
-
Rabu 23/05/2012 11:16 WIB
Ukuran Favorit yang Paling Disukai Pelanggan Mak Erot -
Rabu 23/05/2012 10:46 WIB
Tradisional dan Tak Masuk Akal, Tapi Mak Erot Tetap Disuka -
Rabu 23/05/2012 09:04 WIB
Begini Cara Kerja di Mak Erot dan On Clinic -
Rabu 23/05/2012 11:06 WIB
Ingin Meratakan Gigi yang Maju -
Rabu 23/05/2012 11:31 WIB
Bagaimana Cara Tepat Menangani Hipertensi? - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 2,796.000
-
Rp 6,049.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
Cara Menghilangkan Bau Badan
Cara mengilangkan bau badan erat hubungannya dengan penyebab dari dalam, dalam hal ini adalah makanan. Kurangi konsumsi makanan dengan bumbu yang mempunyai aroma menyengat
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Rabu, 23/05/2012 11:55 WIB
Duh, 91% Remaja Merokok Karena Terpengaruh Iklan
Posted : matsukoArtikel terkait :
- Deteksi Dini Kanker Secara Berkala Kadang Malah Merugikan?
- Suku Cadang untuk Tubuh Manusia Sudah Bisa Dibuat
- Pengangkatan Payudara Tak Harus Merusak Puting
- Pil KB dan Kehamilan Turunkan Risiko Kanker Ovarium
- Laki-laki Juga Perlu Vaksin Kanker Leher Rahim
- Kanker Indung Telur
- Kanker Darah (Leukemia)
- Kanker Anal
Info Penyakit :
- Candesartan
- Ampicillin 1 gr Inj
- Ampicillin 500 mg
Info Obat :
Risiko Kanker Berlipat Ganda Setelah Transplantasi Organ
Putro Agus Harnowo - detikHealth
(Foto: thinkstock)
Meskipun demikian, para ahli mengatakan bahwa manfaat dari transplantasi jauh lebih besar daripada risiko tersebut.
"Masyarakat perlu memahami bahwa transplantasi adalah salah satu kisah sukses terbesar dalam dunia kedokteran. Cara ini adalah perawatan yang sangat efektif untuk pasien dengan penyakit organ yang parah," jelas penulis utama penelitian, Dr Eric Engels, peneliti senior bagian infeksi dan epidemiologi dari Divisi Epidemiologi Kanker dan Genetika di US National Cancer Institute di Rockville.
Engels dan timnya mengkaji data sebanyak hampir 176.000 transplantasi organ padat yang dilakukan pada tahun 1987 hingga 2008 di AS. Para peneliti menemukan bahwa angka kejadian keseluruhan kanker 2,1 kali lebih tinggi dari yang diharapkan dalam populasi non transplantasi.
Risiko penyakit limfoma non-Hodgkin meningkat lebih dari tujuh kali lipat. Tingkat kanker paru-paru dan hati juga meningkat secara signifikan, namun Engels mengatakan ini mungkin karena kanker telah ada sebelumnya.
Sebagai contoh, pengobatan untuk beberapa jenis kanker hati adalah dengan cara transplantasi hati, dan itu mungkin disebabkan beberapa sel kanker bertahan dalam proses transplantasi.
Risiko kanker paru-paru tertinggi pada penerima transplantasi paru-paru dan risiko kanker hati tampaknya hanya meningkat pada penerima transplantasi hati.
Menurut penelitian ini, insiden kanker ginjal meningkat hampir lima kali lipat pada semua penerima transplantasi. Hal ini kemungkinan karena penyakit yang mendasari pasien membutuhkan ginjal baru dan kemungkinan imunosupresan berperan pada semua pasien transplantasi.
"Penelitian kami menegaskan bahwa populasi ini memiliki pola yang unik dari risiko kanker. Penerima transplantasi perlu diperiksa secara hati-hati dan terus dipantau," tambah Engels seperti dikutip dari HealthDay, Rabu (2/11/2011).
Pada tahun 2010, hampir 30.000 transplantasi organ padat dilakukan di Amerika Serikat. Transplantasi ginjal menyumbang lebih dari setengah dari jumlah tersebut, diikuti oleh hati, jantung dan paru-paru.
Setelah transplantasi, penerima organ harus mendapat obat penekan sistem kekebalan (imunosupresan) yang kuat untuk mencegah penolakan organ baru.
"Menekan sistem kekebalan tubuh meningkatkan risiko kanker. Dan jika pasien memiliki kanker, diperlukan sistem kekebalan yang kuat untuk melawan kanker," kata Dr Darla Granger, direktur program transplantasi pankreas di St John Hospital dan Medical Center di Detroit.
Permasalahan lain berkaitan dengan obat imunosupresan adalah kanker yang berhubungan dengan virus. Sebagai contoh, penyakit non-Hodgkin dan Hodgkin limfoma berkaitan dengan virus Epstein-Barr, sedangkan beberapa jenis kanker serviks disebabkan oleh virus human papillomavirus (HPV), dan beberapa kanker hati disebabkan oleh virus hepatitis B atau C.
"Kami tahu bahwa tumor tertentu akan berkembang setelah transplantasi. Tumor tertentu juga diketahui berkaitan dengan virus. Jadi ketika kami memberikan obat imunosupresan, kami mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan virus," jelas Dr Lewis Teperman, kepala bedah transplantasi di NYU Langone Medical Center di New York City.
Tidak semua kanker berkaitan dengan imunosupresan, namun pada kasus seperti kanker hati dan paru-paru, ada kemungkinan bahwa kanker kecil telah muncul dalam tubuh sebelum dilakukannya transplantasi.
"Sulit untuk memilah-milah penyebab kanker dengan pasti, tetapi beberapa di antaranya jelas berkaitan dengan imunosupresan," kata Granger.
"Kajian ini menimbulkan beberapa poin yang sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa skrining terhadap virus harus dilakukan, dan bahwa kita harus selalu mencoba untuk mengurangi penggunaan imunosupresan. Hal ini juga menimbulkan kecenderungan untuk melakukan skrining tumor pada penerima transplantasi," kata Teperman.
"Ini merupakan temuan yang penting. Tapi saya pikir terlalu melebih-lebihkan risiko kankernya yang sebenarnya mungkin lebih rendah dari yang terlihat di makalah ini," imbuhnya.
Untuk seseorang yang telah menjalani atau menunggu transplantasi, Granger menyarankan agar menurunkan faktor risiko, yaitu jangan merokok, patuhi praktik kesehatan yang baik, kenakan tabir surya, dan jika sudah transplantasi, jalani skrinin pemutaran yang disarankan oleh dokter.
(ir/ir)
BACA JUGA :









