
-
Rabu 23/05/2012 19:28 WIB
Sstt, Ini Tabu Lho Tapi Penting! -
Rabu 23/05/2012 18:55 WIB
Yang Terjadi Pada Tidur si Perokok -
Rabu 23/05/2012 18:01 WIB
Antibodi untuk Hentikan Virus HIV Ada di Dalam ASI -
Rabu 23/05/2012 18:28 WIB
Pegowes yang Pakai Helm Bisa Bersepeda Lebih Kencang -
Rabu 23/05/2012 15:51 WIB
Alat-alat yang Dipercaya Bisa Besarkan Ukuran Kelamin Pria - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 2,796.000
-
Rp 469.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
Cara Menghilangkan Bau Badan
Cara mengilangkan bau badan erat hubungannya dengan penyebab dari dalam, dalam hal ini adalah makanan. Kurangi konsumsi makanan dengan bumbu yang mempunyai aroma menyengat
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Rabu, 23/05/2012 11:55 WIB
Duh, 91% Remaja Merokok Karena Terpengaruh Iklan
Posted : matsukoArtikel terkait :
- Obat Murah untuk Hepatitis Diharapkan Sudah Tersedia 2012
- 60 Persen Penderita Hepatitis di Indonesia Sulit Diobati
- Dokter Indonesia Harus Mampu Deteksi Cepat Hepatitis C
- Demi Ayah Sehat, Nissa Rela Donorkan Hatinya
- Bolehkah Orang Mendonorkan Hatinya Lebih dari Sekali?
- Gagal Hati Akut
- Hepatitis A
- Hepatitis
Info Penyakit :
- Cefadroxil Syrup
- Anistreplase
- Antalgin 500 mg
Info Obat :
Tes Hepatitis B Tidak Boleh untuk Seleksi Calon Karyawan
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
foto: Thinkstock
Jumlah pengidap hepatitis B di Indonesia saat ini cukup banyak dan diperkirakan mencapai 9-10 persen dari populasi penduduk. Jika populasi saat ini adalah 230 juta jiwa, maka ada sekitar 23 juta pengidap jenis hepatitis yang sulit disembuhkan ini.
Sebenarnya penyakit ini bukan tidak bisa disembuhkan, namun proses pengobatannya sangat mahal dan biasanya dilakukan dalam jangka waktu lama atau bahkan seumur hidup. Padahal jika tidak diobati, hepatitis B bisa berkembang menjadi sirosis dan kanker hati.
Mungkin karena tak ingin direpotkan oleh tanggungan ongkos pengobatan, beberapa perusahaan memakai skrining atau tes hepatitis B untuk menolak calon tenaga kerja. Sebagian lagi mungkin beranggapan, pengidap hepatitis B tidak bisa bekerja dengan baik karena akan sakit-sakitan.
Hal ini membuat Prof Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI FACP, dokter penyakit dalam dari Persatuan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) merasa prihatin dan menilainya sangat diskriminatif. Jika semua perusahaan bersikap demikian, ia memperkirakan 23 juta orang bakal menganggur.
"Orang dengan hepatitis B tidak harus tidak boleh kerja. Kami dari PPHI sudah menyurati Kementerian Tenaga Kerja terkait hal ini," ungkap Prof Samsuridjal kepada detikHealth usai seminar Meningkatkan Upaya Pencegahan dan Penatalaksanaan Hepatitis di RS Cipto Mangunkusumo, Selasa (7/6/2011).
Dalam surat tersebut PPHI merekomendasikan agar skrining hepatitis B tidak digunakan dalam proses seleksi tenaga kerja. Skrining hanya ditujukan untuk mencegah penularan dan supaya orang-orang yang positif mengidapnya bisa mendapat akses pengobatan.
Rekomendasi ini belum sepenuhnya dijalankan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia, meski sebagian besar akhirnya bisa menerimanya. Prof Samsuridjal mengakui masih ada beberapa perusahaan yang menerapkan skrining hepatitis B dalam seleksi tenaga kerja.<
(up/ir)
BACA JUGA :









