisa dilakukan pemberian hormon HcG untuk membantu menurunkan testis. Tapi bila usia anak sudah di atas 2 tahun, maka harus segera dilakukan operasi dan jangan ditunda. Karena testis yang terlalu lama berada di rongga perut tidak baik atau dapat rusak, dan dalam jangka panjang ditakutkan bisa menimbulkan keganasan (kanker testis).
Testis berfungsi untuk menghasilkan hormon testosteron yang membantu perkembangan anak laki-laki saat memasuki usia pubertas dan juga untuk memproduksi sperma. Sehingga jika hal ini tidak segera ditangani nantinya bisa mengganggu kesuburan anak saat dewa
(ver/ir)
Jika Satu Testis Anak Tidak Turun
Vera Farah Bararah - detikHealth
ilustrasi (Foto: urologyoffice.com)
Selama pertumbuhannya di dalam rahim, testis seharusnya mulai turun ke skrotum (buah zakar) jika sudah mendekati waktu kelahirannya. Tapi untuk kasus tertentu kondisi ini tidak terjadi dan menyebabkan testis tidak turun atau dikenal dengan istilah undescended testicles (cryptorchidism).
Kondisi tidak normal ini merupakan hal yang umum terjadi pada anak laki-laki, biasanya terjadi pada 30 persen anak yang lahir prematur dan sekitar 4 persen yang lahir pada waktu normal.
Secara normal testis sudah turun sejak anak baru lahir. Namun pada kasus ini testis berada tidak pada tempat yang seharusnya dan bisa mengganggu spermatogenesis (pembentukan sperma) sehingga akan mempengaruhi kesuburan seorang laki-laki.
Seperti dikutip dari Kidshealth, Kamis (20/5/2010) kondisi ini bisa didiagnosis dengan melakukan pemeriksaan fisik pada saat lahir atau pada pemeriksaan selanjutnya. Testis yang tidak turun ini akan terasa saat dokter meraba untuk pemeriksaan fisik. Dalam beberapa kasus testis mungkin tidak berada di lokasi tempat biasanya testis teraba dan tampak seperti hilang, tapi kemungkinan testis berada di dalam perut atau hilang ketika bayi berada di dalam rahim.
Bila testis yang turun ke skrotum (kantung zakar) hanya satu tapi tidak ditemukan adanya kelainan kelamin, maka orangtua dapat menunggu kondisi ini hingga 6 bulan yang diharapkan testis akan turun sendiri.
Hingga kini belum diketahui dengan pasti apa penyebab testis tidak turun, tapi diperkirakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi ini seperti gangguan hormon pada ibu dan janin yang dikandung atau adanya suatu penyumbatan di lipat paha (kanalis inguinalis) yang membuat testis tidak bisa turun ke skrotum.
Diungkapkan oleh dr Aditya Suryansyah, SpA dalam rubrik konsultasi detkHealth bahwa bila testis belum juga turun setelah 6 bulan atau disertai dengan kelainan kelamin, maka segera diperlukan tindakan karena ditakutkan adanya kelainan pada alat kelamin. Pemeriksaan yang dilakukan adalah ultrasonografi (USG) atau MRI dan pemeriksaan hormon. Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah testis tersebut ada dan adakah kelainan di dalam rongga perut.
Dahulu tindakan yang dilakukan adalah melakukan operasi, tapi seiring kemajuan teknologi kini bisa dilakukan pemberian hormon HcG untuk membantu menurunkan testis. Tapi bila usia anak sudah di atas 2 tahun, maka harus segera dilakukan operasi dan jangan ditunda. Karena testis yang terlalu lama berada di rongga perut tidak baik atau dapat rusak, dan dalam jangka panjang ditakutkan bisa menimbulkan keganasan (kanker testis).
Testis berfungsi untuk menghasilkan hormon testosteron yang membantu perkembangan anak laki-laki saat memasuki usia pubertas dan juga untuk memproduksi sperma. Sehingga jika hal ini tidak segera ditangani nantinya bisa mengganggu kesuburan anak saat dewa
(ver/ir)
BACA JUGA :









