
-
Rabu 23/05/2012 09:04 WIB
Begini Cara Kerja di Mak Erot dan On Clinic -
Rabu 23/05/2012 09:35 WIB
Seperti Apa Gejala Awal Kanker Anus? -
Rabu 23/05/2012 10:18 WIB
Apa Bahayanya Bila Tak Punya Kantung Empedu? -
Rabu 23/05/2012 08:32 WIB
10 Cara Alami Mengatasi Serangan Semut -
Rabu 23/05/2012 07:49 WIB
Dari Mak Erot Hingga On Clinic, Semua Demi 'si Anu' - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 469.000
-
Rp 2,796.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
Cara Menghilangkan Bau Badan
Cara mengilangkan bau badan erat hubungannya dengan penyebab dari dalam, dalam hal ini adalah makanan. Kurangi konsumsi makanan dengan bumbu yang mempunyai aroma menyengat
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Selasa, 22/05/2012 12:01 WIB
Pasca Operasi, Dokter Pakai Semen untuk Menambal Dada Pasien
Posted : matsukoArtikel terkait :
- Fobia Takut Jelek Karena Korban Olok-olok
- Menganalisa Gangguan Mental Bella dan Edward
- Mati Karena Ketakutan
- Makan Sambil Nyetir Berisiko Kena Bakteri
- Alkoholik
- Amoebiasis
- Alzheimer
Info Penyakit :
- Acipimox
- Bezafibrate
- Albendazole
Info Obat :
Makanan Kaleng Diduga Banyak Terpapar BPA
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Ilustrasi (Foto: getty image)
Selama ini, BPA diketahui banyak terdapat di botol plastik. Studi terbaru menemukan bahwa ternyata paparan BPA diduga lebih banyak pada makanan yang dikemas dalam kaleng, seperti sarden, minuman kaleng, susu formula, cornet, buah kaleng, dan lainnya, ketimbang makanan yang dikemas dengan botol plastik.
"Paparan BPA makanan kaleng jauh lebih luas daripada botol plastik," ujar Shanna Swan, seorang profesor dan peneliti di University of Rochester di New York, seperti dilansir dari Foxnews, Kamis (10/6/2010).
BPA merupakan senyawa kunci lapisan resin epoksi (epoxy resin) yang menjaga makanan tetap segar dan mencegah makanan tersebut berinteraksi dengan logam dan perubahan rasa.
Seperti dikutip dari Reuters, dari beberapa studi, BPA tidak hanya dikaitkan dengan kanker, tetapi juga obesitas, diabetes, penyakit jantung, kerusakan saraf, impotensi bahkan hingga kematian.
Pada makanan kaleng, lapisan tipis resin epoksi berada di antara makanan dan kaleng, yang membantu menjaganya tidak saling berinteraksi dan mencegah proses karat.
Resin ini disemprotkan ke dalam kaleng dan dapat mengering seketika. Ribuan perusahaan minuman besar internasional diduga menggunakannya untuk melapisi kemasan kaleng produksi mereka.
Tanpa lapisan resin ini, makanan yang dikemas akan lebih cepat hancur. Kaleng yang kurang senyawa kimia ini pun akan meledak di rak-rak toko bila kaleng tersebut bereaksi dengan logam.
Pertama kali disintesis pada tahun 1891, BPA adalah pengeras komersial, yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari perahu plastik hingga alat penghitung uang.
Sebagai senyawa penting dalam lapisan resin epoksi, BPA bertindak sebagai bagian dari dasar polimer kompleks, dan pertama kali digunakan pada tahun 1940 dalam makanan kaleng.
Yang lebih mengkhawatirkan, menurut Prof Swan, paparan BPA diduga paling banyak ditemukan pada kemasan kaleng susu formula, baik susu formula untuk balita maupun ibu hamil.
Hugh Taylor, seorang profesor dan peneliti di Universitas Yale yang membantu memimpin penelitian tentang BPA mengatakan, bahan kimia ini mengubah cara merespons gen estrogen dan membuka peluang bayi di dalam rahim terkena kanker di kemudian hari.
"Saya mengatakan pada pasien hamil saya untuk menghindari produk yang mengandung senyawa berbahaya ini. Bahkan paparan singkat pada kehamilan dapat menyebabkan kerusakan permanen," ujar Hugh Taylor yang juga merupakan seorang ginekolog.
Karena BPA telah dianggap aman sejak lama untuk kemasan kaleng, hanya sedikit penelitian yang dilakukan untuk dapat menemukan pengganti senyawa yang ternyata berbahaya ini.
"Saat ini, tidak ada resin epoksi jenis lain yang dapat memberikan tingkat keamanan pangan, stabilitas durasi, dan efektivitas biaya untuk mempertahankan daya simpan buah dan sayuran dalam kaleng," ujar Steve Russell, kepala divisi plastik untuk American Chemistry Council, sebuah grup perdagangan industri.
Namun, hal ini tidak terjadi pada botol plastik. Dalam industri, penggantian BPA dalam botol plastik jauh lebih mudah. Alternatif untuk plastik dengan BPA, seperti polietilen yang paling sering digunakan untuk membuat tas belanja, dan polypropylene, yang membuat b
(mer/ir)
BACA JUGA :









