
-
Rabu 23/05/2012 14:25 WIB
Masalah-masalah Kejantanan yang Bikin Pria Frustasi -
Rabu 23/05/2012 12:58 WIB
'Gadis Mutan', Tubuhnya Keluarkan Panas yang Bisa Membakar -
Rabu 23/05/2012 15:00 WIB
Mitos Lebih Dipercaya, Dimana sang Pencerah Seks? -
Rabu 23/05/2012 13:18 WIB
Ramuan Tradisional Unik yang Konon Ampuh Bikin Perkasa -
Rabu 23/05/2012 13:46 WIB
Agar Tak Malu ke On Clinic, Pasien Tak Saling Ketemu Muka - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 469.000
-
Rp 6,049.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
Cara Menghilangkan Bau Badan
Cara mengilangkan bau badan erat hubungannya dengan penyebab dari dalam, dalam hal ini adalah makanan. Kurangi konsumsi makanan dengan bumbu yang mempunyai aroma menyengat
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Rabu, 23/05/2012 11:55 WIB
Duh, 91% Remaja Merokok Karena Terpengaruh Iklan
Posted : matsukoArtikel terkait :
- Akibat Tak Cuci Tangan Setelah Pipis dan BAB
- Jangan Pap Smear Sebelum 21 Tahun
- Payung Pantai Tak Mampu Lindungi Paparan Radiasi Ultraviolet
- Terapi Tulisan untuk Mendeteksi Masalah Kepribadian
- Atrofi Vagina
- Ablepharon-Macrostomia Syndrome (AMS)
- Aphasia
Info Penyakit :
- Antasid
- Cotrimoxazole 480 mg
- Cefradine
Info Obat :
Mandi Dulu Sebelum Berenang Agar Tak Mencemari Kolam
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi (Washington.or.us)
Produk-produk tersebut mengandung banyak unsur nitrogen, yang ketika bereaksi dengan kaporit atau disinfektan lainnya bisa membentuk senyawa beracun. Diduga, senyawa tersebut dapat memicu mutasi genetik pada manusia.
Dikutip dari Livescience, Jumat (23/7/2010), risiko yang muncul akibat mutasi tersebut ternyata cukup serius. Mulai dari cacat lahir, penuaan dini, gangguan pernapasan, bahkan bisa memicu kanker.
Seorang profesor genetika, Michael Plewa mengungkap hal itu dalam sebuah penelitian di University of Illinois. Laporannya telah dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science and Technology.
Ia mengumpulkan sampel air dari sejumlah kolam renang umum yang menggunakan berbagai jenis disinfektan seperti brominate, klorin dan radiasi sinar ultraviolet. Ia juga membandingkan kadar pencemaran pada kolam indoor dengan kolam outdoor.
Setelah diamati dengan teknologi molekuler, kadar genotoksin atau senyawa pemicu kerusakan DNA lebih banyak ditemukan pada air yang menggunakan brominat sebagai penjernih. Penggunaan klorin dan radiasi sinar ultraviolet relatif lebih aman.
Selain itu, aktivitas genotoksin juga lebih banyak teramati pada sampel air yang diambil dari kolam indoor. Namun Prof Plewa tidak menjelaskan mengapa kolam di ruangan terbuka lebih aman dari risiko pencemaran yang memicu kerusakan genetik.
Ia hanya menganjurkan pengelola kolam renang untuk mengganti air kolam secara berkala dan mengombinasikan penggunaan disinfektan dengan radiasi sinar ultraviolet. Selain itu, pengunjung yang ingin berenang juga disarankan untuk mandi terlebih dahulu agar bebas dari sisa-sisa produk kecantikan.
Sebelumnya, sebuah penelitian di Belgia pernah mengungkap bahaya penggunaan kaporit di kolam renang. Pada beberapa anak yang sensitif, bahan tersebut dapat memicu serangan asma.
Kaporit juga dapat bereaksi dengan senyawa organik yang berasal dari sampah dedaunan, keringat maupun air kencing. Reaksi tersebut menghasilkan senyawa yang dapat memicu iritasi mata, kulit dan saluran p
(up/ir)
BACA JUGA :









