detikhealth

Pedoman Baru CPR, Tak Perlu Lagi Napas Buatan Mulut ke Mulut

Vera Farah Bararah - detikHealth
Selasa, 19/10/2010 10:22 WIB
Pedoman Baru CPR, Tak Perlu Lagi Napas Buatan Mulut ke Mulut(Foto: thinkstock)
Jakarta, Teknik Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau pernapasan buatan yang paling dikenal orang adalah bantuan napas dari mulut ke mulut. Kini dengan pedoman baru CPR, bantuan napas dari mulut ke mulut tidak diperlukan lagi.

Pertolongan pertama dengan cara CPR telah ada sejak 50 tahun lalu. Tapi kini dengan pedoman baru CPR, teknik yang diutamakan adalah yang berhubungan dengan paru-paru (pulmonary) bukan napas dari mulut ke mulut.

American Heart Association menuturkan memberikan pemompaan keras dan cepat ke dada lebih efektif dan dapat menyelamatkan hidup ketimbang napas buatan mulut ke mulut. Cara ini akan membuat darah yang kaya oksigen mengalir ke otak sambil menunggu tenaga medis datang.

"Penekanan pada dada adalah bagian paling penting dari CPR. Perubahan yang utama adalah beralih dari membuka saluran napas dan memberikan bantuan pernapasan menjadi penekanan atau pemompaan pada dada," ujar Dr Michael Sayre, juru bicara American Heart Association, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (19/10/2010).

Studi terbaru menunjukkan bahwa CPR tanpa bantuan pernapasan akan bekerja lebih baik dibandingkan dengan versi CPR lengkap yang banyak dilakukan pada orang yang menderita jantung.

Dengan penekanan pada pemompaan dada diklaim akan membuat lebih banyak orang mau melakukan CPR dan memberikan pertolongan pada orang yang terkena serangan jantung.

Rata-rata jumlah pompaan minimal adalah 100 kompresi per menit. Yang kecepatnnya kebetulan sama dengan lagu disko Bee Gees 'Staying Alive' yang populer tahun 1977.

Setiap kompresi (pemberian tekanan yg tinggi) memiliki kedalaman sekitar 5 cm pada orang dewasa dan anak-anak, serta 3 cm pada bayi. Hal yang sangat penting lainnya adalah membiarkan dada kembali ke posisi semula dan tidak menyandarkan tangan di dada.

"Jika melihat seseorang tiba-tiba terjatuh, misalnya satu menit mereka berjalan dan berbicara lalu di menit berikutnya jatuh ke tanah maka kemungkinan besar itu adalah serangan jantung. Jika korban tidak bernapas atau napasnya tidak normal, maka tekan atau goyangkan bahunya untuk membangunkan. Jika tidak juga bangun, kami sarankan memulai penekanan dada dan menelepon 911," ujar Sayre.

Sayre menambahkan jika seseorang melakukan CPR pada korban yang tiba-tiba jatuh tapi bukan karena serangan jantung maka biasanya korban akan terbangun.

Lima tahun setelah para pejabat kesehatan mulai mempromosikan teknik ini, kemungkinan penyelamatan terhadap serangan jantung akan naik dua kali lipat dan mencapai 10 persen.

Bagi orang yang terlatih dengan CPR konvensional, dalam pedoman baru ini merekomendasikan juga untuk memberikan dua napas buatan setelah 30 penekanan dan kemudian mengulangi siklus kembali.

Pertolongan seperti itu sangat berguna bagi sebagian besar anak-anak dan orang-orang yang tenggelam, karena pemompaan yang dilakukan akan membuat oksigen mengalir di dalam darah.

Tapi bagi orang yang mengalami serangan jantung akibat pembuluh darahnya tersumbat, maka penting bagi orang tersebut untuk menjaga agar darah tetap mengalir tanpa ada gangguan yang cukup dengan pemompaan di dada.

(ver/ir)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit