Dari Tahun ke Tahun, Payudara Wanita Makin Besar dan Beracun
Jumat, 08/06/2012 19:32 WIB
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Berita Lainnya
Jakarta, Dari tahun ke tahun, ukuran payudara wanita semakin besar. Bagi penampilan mungkin ini adalah hal yang baik. Tapi bagi kesehatan justru bisa berbahaya. Kecenderungan naiknya ukuran payudara ini diduga berkontribusi terhadap tingginya angka kanker payudara saat ini dan di masa mendatang.
"Payudara pada anak perempuan tumbuh semakin dini dibandingkan sebelumnya dalam sejarah. Artinya, kondisi biologis payudara berubah-ubah dan tidak menjadi lebih baik. Payudara wanita membesar seiring dengan ukuran lingkar pinggangnya," kata Florence William, penulis buku 'Breasts: A Natural and Unnatural History' seperti dilansir Daily Mail, Jumat (8/6/2012).
Di Amerika Serikat, ukuran bra rata-rata telah meningkat dari 34B menjadi 36C hanya dalam kurun waktu satu generasi. Perubahan ini dianggap mengkhawatirkan karena kenaikan berat badan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara selepas menopause.
Para gadis juga mencapai pubertas lebih dini dibandingkan sebelumnya. Faktor pubertas dini ini juga diketahui meningkatkan risiko kanker payudara. Menurut sebuah penelitian tahun 2010, sekitar 15 persen dari semua gadis di Amerika Serikat mulai tumbuh payudaranya sejak usia 7 tahun.
Jaringan payudara saat ini juga lebih rentan tercemar dan menyimpan berbagai jenis polutan. Bahan kimia seperti PCB dan merkuri disimpan dalam jaringan lemak dan pada perempuan cenderung berakhir di payudara serta ASI.
"Menyusui ternyata merupakan cara yang sangat efisien untuk mentransfer limbah industri masyarakat kita ke generasi berikutnya. Payudara kita menyerap polusi dan membawa beban kesalahan yang telah kita buat," kata William.
William juga pernah memeriksa sampel ASI-nya sendiri untuk dianalisis. Ternyata, ASI-nya mengandung perklorat, yaitu suatu zat dalam bahan bakar jet, serta bahan kimia penahan api pada tingkat 10 - 100 kali lebih tinggi dibandingkan wanita di Eropa.
Padahal selama ini menyusui anak dipercaya sangat bermanfaat bagi otak, tubuh dan sistem kekebalan tubuh bayi. Tapi racun industri banyak yang bertahan dalam tubuh wanita dan anak-anaknya selama bertahun-tahun. Jumlah tersebut cukup lama dan cukup banyak untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.
Meskipun demikian, polutan tersebut sampai saat ini belum dapat dipastikan sebagai penyebab langsung kanker payudara atau gangguan kesehatan yang berkaitan dengan payudara. Namun kecenderungan naiknya kasus kanker payudara agaknya bisa dijadikan sebagai suatu tanda bahaya.
Angka kejadian kanker payudara meningkat 2 kali lipat sejak tahun 1940 dengan perbandingan 1 dari 8 wanita memiliki kanker payudara dalam hidupnya. Bukti bahwa payudara berkembang dan berubah sampai trimester terakhir kehamilan agaknya membantu menjelaskan mengapa payduara adalah organ yang rentan terhadap perubahan dari lingkungan.
"Tubuh kita erat dengan dunia di sekitar kita. Jika kita hidup dalam lingkungan yang penuh dengan polusi, hal ini akan mempengaruhi kesehatan kita," pungkas William.
(pah/ir)
"Payudara pada anak perempuan tumbuh semakin dini dibandingkan sebelumnya dalam sejarah. Artinya, kondisi biologis payudara berubah-ubah dan tidak menjadi lebih baik. Payudara wanita membesar seiring dengan ukuran lingkar pinggangnya," kata Florence William, penulis buku 'Breasts: A Natural and Unnatural History' seperti dilansir Daily Mail, Jumat (8/6/2012).
Di Amerika Serikat, ukuran bra rata-rata telah meningkat dari 34B menjadi 36C hanya dalam kurun waktu satu generasi. Perubahan ini dianggap mengkhawatirkan karena kenaikan berat badan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara selepas menopause.
Para gadis juga mencapai pubertas lebih dini dibandingkan sebelumnya. Faktor pubertas dini ini juga diketahui meningkatkan risiko kanker payudara. Menurut sebuah penelitian tahun 2010, sekitar 15 persen dari semua gadis di Amerika Serikat mulai tumbuh payudaranya sejak usia 7 tahun.
Jaringan payudara saat ini juga lebih rentan tercemar dan menyimpan berbagai jenis polutan. Bahan kimia seperti PCB dan merkuri disimpan dalam jaringan lemak dan pada perempuan cenderung berakhir di payudara serta ASI.
"Menyusui ternyata merupakan cara yang sangat efisien untuk mentransfer limbah industri masyarakat kita ke generasi berikutnya. Payudara kita menyerap polusi dan membawa beban kesalahan yang telah kita buat," kata William.
William juga pernah memeriksa sampel ASI-nya sendiri untuk dianalisis. Ternyata, ASI-nya mengandung perklorat, yaitu suatu zat dalam bahan bakar jet, serta bahan kimia penahan api pada tingkat 10 - 100 kali lebih tinggi dibandingkan wanita di Eropa.
Padahal selama ini menyusui anak dipercaya sangat bermanfaat bagi otak, tubuh dan sistem kekebalan tubuh bayi. Tapi racun industri banyak yang bertahan dalam tubuh wanita dan anak-anaknya selama bertahun-tahun. Jumlah tersebut cukup lama dan cukup banyak untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.
Meskipun demikian, polutan tersebut sampai saat ini belum dapat dipastikan sebagai penyebab langsung kanker payudara atau gangguan kesehatan yang berkaitan dengan payudara. Namun kecenderungan naiknya kasus kanker payudara agaknya bisa dijadikan sebagai suatu tanda bahaya.
Angka kejadian kanker payudara meningkat 2 kali lipat sejak tahun 1940 dengan perbandingan 1 dari 8 wanita memiliki kanker payudara dalam hidupnya. Bukti bahwa payudara berkembang dan berubah sampai trimester terakhir kehamilan agaknya membantu menjelaskan mengapa payduara adalah organ yang rentan terhadap perubahan dari lingkungan.
"Tubuh kita erat dengan dunia di sekitar kita. Jika kita hidup dalam lingkungan yang penuh dengan polusi, hal ini akan mempengaruhi kesehatan kita," pungkas William.
(pah/ir)
Baca Juga
Foto Terkait
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Sabtu,25/05/2013 16:15 WIB
Ssst, Ini yang Mungkin Belum Anda Tahu tentang Ms V
-
Sabtu,25/05/2013 14:07 WIB
Dikira Sombong, Brad Pitt Idap Penyakit Langka Sulit Kenali Wajah
-
Sabtu,25/05/2013 12:04 WIB
Tak Hanya Sehat, Olahraga Juga Bikin Pintar Lho
-
Sabtu,25/05/2013 11:04 WIB
Sindrom Da Costa, 'Sakit Jantung' Yang Disebabkan Kecemasan
-
Sabtu,25/05/2013 10:03 WIB
Ini Dia Terapi Baru Buatan Jepang untuk Kanker Payudara
-
Sabtu,25/05/2013 08:10 WIB
Percuma Olahraga Kalau Malas Bersih-bersih Sehabis Berkeringat
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Ini Gangguan Mata yang Bisa Dialami Ibu Hamil
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Jangan Biarkan Cacing Mata Bersemayam di Mata Anda
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Mata Anda Lelah? Langkah Ini Bakal Bikin Rileks
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Katarak dan Glaukoma, Penyakit yang Bisa Sebabkan Kebutaan
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Perhatikan Hal Ini Agar Mata Tak Iritasi karena Lensa Kontak
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Ini Akibatnya Jika 'Si Mata Empat' Malas Pakai Kacamata
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Kenalilah, Kelainan Mata yang Bisa Terjadi pada Anak
-
Ulasan Khas Mata Sehat
Katakan Cinta pada Mata dengan Cara Ini
-
Sabtu, 25/05/2013 16:03 WIB
Ssst, Ini yang Mungkin Belum Anda Tahu tentang Ms V
-
Sabtu, 25/05/2013 13:58 WIB
Dikira Sombong, Brad Pitt Idap Penyakit Langka Sulit Kenali Wajah
-
Sabtu, 25/05/2013 11:53 WIB
Tak Hanya Sehat, Olahraga Juga Bikin Pintar Lho
-
Sabtu, 25/05/2013 11:04 WIB
Sindrom Da Costa, 'Sakit Jantung' Yang Disebabkan Kecemasan
-
Sabtu, 25/05/2013 09:54 WIB
Ini Dia Terapi Baru Buatan Jepang untuk Kanker Payudara
-
Sabtu, 25/05/2013 08:10 WIB
Percuma Olahraga Kalau Malas Bersih-bersih Sehabis Berkeringat
-
Jumat, 24/05/2013 20:01 WIB
4 Trik untuk Pria Agar Pasangan Lebih Mudah Capai Orgasme
-
Jumat, 24/05/2013 19:02 WIB
Sehatkah Vagina Anda? Ini Indikatornya
-
12 Komentar
-
10 Komentar
-
9 Komentar
-
7 Komentar
-
6 Komentar
-
6 Komentar
-
6 Komentar
-
5 Komentar
-
Kalkulator Seks
Berapa Kali Anda Pernah Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Lama Berhubungan Seks
Berapa Durasi Rata-rata Ketika Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Masa Subur
Kapan Perkiraan Masa Paling Subur Anda?
Must Read
close
-
Jumat, 24/05/2013 06:56 WIB
30 Menit Berolah Raga Secara Rutin Lebih Baik Daripada 2 Jam Sehari
-
Kamis, 23/05/2013 13:33 WIB
3 Penyebab Pria Sudah Botak di Usia 20-an Tahun
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

Cek Masa Pertumbuhan Anak Anda







_7.gif)

