detikhealth

Dr Tinah Tan, Dokter Chiropractic Wanita Pertama Indonesia

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Senin, 27/02/2012 08:09 WIB
Halaman 1 dari 3
Dr Tinah Tan (dok. detikHealth)
Jakarta, Dokter chiropractic mungkin masih terdengar asing untuk Anda karena memang jumlah dokter chiropractic atau yang lebih dikenal dengan chiropractor belum banyak di Indonesia. Dari jumlahnya yang masih sedikit itu, Dr Tinah Tan, B.Med, B.AppSc, B.Chiro Sc, FICC adalah salah satunya. Ia bahkan merupakan chiropractor wanita pertama di Indonesia.

Diambil dari kata yunani, yaitu 'chiro' yang berarti oleh tangan dan 'practic' yang artinya praktik, chiropractic merupakan ilmu pengobatan alternatif ilmiah yang dapat memperbaiki susunan tulang belakang yang salah, yang dapat menyebabkan iritasi atau gangguan pada sistem saraf.

Kenapa tulang belakang? Karena di tulang belakanglah semua saraf-saraf berkumpul. Terdapat ratusan saraf yang ada di tulang belakang dan setiap saraf terhubung dengan sistem regulasi tubuh dan mengontrol semuanya.

Berbekal dengan ilmu kedokteran yang sudah diperolehnya dari Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya, Jakarta, Dr Tinah harus menempuh pendidikan chiropractic selama 3 tahun di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Melbourne, Australia, karena memang pendidikan tersebut belum ada di Indonesia bahkan hingga saat ini.

"Sejujurnya saya kenal chiropractic juga waktu di Australia, tadinya saya tidak tahu ada ilmu ini. Waktu itu tunangan saya sedang sakit pinggang, saya pikir okelah saya belajar. Dan waktu itu di Indonesia belum ada, jadi very good kalau saya bisa belajar lalu saya bawa ilmunya. Jadi itu cerita di tahun 1996," ujar Dr Tinah Tan, B.Med, B.AppSc, B.Chiro Sc, FICC, saat ditemui di Kidzania Pacific Place Mall, Jakarta, seperti ditulis Senin (27/2/2012).

Awalnya ilmu chiropractic ditemukan oleh seorang yang berasal dari Kanada, bernama D.D. Palmer pada tahun 1865. Pengobatan ini sering dianggap tradisional karena tidak menggunakan obat-obatan maupun tindakan operasi. Prinsip dasar terapi ini adalah penyembuhan dengan tangan, tanpa obat atau operasi. Namun menurut Dr Tinah, chiropractic tidak lagi disebut pengobatan tradisional melainkan complementary health medicine.

"Kita bisa memberikan suplemen, bukan obat. Kenapa? Kita bukannya anti dengan obat. Kalau anak atau orang dewasa tidak butuh obat, kita tidak perlu kasih obat, kecuali kalau dia misalnya sakit tifus kalau kita tunggu sembuh sendiri ya bakalan lama. Pemberian suplemennya itu kita cek dulu. Contoh, ini anak kok terlalu lentur ya, ini kekurangan zinc, saya tambahkanlah suplemen zinc. Tapi kalau anaknya kaku disuruh nekuk nggak bisa, berarti kebanyakan kalsium maka kalsiumnya jangan ditambahin lagi," jelas Dr Tinah.Next

Halaman 1 2 3
(mer/ir)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini

Artikel detikHealth juga bisa dibaca melalui aplikasi detikcom untuk Android, BlackBerry, iPhone, iPad & Windows Phone. Install sekarang!



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit