
-
Rabu 23/05/2012 19:28 WIB
Sstt, Ini Tabu Lho Tapi Penting! -
Rabu 23/05/2012 15:51 WIB
Alat-alat yang Dipercaya Bisa Besarkan Ukuran Kelamin Pria -
Rabu 23/05/2012 18:01 WIB
Antibodi untuk Hentikan Virus HIV Ada di Dalam ASI -
Rabu 23/05/2012 18:28 WIB
Pegowes yang Pakai Helm Bisa Bersepeda Lebih Kencang -
Rabu 23/05/2012 17:31 WIB
Tumor Sebesar Bola Sepak Berhasil Diangkat dari Pria Ini - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 469.000
-
Rp 6,049.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
Cara Menghilangkan Bau Badan
Cara mengilangkan bau badan erat hubungannya dengan penyebab dari dalam, dalam hal ini adalah makanan. Kurangi konsumsi makanan dengan bumbu yang mempunyai aroma menyengat
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Rabu, 23/05/2012 11:55 WIB
Duh, 91% Remaja Merokok Karena Terpengaruh Iklan
Posted : matsuko
Sabtu, 26/02/2011 15:01 WIB
(Foto:thinkstock)Jakarta, Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang bisa menyebabkan kecacatan permanen pada penderitanya. Penderita yang mengalami cacat permanen sering
terisolasi karena masyarakat takut penyakitnya menular. Untuk mencegah kecacatan akibat kusta perlu dilakukan enam tindakan.
Kusta adalah penyakit menular, menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi dan jaringan tubuh lain. Jika tidak terdiagnosis dan diobati secara dini akan menimbulkan kecacatan menetap.
Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH dalam acara pembukaan seminar sehari Pencegahan Cacat Akibat Kusta di gedung Kemenkes, Jakarta, Sabtu (26/2/2011) menuturkan ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah kecacatan akibat kusta yaitu:
"Jika sudah terjadi cacat umumnya penderita akan dijauhi, dikucilkan, diabaikan oleh keluarga dan sulit mendapatkan pekerjaan, sehingga mereka akan sangat tergantung
secara fisik dan finansial pada orang lain," ungkap Menkes.
Tingkat kecacatan kusta ini meliputi beberapa tingkat yaitu tingkat 0 yang berarti normal, tingkat 1 berupa mati rasa pada telapak tangan atau telapak kaki dan tingkat
2 ada cacat berupa kelopak mata tidak menutup, jari tangan maupun kaki memendek, bengkok dan luka.
"Salah satu target yang ingin dicapai adalah menurunkan cacat tingkat 2 atau cacat yang kelihatan pada penderita kusta. Dan masyarakat sebaiknya tidak mengasihani
penyandang disabilitas, tapi membantunya agar bisa mandiri sehingga bisa bekerja dan menghidupi diri serta keluarganya," imbuhnya.
Menkes mengungkapkan saat ini prevalensi kusta di indonesia menurun sebesar 81 persen dari 107.271 penderita pada tahun 1990 menjadi 21.026 penderita tahun 2009.
Keberhasilan ini tidak lepas dari upaya terobosan untuk mempercepat eliminasi kusta dengan melaksanakan penemuan penderita secara pasif dan aktif.
Meski demikian masih ada kesulitan dalam menemukan kasus kusta baru. Beberapa penyebabnya karena pengetahuan masyarakat yang kurang dan menganggap kusta
sebagai penyakit biasa karena tidak ada gejala yang khas, orang tidak mau berobat karena malu sehingga pengobatan menjadi terlambat serta pengobatan yang tidak tepat.
"Sampai saat ini masih ada 14 provinsi dengan proporsi kusta yang tinggi di indonesia, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan," ujar dr H M Subuh MPH selaku Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes.
dr. Subuh menuturkan ada kesan penyakit ini terabaikan serta adanya ketidaktahuan masyarakat dari sisi pengetahuan tentang penyakit kus
(ver/ir)
Perlu 6 Tindakan Agar Kusta Tak Bikin Cacat Permanen
Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto:thinkstock)
terisolasi karena masyarakat takut penyakitnya menular. Untuk mencegah kecacatan akibat kusta perlu dilakukan enam tindakan.
Kusta adalah penyakit menular, menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi dan jaringan tubuh lain. Jika tidak terdiagnosis dan diobati secara dini akan menimbulkan kecacatan menetap.
Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH dalam acara pembukaan seminar sehari Pencegahan Cacat Akibat Kusta di gedung Kemenkes, Jakarta, Sabtu (26/2/2011) menuturkan ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah kecacatan akibat kusta yaitu:
- Penemuan dini penyakit kusta
- Melakukan pengobatan yang tepat dan teratur
- Mendeteksi dini terhadap adanya komplikasi
- Penanganan
- Perawatan
- Rehabilitasi
"Jika sudah terjadi cacat umumnya penderita akan dijauhi, dikucilkan, diabaikan oleh keluarga dan sulit mendapatkan pekerjaan, sehingga mereka akan sangat tergantung
secara fisik dan finansial pada orang lain," ungkap Menkes.
Tingkat kecacatan kusta ini meliputi beberapa tingkat yaitu tingkat 0 yang berarti normal, tingkat 1 berupa mati rasa pada telapak tangan atau telapak kaki dan tingkat
2 ada cacat berupa kelopak mata tidak menutup, jari tangan maupun kaki memendek, bengkok dan luka.
"Salah satu target yang ingin dicapai adalah menurunkan cacat tingkat 2 atau cacat yang kelihatan pada penderita kusta. Dan masyarakat sebaiknya tidak mengasihani
penyandang disabilitas, tapi membantunya agar bisa mandiri sehingga bisa bekerja dan menghidupi diri serta keluarganya," imbuhnya.
Menkes mengungkapkan saat ini prevalensi kusta di indonesia menurun sebesar 81 persen dari 107.271 penderita pada tahun 1990 menjadi 21.026 penderita tahun 2009.
Keberhasilan ini tidak lepas dari upaya terobosan untuk mempercepat eliminasi kusta dengan melaksanakan penemuan penderita secara pasif dan aktif.
Meski demikian masih ada kesulitan dalam menemukan kasus kusta baru. Beberapa penyebabnya karena pengetahuan masyarakat yang kurang dan menganggap kusta
sebagai penyakit biasa karena tidak ada gejala yang khas, orang tidak mau berobat karena malu sehingga pengobatan menjadi terlambat serta pengobatan yang tidak tepat.
"Sampai saat ini masih ada 14 provinsi dengan proporsi kusta yang tinggi di indonesia, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan," ujar dr H M Subuh MPH selaku Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes.
dr. Subuh menuturkan ada kesan penyakit ini terabaikan serta adanya ketidaktahuan masyarakat dari sisi pengetahuan tentang penyakit kus
(ver/ir)
BACA JUGA :









