
-
Rabu 23/05/2012 09:04 WIB
Begini Cara Kerja di Mak Erot dan On Clinic -
Rabu 23/05/2012 11:16 WIB
Ukuran Favorit yang Paling Disukai Pelanggan Mak Erot -
Rabu 23/05/2012 12:58 WIB
'Gadis Mutan', Tubuhnya Keluarkan Panas yang Bisa Membakar -
Rabu 23/05/2012 19:28 WIB
Sstt, Ini Tabu Lho Tapi Penting! -
Rabu 23/05/2012 15:51 WIB
Alat-alat yang Dipercaya Bisa Besarkan Ukuran Kelamin Pria - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 469.000
-
Rp 2,796.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
Cara Menghilangkan Bau Badan
Cara mengilangkan bau badan erat hubungannya dengan penyebab dari dalam, dalam hal ini adalah makanan. Kurangi konsumsi makanan dengan bumbu yang mempunyai aroma menyengat
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Rabu, 23/05/2012 11:55 WIB
Duh, 91% Remaja Merokok Karena Terpengaruh Iklan
Posted : matsukoArtikel terkait :
- Immi Tetap Harus Tes HIV Jika Ingin Sekolah di SD Don Bosco
- Dukungan Melawan Diskriminasi HIV Pada Immi Terus Mengalir
- Sunat Tak Seampuh Obat dalam Mencegah Penularan HIV
- Ciri HIV Paling Khas: Diare, Sariawan, Berat Badan Turun
- Hari Gini Masih Ada Rumah Sakit Menolak Pasien HIV?
- HIV-AIDS
Info Penyakit :
- RAPID TEST SD BIOLINE HIV 1/2 3.0
Info Obat :
Immi Tak Tertular HIV Karena Keluarga Sangat Disiplin
Lia Harahap - detikHealth
(Foto: thinkstock)
Leonnie F Merinsca, ibunda Immi, bersyukur hingga kini dia dan ketiga anaknya tidak turut terpapar infeksi HIV dari suaminya Fajar Jasmin. Di keluarganya, pasangan suami istri itu menerapkan disiplin tinggi pada anak-anaknya. Mereka semua tidak boleh saling tukar menukar barang pribadi seperti sikat gigi.
"Dan kalau ada luka ditutup sendiri, termasuk ayahnya juga sangat peduli dengan kesehatannya. Dia memiliki kesadaran yang tinggi, kalau bibirnya lagi terkelupas, dia nggak mau dicium anaknya," tutur Leonnie, saat ditemui di SD Don Bosco 2, Pulomas, Jakarta Timur, Jumat (2/12/2011).
Sebelumnya diberitakan, Immi ditolak masuk sekolah karena ayahnya yang seorang penulis terinfeksi HIV. Immi tidak terinfeksi HIV seperti ayahnya, namun ia tetap menerima diskriminasi karena menjadi anak seorang HIV.
Immi yang baru saja diterima di SD Don Bosco Kelapa Gading, tiba-tiba saja ditolak dan penerimaannya dibatalkan hanya melalui pesan singkat (SMS). Pihak sekolah beralasan membatalkan keputusan menerima Immi karena beberapa calon orangtua siswa menolak keberadaan Immi.
Terkadang kejujuran memang pahit rasanya. Immi ditolak masuk sekolah gara-gara mengatakan jujur bahwa sang ayah terinfeksi HIV. Orang tuanya memutuskan tidak akan menyekolahkan gadis kecil itu di sekolah tersebut.
"Saya tidak akan memilih di sekolah sini lagi karena ini juga tidak akan kondusif. Kejadian sepeti ini bukan pertama kali buat keluarga kita," kata perempuan berkacamata itu.
Penolakan seperti ini bukan baru pertama kali dialami oleh keluarga Leoni. 2008 lalu ketika ayah Immi, Fajar, memilih jujur dirinya terinfeksi HIV, Fajar kehilangan pekerjaan dan teman.
"Tapi kita rasa itu sebagai itikad baik kita daripada tahu dari orang lain dan kami ingin ada jaminan bahwa Immi akan mendapatkan kesempatan belajar yang sama dengan yang lain," terang Leonnie yang didampingi suaminya.
Fajar, sang suami, optimistis ada sekolah lain yang mau menerima anaknya sebagai siswa. "Tadinya saya memilih sekolah ini karena dekat rumah dan kita tahu kualitas pendidikan di sekolah ini cukup bagus," ujarnya.
Leonnie menuturkan, dia dan suaminya melakukan pertemuan tertutup dengan pihak SD Don Bosco. Masih ada perbedaan soal makna diskriminatif. Sebab sekolah bersikukuh mengatakan penolakan itu sebagai tindakan preventif. Pihak sekolah tidak ingin sekolah menjadi pusat penyebaran virus HIV-AIDS.
"Tetapi anak saya kan tidak HIV positif, mereka tidak memberlakukan ini kepada Immi," sambung dia.
Keluarga Leonnie mengultimatum pihak sekolah untuk menyampaikan maaf melalui media massa. Hal ini terpaksa ditempuh Leonniw, jika tidak dia khawatir anak-anak lainnya akan mengalami hal yang sama.
"Kami tidak ingin kalau ada yang menderita penyakit lalu orang-orang tidak mau menerima," ucap Leoni lirih.
(mer/ir)
BACA JUGA :









