
-
Kamis 17/05/2012 16:00 WIB
Ini Dia si Penghambat Orgasme -
Kamis 17/05/2012 14:01 WIB
Jerawatan Bikin Remaja Jadi Gampang Emosional -
Kamis 17/05/2012 12:03 WIB
Makan Sambil Minum Air Putih Bikin Orang Bijak Pilih Makanan -
Kamis 17/05/2012 10:59 WIB
Yang Perlu Dipahami dari Hipertensi -
Kamis 17/05/2012 09:46 WIB
Kisah Endang & Iis: Bersatu Karena Kanker, Terpisah Karena Kanker - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 6,069.000
-
Rp 472.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
Blogdetik Ajak Blogger Bicara Seks
Mungkin untuk sebagian orang masih tabu untuk dibicarakan, namun sebenarnya memiliki sejuta permasalahan dan mengundang pertanyaan yang kadang kita bingung untuk memecahkannya
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Rabu, 16/05/2012 11:38 WIB
Penelitian: Banyak Makan Gula Bisa Bikin Otak Jadi Bodoh
Posted : matsukoArtikel terkait :
- 5 Hal yang Diduga Menyebabkan Autis
- Jangan Remehkan Orang Autis, Mereka Sebenarnya Cerdas
- Tidak Sebabkan Autis, Vaksin MMR Masih Dipermasalahkan
- Orang Autis Sulit Melakukan Multitasking
- Bohong Soal Kesehatannya, Pria Autis Lolos Jadi Donor Sperma
- Autisme
Info Penyakit :
- Citicoline
- Adenosine
- Ceftazidime
Info Obat :
Saudara Kembar Identik dan Dua-duanya Terkena Autis
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Drew & Skyler (dok: MSNBC)
Jika melihat Drew dan Skyler Russert (16 tahun) sekarang baik di lapangan football maupun kelas, mungkin akan sulit untuk mengatakan dua remaja asal Los Altos, California ini menyandang autisme.
Drew dan Skyler didiagnosis autisme ketika baru berusia 4 tahun. Drew didiagnosis autisme tingkat moderat sedangkan Skyler tingkat parah. Mendengar diagnosis tersebut, tentu saja kedua orangtuanya, Peter Russert dan Gaynelle Grover, sangat terkejut.
"Ada perasaan emosional yang mengerikan, seperti ini tidak perlu terjadi," jelas ibundanya, Gaynelle Grover, seperti dilansir MSNBC, Jumat (10/2/2012).
Kini dua saudara kembar tersebut memang tidak menunjukkan gejala autis secara jelas, karena keluarga memiliki kombinasi terapi tradisional dan nutrisi untuk mengurangi gejala dan meningkatkan keterampilan bahasa serta komunikasi.
Seperti banyak orangtua anak autis, Russerts mencoba memberikan terapi kombinasi kompleks pada perubahan pola makan, seperti makanan bebas gluten dan enzim serta suplemen vitamin untuk menghilangkan ancaman lingkungan.
"Ini sedikit aneh, sebagai orangtua kami berubah menjadi seorang ilmuwan," jelas Peter Russert.
Setelah bertahun-tahun menjalani terapi bicara dan okupasi, dua saudara kembar itu tampak sudah bisa mengatasi gangguan tersebut. Mereka berdua dapat menghadiri kuliah seperti anak lainnya. Kesulitan komunikasi dan perilaku repetitif yang mereka alami saat balita pun sebagian besar sudah hilang.
Peter dan Gaynelle berterima kasih atas hasilnya, tetapi mereka tidak tahu persis apa yang membantu anak-anak bergerak melampaui diagnosis aslinya.
"Kita semua akan senang menyebutkan ini sebagai salah satu bagian keajaiban teka-teki kecil," jelas Gaynelle.
Menurut ayahnya, keluarga Russert sama sekali tidak memiliki riwayat autisme. Peter dan Gaynelle sempat bingung apa yang menyebabkan dua putra kembarnya menyandang autisme, mungkin polusi lokal, infeksi virus selama trimester kedua atau karena usia saat memiliki anak, yaitu Gaynelle 40 tahun dan Peter 44 tahun.
Sementara gen atau mutasi genetik dianggap 90 persen dapat menyebabkan gangguan otak, meski penelitian terbaru menunjukkan pemicunya adalah lingkungan.
Namun sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti Stanford University pada 192 kembar autis, termasuk Drew dan Skyler, tingkat autis yang lebih tinggi ditemukan pada kembar fraternal yang tidak berbagi DNA identik.
Penelitian yang telah diterbitkan dalam Archives of General Psychiatry, menunjukkan faktor lingkungan seperti usia tua saat hamil, berat lahir rendah dan infeksi ibu selama kehamilan, dapat menjelaskan 55 persen dari kerentanan seseorang terhadap autis.
BACA JUGA :









