detikhealth

Konsultasi Bedah
Dr. Pria Agustus Yadi, Sp.B-KBD

Dr. Pria Agustus Yadi, Sp.B-KBD adalah Dokter Spesialis Bedah Digestif. Praktik di RS PONDOK INDAH PONDOK INDAH Jl. Metro Duta Kav UE Pondok Indah, Jakarta. Telepon 021 765 7525.

Operasi Usus Buntu dan Dampaknya Usai Operasi

Jumat, 23/09/2011 10:17 WIB
Operasi Usus Buntu dan Dampaknya Usai Operasi(Foto: thinkstock)
Dok, bagaimana cara untuk mencegah usus buntu? Apabila sudah operasi usus buntu adakah efek samping dari operasi tersebut? Terimakasih.

Santo (Pria Lajang, 17 Tahun), santoXXXX@yahoo.co.id
Tinggi Badan 165 Cm dan Berat Badan 85 Kg

Jawaban

Harus dipahami, usus buntu (appendiks) merupakan saluran buntu yang mempunyai rongga dan berpangkal pada bagian awal dari usus besar (sekum). Selain itu struktur lapisan dindingnya mempunyai kemampuan berkontraksi (peristaltik) sebagaimana usus lainnya meski dengan kemampuan dan kekuatan yang jauh lebih lemah mengingat diameternya yang kecil.

Karenanya ia akan terisi oleh makanan yang masuk dari usus halus ke dalam usus besar namun ia juga mempunyai kemampuan mengeluarkan makanan tersebut setelah sebelumnya melakukan penyerapan makanan tersebut sehingga saat dikeluarkan, sudah menjadi lebih padat.

Radang usus buntu (Appendisitis) umumnya disebabkan adanya sumbatan pada pangkal usus buntu dan hal ini dapat diakibatkan kelainan pada sekum (tempat usus buntu bermuara) yang menyebabkan penyempitan dari muara usus buntu, kelainan usus halus bagian ujung (ileu terminal) yang akan berakhir pada sekum, kelainan pada dinding usus buntu terutama pada pangkalnya yang membuat salurannya menyempit atau tersumbat. Kelainan-kelainan pada organ di atas dapat berupa radang, infeksi maupun tumor yang pada akhirnya menyebabkan penyempitan pangkal appendiks.

Penyebab lain dari sumbatan appendiks, adanya sisa makanan yang masuk ke dalam appendiks yang banyak dan memadat sehingga sulit keluar dari pangkal appendiks dan menimbulkan sumbatan. Pada umumnya, appendisitis disebabkan oleh kedua faktor penyebab sumbatan di atas yang membuat appendiks terregang, melebar dan tegang dengan dinding makin tipis.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, pencegahan appendisitis harus diupayakan agar makanan yang masuk ke dalam appendiks tidak terlalu banyak serta mencegah radang atau infeksi pada pangkal appendiks. Upaya mengurangi jumlah makanan yang masuk ke dalam appendiks sebenarnya sederhana tapi sangat sulit kita lakukan. Hindari jenis-jenis makanan yang merangsang atau meningkatkan peristaltik usus sehingga makanan akan cepat masuk ke dalam usus besar dengan jumlah yang banyak.

Masalahnya adalah jenis makanan tersebut justru menjadi kesukaan banyak orang, seperti makanan dengan rasa pedas (mengandung cabe, merica maupun jenis rempah-rempah lainnya), rasa asam, mengandung pengawet dan penyedap. Oleh karena sulitnya menghindari jenis-jenis makanan tersebut, maka paling mudah adalah memperbanyak minum air putih sehingga sisa makanan yang masuk ke dalam usus besar dan appendiks tidak mudah memadat meski dilakukan penyerapan. Dengan demikian sisa makanan tersebut akan mudah masuk dan sekaligus mudah dikeluarkan lagi oleh appendiks.

Paska bedah dari pembedahan appendiks (appendektomi) umumnya akan menghilangkan keluhan dengan komplikasi minimal selama diagnosisnya ditegakkan dengan benar. Appendisitisnya memang merupakan penyakit primer bukan sekunder. Jika prosedur bedah serta perawatan pasca bedahnya dilakukan dengan benar dan profesional maka tidak akan ada efek samping.

Dr. Pria Agustus Yadi, Sp.B-KBD
Dokter Spesialis Bedah Digestif. Praktik di RS PONDOK INDAH PONDOK INDAH Jl. Metro Duta Kav UE Pondok Indah, Jakarta. Telepon 021 765 7525.


(ir/ir)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit