
-
Rabu 23/05/2012 19:28 WIB
Sstt, Ini Tabu Lho Tapi Penting! -
Rabu 23/05/2012 20:13 WIB
Bisakah Pria Jenuh Berhubungan Seks? -
Rabu 23/05/2012 18:55 WIB
Yang Terjadi Pada Tidur si Perokok -
Rabu 23/05/2012 18:28 WIB
Pegowes yang Pakai Helm Bisa Bersepeda Lebih Kencang -
Rabu 23/05/2012 18:01 WIB
Antibodi untuk Hentikan Virus HIV Ada di Dalam ASI - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 2,796.000
-
Rp 469.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
Cara Menghilangkan Bau Badan
Cara mengilangkan bau badan erat hubungannya dengan penyebab dari dalam, dalam hal ini adalah makanan. Kurangi konsumsi makanan dengan bumbu yang mempunyai aroma menyengat
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Rabu, 23/05/2012 11:55 WIB
Duh, 91% Remaja Merokok Karena Terpengaruh Iklan
Posted : matsukoArtikel terkait :
- Menulislah Jika Tubuh Terasa Sakit Karena Bisa Menyembuhkan
- Agar Selalu Sehat Anggaplah Hidup Seperti Sedang Liburan
- Rempah-rempah yang Bisa Jadi Obat Mujarab
- Peningkat Sistem Kekebalan Tubuh
- Kepala Cenut-cenut Bisa Diredakan dari Makanan Ini
- Agranulocytosis
- Balanitis Xeronika
- Anorexia Nervosa
Info Penyakit :
- Herbal: Apricot
- Ampicillin 500 mg
- Chlorthalidone
Info Obat :
Murah Hati Itu Sifat Alami Manusia
Putro Agus Harnowo - detikHealth
(Foto: gettyimage)
Konon manusia selalu memberi dengan harapan akan mendapat imbalan yang setimpal. Namun penemuan oleh ilmuwan dari UC Santa Barbara membuktikan tanpa konsekuensi apa pun dan tanpa tekanan apa pun, murah hati adalah sifat alamiah manusia.
Ilmuwan melakukan serangkaian simulasi komputer yang dirancang untuk menguji apakah benar terjadi evolusi yang membuat sifat murah hati manusia muncul, atau karena terdesak dalam pilihan dan berharap sikap murah hatinya mendapat imbalan di masa depan.
Penelitian menunjukkan hasil yang mengejutkan bahwa kedermawanan atau membantu orang lain tanpa adanya keuntungan di masa datang ternyata muncul secara alami sebagai hasil dari evolusi proses kerjasama manusia.
Dalam bermurah hati, penderma mengeluarkan biaya yang bermanfaat untuk orang lain. Meskipun dari sudut pandang ekonom, mengeluarkan biaya tanpa adanya kompensasi atau prospek keuntungan dianggap irasional dan dipandang maladaptive (tidak mampu menyesuaikan diri) oleh ahli biologi.
Jika perkataan ekonom dan ahli biologi itu benar, maka perilaku dermawan tersebut pastinya terjadi oleh evolusi yang panjang. Karena dari teori ekonomi dan biologi, sifat manusia pada dasarnya mementingkan diri sendiri, sehingga kemurahan hati 'yang berlebihan' hanyalah merupakan akibat dari tekanan sosial atau penyesuaian dengan budaya. Tapi penelitian terbaru mematahkan hal tersebut karena setelah proses evolusi sifat manusia itu pada dasarnya pemurah.
"Ketika penelitian terdahulu mengukur pilihan orang-orang dengan hati-hati, mereka menemukan bahwa orang-orang dahulu di seluruh dunia lebih murah hati. Kemudian teori ekonomi dan biologi memerintahkan mereka untuk melakukan hal yang sesuai perkiraan mereka," kata Max M. Krasnow, seorang sarjana postdoctoral di Pusat UCSB untuk Psikologi Evolusioner seperti dikutip pshycologytoday, Rabu (27/7/2011).
"Tapi simulasi kami menjelaskan bahwa alasan orang lebih murah hati daripada yang diprediksi oleh teori ekonomi dan biologi adalah karena ketidakpastian yang melekat dalam kehidupan sosial," kata Andrew Delton, sarjana postdoctoral di Pusat Psikologi Evolusi.
Ini karena manusia tidak pernah tahu pasti apakah interaksi yang dilakukan dengan orang lain sekarang ini hanya akan terjadi satu kali saja atau berlanjut tanpa batas waktu. Kebutuhan untuk melakukan sesuatu secara bersama membuat manusia secara alami menjadi lebih pemurah.
Simulasi ini menunjukkan bahwa seleksi alam menyokong manusia untuk memperlakukan orang lain seolah hubungan akan terus berlanjut, bahkan ketika ia percaya bahwa interaksi tersebut hanya terjadi satu kali saja. "Meskipun tidak mungkin untuk mengetahui kepastian yang sebenarnya dengan utuh, simulasi kami dirancang menggunakan 'standar emas' penalaran rasional," kata Krasn
(ir/ir)
BACA JUGA :









