Welas Asih Prof Tuti Wahmurti untuk Jiwa-jiwa yang Sakit
Senin, 07/05/2012 12:01 WIB
Prof Tuti Wahmurti (Foto: detikHealth)
Berita Lainnya
Dr Nani Hersunarti, SpJP, Sehat Lahir Batin Berkat Dansa
Dr Florence Manurung, Dokter 'Pencerah' Dunia Anak-anak
dr Susie Rendra, Dokter Kulit yang Sempat 'Terhadang' Kerusuhan 98
Dr Lie Dharmawan & Perjuangan Bangun RS Apung Swasta Pertama Indonesia
Suka-duka dr Bhimantoro, SpOG Merawat Belasan Anak Anjing
Jakarta, Berhadapan dengan penderita gangguan jiwa mungkin menakutkan bagi banyak orang. Namun tidak bagi Prof Dr dr Tuti Wahmurti A. Sapiie, SpKJ (K), yang begitu berbelas kasih dengan pemilik jiwa-jiwa yang sakit.
Guru besar ilmu kedokteran jiwa dari Universitas Padjajaran ini pada dasarnya sudah tertarik dengan kejiwaan sejak dulu dan tak pernah bosan menghadapi pasien-pasiennya.
"Saya sejak remaja suka sekali mempelajari orang-orang, kenapa mereka marah, kenapa merenung. Saya juga suka bikin kliping-kliping tentang psikologi. Waktu saya jadi dokter, saya makin suka karena masyarakat lebih membutuhkan," kata prof Tuti disela-sela acara Seminar Media Gangguan Bipolar yang diselenggarakan belum lama ini seperti ditulis detikHealth, Senin (7/5/2012).
Kesadaran masyarakat mengenai gangguan jiwa cukup mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir, namun stigma yang melekat mengenai pasien gangguan jiwa di mata masyarakat masih melekat dan cenderung negatif. Orang awam juga masih ada yang menganggap gangguan jiwa sebagai hal yang remeh karena belum menyadari pentingnya kesehatan jiwa. Padahal, kesehatan jiwa itu sama pentingnya dengan kesehatan jasmani.
"Bedanya manusia dengan makhluk lain itu kan karena manusia punya jiwa. Jiwa itu seperti fisik, ada sakit yang ringan seperti flu, ada juga yang berat seperti kanker. Jiwa juga mirip, ada yang ringan misalnya reaksi depresi dan bisa diatasi sendiri. Nah, ada kalanya hal-hal yang berat butuh ke dokter. Jiwa juga begitu, ada kalanya butuh ke psikiater," kata prof Tuti.
Prof Tuti menuturkan bahwa zaman sekarang memang sudah berubah dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Masyarakat sudah semakin mengetahui gangguan jiwa disebabkan oleh adanya masalah di otak dan bisa diobati. Kalau pengobatannya dilakukan dengan cepat, maka harapan kesembuhannya sangat bagus. Sama halnya seperti penyakit fisik, jika cepat-cepat ditangani oleh dokter juga lebih cepat sembuh.
Yang lebih menyayat hati prof Tuti adalah pasien gangguan jiwa yang masih muda namun tidak tertangani dengan baik. Masa depan pasien yang masih panjang terancam suram karena gangguannya. Padahal jika didiagnosis dan diobati lebih dini, besar kemungkinan pasien masih bisa disembuhkan.
"Banyak pasien-pasien saya yang masih muda. Masa depannya ditentukan oleh pemeriksaan dan penanganan terapi. Kalau tidak segera ditangani, kasihan sekali masa depannya," kata prof Tuti.
Menurut dokter yang hobi membaca ini, semua pasien yang ditangani berkesan dan menarik. Walaupun diagnosanya sama, semua pasien itu unik, memiliki latar belakang dan kepribadian yang berbeda. Itulah yang membuat prof Tuti tak pernah bosan menangani pasien.
Ketika ditanya mengenai beberapa ruang lingkup antara psikiater dan psikolog, prof Tuti menjelaskan bahwa kedua profesi tersebut pada dasarnya saling mendukung. Memang, beberapa hal ada yang bersinggungan seperti halnya bidang ilmu lain seperti manajemen dengan hal-hal legal. Dan di situlah pentingnya kerja sama antara dua disiplin ilmu.
Saat ini, jumlah tenaga medis yang tersedia sudah cukup banyak. Jadi seharusnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa juga sudah meningkat. Mungkin masyarakat masih perlu waktu untuk menyadari bahwa memberikan cap negatif pada pasien gangguan jiwa bukanlah hal yang bijak. Prof Tuti juga sempat menceritakan awal-awal masa pengabdiannya sebagai dokter.
"Ketika lulus, di Bandung masih kurang jumlah dokter. Saya ditempatkan di Bandung karena waktu itu kekurangan tenaga medis dan membutuhkan putra daerah, kebetulan juga suami kerja di sana. Bahkan karena sedikitnya jumlah petugas, saya sampai pegang 2 puskesmas sekaligus," kenang prof Tuti.
Prof Tuti sering menghimbau kepada masyarakat agar membantu dan berbelas kasih kepada saudaranya yang mengalami gangguan, bukan mencemooh dan menjauhi.
"Orang yang disebut masyarakat sebagai gila itu masih saudara kita, mereka tidak punya kesalahan. Sebenarnya tidak ada diagnosis gila. Secara klinis gangguan itu biasanya disebut skizofren. Skizofren itu juga bukan salah mereka, mereka mungkin kurang beruntung dalam hidupnya. Justru kita perlu welas asih kepada mereka, perlu memberi bantuan supaya sembuh," kata prof Tuti.
Biodata
Nama: Prof Dr dr Tuti Wahmurti A. Sapiie, SpKJ (K)
Tempat dan Tanggal Lahir
Sukabumi, 6 Juni 1946
Status
Menikah dengan Ari Sarifin Sapiie (Alm.) dikaruniai 3 orang anak dan 7 orang cucu
Pendidikan
S1 Universitas Padjajaran (lulus tahun 1972)
Spesialis Kejiwaan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran
S3 Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran
Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas Padjajaran (2010)
Tempat Praktek
RSUP Hasan Sadikin, Bandung
Organisasi
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI)
Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC)
(pah/ir)
Guru besar ilmu kedokteran jiwa dari Universitas Padjajaran ini pada dasarnya sudah tertarik dengan kejiwaan sejak dulu dan tak pernah bosan menghadapi pasien-pasiennya.
"Saya sejak remaja suka sekali mempelajari orang-orang, kenapa mereka marah, kenapa merenung. Saya juga suka bikin kliping-kliping tentang psikologi. Waktu saya jadi dokter, saya makin suka karena masyarakat lebih membutuhkan," kata prof Tuti disela-sela acara Seminar Media Gangguan Bipolar yang diselenggarakan belum lama ini seperti ditulis detikHealth, Senin (7/5/2012).
Kesadaran masyarakat mengenai gangguan jiwa cukup mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir, namun stigma yang melekat mengenai pasien gangguan jiwa di mata masyarakat masih melekat dan cenderung negatif. Orang awam juga masih ada yang menganggap gangguan jiwa sebagai hal yang remeh karena belum menyadari pentingnya kesehatan jiwa. Padahal, kesehatan jiwa itu sama pentingnya dengan kesehatan jasmani.
"Bedanya manusia dengan makhluk lain itu kan karena manusia punya jiwa. Jiwa itu seperti fisik, ada sakit yang ringan seperti flu, ada juga yang berat seperti kanker. Jiwa juga mirip, ada yang ringan misalnya reaksi depresi dan bisa diatasi sendiri. Nah, ada kalanya hal-hal yang berat butuh ke dokter. Jiwa juga begitu, ada kalanya butuh ke psikiater," kata prof Tuti.
Prof Tuti menuturkan bahwa zaman sekarang memang sudah berubah dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Masyarakat sudah semakin mengetahui gangguan jiwa disebabkan oleh adanya masalah di otak dan bisa diobati. Kalau pengobatannya dilakukan dengan cepat, maka harapan kesembuhannya sangat bagus. Sama halnya seperti penyakit fisik, jika cepat-cepat ditangani oleh dokter juga lebih cepat sembuh.
Yang lebih menyayat hati prof Tuti adalah pasien gangguan jiwa yang masih muda namun tidak tertangani dengan baik. Masa depan pasien yang masih panjang terancam suram karena gangguannya. Padahal jika didiagnosis dan diobati lebih dini, besar kemungkinan pasien masih bisa disembuhkan.
"Banyak pasien-pasien saya yang masih muda. Masa depannya ditentukan oleh pemeriksaan dan penanganan terapi. Kalau tidak segera ditangani, kasihan sekali masa depannya," kata prof Tuti.
Menurut dokter yang hobi membaca ini, semua pasien yang ditangani berkesan dan menarik. Walaupun diagnosanya sama, semua pasien itu unik, memiliki latar belakang dan kepribadian yang berbeda. Itulah yang membuat prof Tuti tak pernah bosan menangani pasien.
Ketika ditanya mengenai beberapa ruang lingkup antara psikiater dan psikolog, prof Tuti menjelaskan bahwa kedua profesi tersebut pada dasarnya saling mendukung. Memang, beberapa hal ada yang bersinggungan seperti halnya bidang ilmu lain seperti manajemen dengan hal-hal legal. Dan di situlah pentingnya kerja sama antara dua disiplin ilmu.
Saat ini, jumlah tenaga medis yang tersedia sudah cukup banyak. Jadi seharusnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa juga sudah meningkat. Mungkin masyarakat masih perlu waktu untuk menyadari bahwa memberikan cap negatif pada pasien gangguan jiwa bukanlah hal yang bijak. Prof Tuti juga sempat menceritakan awal-awal masa pengabdiannya sebagai dokter.
"Ketika lulus, di Bandung masih kurang jumlah dokter. Saya ditempatkan di Bandung karena waktu itu kekurangan tenaga medis dan membutuhkan putra daerah, kebetulan juga suami kerja di sana. Bahkan karena sedikitnya jumlah petugas, saya sampai pegang 2 puskesmas sekaligus," kenang prof Tuti.
Prof Tuti sering menghimbau kepada masyarakat agar membantu dan berbelas kasih kepada saudaranya yang mengalami gangguan, bukan mencemooh dan menjauhi.
"Orang yang disebut masyarakat sebagai gila itu masih saudara kita, mereka tidak punya kesalahan. Sebenarnya tidak ada diagnosis gila. Secara klinis gangguan itu biasanya disebut skizofren. Skizofren itu juga bukan salah mereka, mereka mungkin kurang beruntung dalam hidupnya. Justru kita perlu welas asih kepada mereka, perlu memberi bantuan supaya sembuh," kata prof Tuti.
Biodata
Nama: Prof Dr dr Tuti Wahmurti A. Sapiie, SpKJ (K)
Tempat dan Tanggal Lahir
Sukabumi, 6 Juni 1946
Status
Menikah dengan Ari Sarifin Sapiie (Alm.) dikaruniai 3 orang anak dan 7 orang cucu
Pendidikan
S1 Universitas Padjajaran (lulus tahun 1972)
Spesialis Kejiwaan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran
S3 Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran
Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas Padjajaran (2010)
Tempat Praktek
RSUP Hasan Sadikin, Bandung
Organisasi
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI)
Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC)
(pah/ir)
Baca Juga
- Dr Zakiudin, Dokter Anak yang Punya Jiwa Petani
- Menkes Endang: Pengangkatan dan Pengunduran Diri yang Tak Biasa
- Dr Gilbert WS Simanjuntak dan Selembar Brosur dari India
- dr Farida Briani, Pilih Main Sinetron daripada Nonton
- Prof Dibyo, Jadi Dokter Gigi Karena Tak Mau Menggembala Kerbau
- Dr Andri, SpKJ, Mengulik Sisi Lain Pasien dari Gejala Psikosomatis
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Rabu,22/05/2013 20:05 WIB
Ini Alasan Pria Impoten Enggan Konsultasi ke Dokter
-
Rabu,22/05/2013 19:50 WIB
Hindari Kebiasaan Ini Bila Tak Ingin Disfungsi Ereksi
-
Rabu,22/05/2013 19:35 WIB
Risiko Impotensi Bisa Dikurangi Sejak Kecil Lho
-
Rabu,22/05/2013 19:20 WIB
Hati-hati, Cemas Juga Bisa Buat Pria Sulit Ereksi
-
Rabu,22/05/2013 19:07 WIB
Ini Gangguan Mata yang Bisa Dialami Ibu Hamil
-
Rabu,22/05/2013 18:47 WIB
'Tak Boleh Nikah Kalau Belum Vaksin Tetanus'
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Ini Gangguan Mata yang Bisa Dialami Ibu Hamil
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Jangan Biarkan Cacing Mata Bersemayam di Mata Anda
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Mata Anda Lelah? Langkah Ini Bakal Bikin Rileks
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Katarak dan Glaukoma, Penyakit yang Bisa Sebabkan Kebutaan
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Perhatikan Hal Ini Agar Mata Tak Iritasi karena Lensa Kontak
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Ini Akibatnya Jika 'Si Mata Empat' Malas Pakai Kacamata
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Kenalilah, Kelainan Mata yang Bisa Terjadi pada Anak
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Katakan Cinta pada Mata dengan Cara Ini
-
Rabu, 22/05/2013 18:09 WIB
Hobi Anal Seks, Adakah Alat Pembersih Lubang Anus?
-
Rabu, 22/05/2013 07:11 WIB
Dokter Bedah di RSUD Waled Cirebon Suka 'Nyodok' Sebelum Operasi
-
Rabu, 22/05/2013 19:45 WIB
Hindari Kebiasaan Ini Bila Tak Ingin Disfungsi Ereksi
-
Rabu, 22/05/2013 17:52 WIB
Ulasan Khas Mata Sehat
Jangan Biarkan Cacing Mata Bersemayam di Mata Anda
-
Rabu, 22/05/2013 14:16 WIB
'Ini Susuku, Matikan Rokokmu!'
-
Rabu, 22/05/2013 14:27 WIB
Ulasan Khas Mata Sehat
Ini Akibatnya Jika 'Si Mata Empat' Malas Pakai Kacamata
-
Rabu, 22/05/2013 10:22 WIB
Walau Diresepkan Dokter, Obat-obat Ini Punya Efek Samping Berbahaya
-
Rabu, 22/05/2013 11:24 WIB
Ulasan Khas Mata Sehat
Mata Minus dan Silinder Tak Bisa Sembuh, Mitos Atau Fakta?
-
11 Komentar
-
9 Komentar
-
7 Komentar
-
5 Komentar
-
5 Komentar
-
4 Komentar
-
3 Komentar
-
3 Komentar
-
Kalkulator Seks
Berapa Kali Anda Pernah Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Lama Berhubungan Seks
Berapa Durasi Rata-rata Ketika Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Masa Subur
Kapan Perkiraan Masa Paling Subur Anda?
Must Read
close
-
Selasa, 21/05/2013 20:10 WIB
Ingin Sering Bercinta? Catlah Kamar dengan Warna Karamel, Jangan Merah
-
Selasa, 21/05/2013 17:41 WIB
Telat Penuhi Gizi Anak di Usia Emas? Ini Langkah Berikutnya
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

Cek Masa Pertumbuhan Anak Anda







_7.gif)

