
-
Kamis 24/05/2012 07:00 WIB
Manfaat Tertawa Sebanding dengan Berolahraga -
Rabu 23/05/2012 09:04 WIB
Begini Cara Kerja di Mak Erot dan On Clinic -
Rabu 23/05/2012 11:16 WIB
Ukuran Favorit yang Paling Disukai Pelanggan Mak Erot -
Rabu 23/05/2012 12:58 WIB
'Gadis Mutan', Tubuhnya Keluarkan Panas yang Bisa Membakar -
Rabu 23/05/2012 19:28 WIB
Sstt, Ini Tabu Lho Tapi Penting! - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 6,049.000
-
Rp 2,796.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
Cara Menghilangkan Bau Badan
Cara mengilangkan bau badan erat hubungannya dengan penyebab dari dalam, dalam hal ini adalah makanan. Kurangi konsumsi makanan dengan bumbu yang mempunyai aroma menyengat
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Rabu, 23/05/2012 11:55 WIB
Duh, 91% Remaja Merokok Karena Terpengaruh Iklan
Posted : matsukoArtikel terkait :
- Prof Melanie Djamil dan Cara Jitu Biar Tak Takut Dokter Gigi
- dr Christina Widaningrum yang Terus Berjuang Demi Orang Kusta
- dr Andre Pontoh yang Jatuh Cinta dengan Lutut
- Dr Alfreth Langitan, Pionir Vasektomi di Sulawesi
- Dr Chaidir Mochtar yang Piawai Tangani Cangkok Ginjal
- Acromegaly
- Arthritis Reaktif
- Botulisme Bayi
Info Penyakit :
- Bio Vision Gold
- Cloxacillin
- Cetirizine 10 mg
Info Obat :
Doctor's Life
Dr Ronald Hukom: Orang Indonesia Lebih Tabah Hadapi Kanker
Vera Farah Bararah - detikHealth
Dr Ronald Hukom (dok: detikHealth)
"Orang Indonesia itu lebih tabah dalam menghadapi kanker, banyak pasien yang lebih siap menerima kondisinya mungkin karena agamanya kuat. Pasien juga mau tahu tentang penyakitnya, dan sepanjang kita lihat dia siap menerimanya ya kita kasih tahu," ujar Dr Ronald saat ditemui detikHealth seperti ditulis Senin (13/2/2012).
Ia menuturkan sakit kanker benar-benar membutuhkan perhatian khusus, karena kalau seseorang terkena kanker maka keluarganya juga kena. Efeknya ia harus menunggui orang yang kena kanker dan perlu menyediakan biaya yang jumlahnya banyak.
"Saya beberapa kali mendapatkan pasien kanker yang merupakan anak tunggal, Anda bisa bayangkan kalau kita hanya punya satu anak terus ia kena kanker," ujar Dr Ronald.
Dr Ronald juga mengungkapkan pasien kanker sangat ingin tahu tentang penyakitnya meski pun terkadang diagnosanya buruk. Tapi sepanjang dokter melihat ia siap maka dokter akan memberi tahu.
"Tapi kalau saya kebanyakan bicara melalui keluarga, saya tidak bicara langsung dengan pasien. Artinya kita panggil entah anaknya, orangtuanya untuk bicara. Kita sampaikan penyakitnya, stadiumnya, kita ceritakan rencana pengobatannya dan kemungkinan untuk sembuh, atau hanya meringakan penderitaan atau menambah usia," imbuhnya.
Masalah kanker saat ini menurutnya harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah dan dari perhimpunan dokter, karena masalah ini tidak bisa lagi dilihat seperti 30 tahun yang lalu.
Dokter yang berhubungan dengan onkologi dan banyak rekan disiplin ilmu lain melihat hal ini sudah menjadi masalah, dokter spesialis enggak bisa lagi hanya menunggu tapi harus melihat keluar agar bisa bermanfaat untuk lingkungan dan keluarga kita.
