detikhealth

Meski Punya Anak Down Syndrome, Keluarga Merasa Bahagia

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Minggu, 02/10/2011 12:02 WIB
Meski Punya Anak Down Syndrome, Keluarga Merasa BahagiaIlustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta, Memiliki anak Down Syndrome atau Sindrom Down bukan hal yang mudah untuk merawatnya. Meski begitu, keluarga penderita Sindrom Down mengaku lebih bahagia punya anak Sindrom Down karena kaya akan pengalaman.

Survei yang dilakukan Dr Brian Skotko dari Children's Hospital Boston menunjukkan hal yang luar biasa. Bagaimana keluarga penderita Sindrom Down tidak merasa minder, putus asa atau takut melainkan sangat bahagia.

Alasannya memiliki anak Sindrom Down membuat keluarga harus meningkatkan kualitas hidup dengan mengajarkan kesabaran, penerimaan dan keluwesan. Anak Sindrom Down telah membuat keluarganya menjadi lebih kuat.

Seperti dilansir Healthday, Minggu (2/10/2011), hasil survei menunjukkan:
1. Sebanyak 96 persen orangtua penderita sindrom Down menyatakan tidak menyesal telah memiliki anak dengan sindrom Down.

2. Hampir delapan dari 10 orang tua tersebut mengatakan bahwa justru penyakit anaknya itu telah meningkatkan kualitas hidup mereka dengan mengajarkan kesabaran, penerimaan, dan keluwesan.

3. Tak hanya orang tua, saudara-saudara kandung mereka juga memiliki perasaan yang sama. 94 persen di antaranya mengatakan bahwa mereka merasa bangga akan saudara mereka yang memiliki sindrom Down.

4. Sebanyak 88 persen di antaranya mengatakan bahwa saudara mereka yang memiliki sindrom Down itu telah membuat mereka menjadi orang yang lebih baik.
5. Dan hampir semua penderita Sindrom Down mengatakan senang dengan kehidupannya saat ini dan menyukai keadaan mereka.

Survei ini akan dimuat di American Journal of Medical Genetics edisi Oktober 2011.

"Suara-suara yang kami dengar sangat puas dan sangat positif tentang kehidupan mereka meskipun faktanya mereka memiliki tantangan yang nyata," kata Dr Skotko.

Sindrom Down merupakan kelainan genetik yang terjadi pada kromosom ke-21. Kelainan ini berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental. Ciri-ciri fisiknya tampak aneh seperti tinggi badan yang relatif pendek, kepala mengecil, hidung tidak mancung menyerupai orang Mongoloid maka sering juga dikenal dengan mongolisme.

Anak dengan Down Syndrome lahir dengan tiga bukan dua salinan kromosom 21. Anak dengan Down Syndrome memiliki kemampuan kognitif yang bervariasi, yang sangat parah anak biasanya tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari tanpa bantuan dari orang lain.

Anak dengan Down Syndrome memiliki peningkatan risiko untuk cacat jantung, masalah pernapasan dan pendengaran, penyakit Alzheimer, leukimia dan kondisi tiroid. Tapi kondisi ini sekarang dapat diobati, sehingga dapat meningkatkan harapan hidup penderita Down Syndrome.

Ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun diketahui lebih rentan melahirkan anak dengan sindrom Down. Sindrom ini tidak bisa dicegah karena merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti sampai saat ini.

Pemeriksaan untuk sindrom Down sebelum kelahiran saat ini sudah banyak tersedia. Tes kehamilan untuk Sindrom Down saat ini banyak menyebabkan ibu-ibu ini kemudian menggugurkan kandungannya, dan hanya sekitar 2 persen wanita yang benar-benar mau menjalani tes.

Saat ini sudah ditemukan tes darah yang akan dipasarkan untuk mengetahui kelainan ini sejak dini dan Skotko ingin memastikan bahwa orangtua yang bergulat dengan keputusan sulit ini memiliki informasi yang baik.

"Setelah orang-orang memiliki kesempatan untuk menjalani tes darah sederhana sebelum melahirkan, orang-orang akan dapat lebih membuat keputusan mengenai kehamilannya. Namun, apakah bayi-bayi dengan sindrom Down kemudian akan perlahan-lahan mulai menghilang? Penderita sindrom Down harus dapat menjelaskan bagaimana artinya memiliki kondisi tersebut," jelas Dr Skotko.

Dr Skotko mengaku memiliki saudara kandung berusia 32 tahun dengan sindrom Down. "Dia memiliki kehidupan sosial yang aktif dan kuat, lebih dari yang pernah saya miliki," cerita Skotko.

Sedangkan Louis Sciuto, 22 tahun, seseorang penderita sindrom Down mengatakan bahwa ia baru saja mendapat pekerjaan dan juga memiliki kehidupan sosial yang aktif. Ia suka menonton film-film terbaru, bermain olahraga dan pergi bersama teman-temannya.

Ibunya, Louise Borke, mengatakan kepada orang tua yang mungkin memiliki anak dengan sindrom Down, "Saya akan mengatakan kepada mereka agar jangan takut. Ini memang berbeda, tapi tidak buruk. Orang tuanya teman-teman Louis mengatakan kepada saya bahwa mereka percaya anak-anak mereka menjadi orang-orang yang lebih baik karena telah mengenal Louis."

Louise Borke baru mengetahui bahwa anak laki-lakinya itu memiliki sindrom Down ketika bayinya masih berusia beberapa hari. Waktu itu, ia merasa kaget, terkejut, gentar dan cemas.

Namun setelah 22 tahun kemudian, Borke hidup dengan putranya dan berkata, "Saya tidak menyangkal bahwa itu adalah sebuah tantangan. Tapi hal ini ternyata menyenangkan, dan saya tidak menyesal".

(ir/ir)


Ikuti survei online detikHealth berhadiah paket dari SOHO dan merchandise di sini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit