
-
Kamis 24/05/2012 15:59 WIB
7 Makanan yang Membersihkan Hati Secara Alami -
Kamis 24/05/2012 15:13 WIB
Apa Efeknya Jika Bercinta Tiap Hari? -
Kamis 24/05/2012 13:00 WIB
7 Kebiasaan Sepele Orang Indonesia yang Ganggu Kesehatan Orang Lain -
Kamis 24/05/2012 14:02 WIB
Deteksi Gejala Stroke Pada Perempuan -
Kamis 24/05/2012 14:29 WIB
Tak Mau Minum Obat, Pasien TBC Dipenjarakan - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 572.000
-
Rp 2,801.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
Cara Menghilangkan Bau Badan
Cara mengilangkan bau badan erat hubungannya dengan penyebab dari dalam, dalam hal ini adalah makanan. Kurangi konsumsi makanan dengan bumbu yang mempunyai aroma menyengat
-
Jenis Olahraga Yang Dapat Mencegah Kanker
Kesimpulan tersebut didasarkan hasil uji mereka terhadap 190 partisipan pria yang telah melakukan biopsi prostat. Bahwasanya partisipan yang cukup aktif bergerak,
» Thread Pilihan

Kamis, 24/05/2012 12:27 WIB
Ajaib! Bocah Ini Berhasil Kalahkan 100 Tumor di Matanya
Posted : matsukoArtikel terkait :
- Tidak Sebabkan Autis, Vaksin MMR Masih Dipermasalahkan
- Orang Autis Sulit Melakukan Multitasking
- Bohong Soal Kesehatannya, Pria Autis Lolos Jadi Donor Sperma
- Ekstasi Bisa Berguna untuk Terapi Autisme
- Anak Autis Tetap Hidup Setelah Menelan Gunting Kuku
- Autisme
Info Penyakit :
- Chlorpropamide
- Antasid
- Ambroxol 15 mg/5ml Syrup
Info Obat :
Jangan Remehkan Orang Autis, Mereka Sebenarnya Cerdas
Putro Agus Harnowo - detikHealth
(Foto: thinkstock)
"Data terbaru dan pengalaman pribadi saya menyarankan saatnya untuk mulai berpikir tentang autisme sebagai suatu kelebihan dalam beberapa bidang, bukan beban yang harus ditanggung," kata Dr Laurent Mottron di University of Montreal's Centre for Excellence in Pervasive Development Disorders.
Tim peneliti Mottron telah mengukuhkan dan mereplikasi kemampuan dan kelebihan orang autis dalam berbagai tugas mental seperti persepsi dan penalaran. Tim tersebut melibatkan beberapa penyandang autis, salah satunya bernama Michelle Dawson, yang juga seorang peneliti autisme. Ia telah menulis banyak makalah yang menantang dasar-dasar etika dan intervensi analisis perilaku berbasis autisme.
"Dawson berkontribusi besar terhadap pemahaman kami tentang kondisi melalui kerja dan penilaiannya. Ia menantang persepsi ilmiah saya mengenai autisme," kata Mottron.
Mottron mengaku bahwa rekannya, Michelle Dawson, menginspirasinya dan membantunya mempertimbangkan ulang asumsi-asumsi umum tentang autisme. Dawson tidak memiliki gelar ilmiah, namun menyerap informasi dengan cepat, membaca secara menyeluruh, mampu mengedit tulisan Mottron dan menawarkan umpan balik pada penelitian. Dawson dan Mottron hingga saat ini telah menulis 13 makalah dan beberapa bab buku.
"Sungguh menakjubkan bagi saya. Selama puluhan tahun, para ilmuwan memperkirakan besarnya keterbelakangan mental lewat pemberian tes yang tidak tepat dan salah menafsirkan kelebihan penyandang autis," tambah Mottron seperti dilansir medicalxpress.com, Kamis (3/11/2011).
Selama ini, banyak penyandang autis bekerja dalam pekerjaan kasar yang berulang-ulang, meskipun kecerdasan dan bakatnya sebenarnya dapat berkontribusi jauh lebih signifikan untuk masyarakat.
Autisme adalah gangguan perkembangan yang biasanya dapat diketahui sejak bayi berusia tiga tahun. Gangguan ini mempengaruhi perkembangan normal otak dalam hal keterampilan sosial dan komunikasi.
Menurut Autism Society of Canada, terdapat sekitar 200.000 orang yang memiliki dengan spektrum autisme dan diperkirakan satu dari setiap 165 anak yang lahir di Kanada memiliki kondisi tersebut.
Satu dari 10 penyandang autis tidak dapat berbicara, sembilan dari 10 di antaranya tidak memiliki pekerjaan tetap, dan 4 dari 5 orang dewasa autis masih tergantung pada orang tuanya.
Penyandang autis menghadapi banyak tantangan. Menurut pengamatan Mottron, para penyandang autis lebih cocok untuk berkarir dalam penelitian dan ilmu pengetahuan akademik.
"Sejak usia muda, mereka nampaknya tertarik dalam bidang informasi dan struktur seperti angka, huruf, mekanisme dan pola geometris. Kesemuanya merupakan dasar pola pikir ilmiah," kata Mottron. Ia menunjukkan bahwa empat orang asisten penelitiannya yang terdiri dari tiga orang mahasiswa dan satu orang peneliti kesemuanya autis.
"Dawson dan individu autis lainnya telah meyakinkan saya bahwa penyandang autis membutuhkan lebih dari kesempatan, namun banyak dukungan dan sedikit pengobatan. Saya percaya bahwa autisme harus dijelaskan sebagai variasi yang diterima spesies manusia, bukan sebagai kecacatan," pungkas Mottron.
(ir/ir)
BACA JUGA :