"Bisa dibayangkan bagaimana kalau keluarga dekat kita terkena kanker dan enggak punya asuransi, karena itu hal ini harus dibereskan ke depannya," ujar dokter yang memiliki 2 orang anak.
Alasan terjun ke masalah darah
Dr Ronald mengungkapkan kenapa ia mendalami spesialisasi darah setelah menyelesaikan studi spesialis penyakit dalam.
"Dulu profesor saya Prof Harry (Prof Dr dr A Harryanto Reksodiputro, SpPD, K-HOM) menawarkan saya dan kebetulan saya suka ilmunya, jadi dasarnya saya suka dengan kelainan darah dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan darah," ujar Dr Ronald.
Awalnya, ia hanya mempelajari tentang darah (hematologi) tapi karena penyakit darah ini berhubungan dengan kanker, maka ia pun mempelajari tentang kanker (onkologi).
"Hematologi dan onkologi digabung karena efek samping dari obat sitostatiska dan kemoterapi itu banyak berkaitan dengan darah, efek di darah ini yang paling bahaya," ungkapnya.
Dr Ronald menjelaskan di dalam ilmu penyakit dalam ada 12 subspesialis, dan kadang senior atau Guru Besar mengarahkan para dokter dan melihat cocoknya dimana. Hingga akhirnya ia ditawarkan untuk mempelajari hematologi onkologi.
"Kita dikasih waktu mau enggak belajar tentang ini, kalau kita enggak senang kan pasti kita tidak mau mempelajari hal itu," ujar Dr Ronald yang pernah belajar epidemiologi di Inggris pada tahun 1997-1998.
Alasan menjadi seorang dokter
Dr Ronald mengungkapkan setelah lulus SMA, ia sempat daftar tes untuk di ITB dan juga UI dengan mengambil jurusan kedokteran dan teknik. Tapi waktu itu tes di ITB tidak jadi pergi karena ternyata hari ujiannya overlap dengan UI.
"Saya sempat mikir ITB kan di Bandung, akhirnya saya pilih yang di Jakarta saja. Artinya saya pilih kedokteran saja karena ayah saya juga dokter ahli jiwa (psikiater), teman-teman saya banyak yang ke ITB dan bukan dokter," ungkapnya.
Ketika sudah menjadi mahasiswa, ia sempat bimbang mau meneruskan jadi dokter atau bermain musik saja. Hal ini karena Dr Ronald sangat senang bermain musik piano klasik. Orangtuanya pun mengingatkan ia kalau bekerja sebagai dokter jelas arahnya, tapi kalau pemusik tidak semuanya bisa bertahan apalagi musik klasik.
"Jadi ya akhirnya saya selesaikan saja pendidikan kedokteran, tapi sekarang anak-anak saya suruh belajar musik. Kebetulan ibu saya juga main piano," ujar dokter kelahiran Jakarta 55 tahun silam.
Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, ia pun sempat ditugaskan di Puskesmas daerah terpencil di Maluku Tengah. Untuk mencapai puskesmas tersebut ia harus naik kapal kayu selama 20 jam dari kota Provinsi Ambon.
"Di situ hampir semua kasus pernah saya pegang. Saat itu saya berpikir penyakit dalam adalah cabang spesialis yang melihat pasien secara utuh dari ujung kepala sampai ujung kaki. Akhirnya saya memilih spesialis penyakit dalam," ujar Dr Ronald.
Biodata
Nama:
Dr Ronald Hukom, SpPD, KHOM
TTL:
Jakarta, 20 Juli 1956
Status:
Menikah dan memiliki 2 orang anak
Pendidikan:
Menyelesaikan pendidikan kedokteran hingga konsultan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Belajar untuk studi epidemiologi di Inggris pada tahun 1997-1998
Organisasi:
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)
Perhimpunan Dokter Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam (PERHOMPEDIN)
Pengurus Yayasan dana beasiswa Maluku
Tempat praktek:
RS Kanker Dharmais, RS Pondok Indah/Puri Indah, RS St Carolus
BACA JUGA :









