detikhealth

Nafsiah Mboi, sang Menteri Kesehatan Baru

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Rabu, 13/06/2012 11:30 WIB
Nafsiah Mboi, sang Menteri Kesehatan BaruNafsiah Mboi (dok: KPA)
Jakarta, Gayanya energik dan tetap lincah meski usianya tak lagi muda. Jika berbicara masalah kesehatan masyarakat terutama HIV AIDS, semangatnya masih menggebu-gebu. Dialah Nafsiah Mboi yang baru saja diangkat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Menteri Kesehatan.

"Posisi menteri kesehatan saya percayakan kepada dr. Nafsiah Mboi, DSpA, MPH. Saya melihat kemampuan, pengalaman dan pengabdian beliau di waktu lalu yang berkomitmen kerja nyata untuk memajukan kesehatan masyarakat," kata Presiden SBY dalam pengumumannya di Istana Bogor, Rabu (13/6/2012).

Kepedulian Nafsiah pada kesehatan masyarakat sudah dilakukannya sejak lama, mulai dari lulus Fakultas Kedokteran UI kemudian menjadi dokter sukarelawan dwikora sampai kini menjadi sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional.

Perempuan 3 anak ini juga namanya sangat erat di hati masyarakat Nusa Tenggara Timur. Ini karena suaminya Benedictus Mboi yang akrab disapa Ben Mboi, pernah menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur selama 1 dekade pada 1978-1988.

Nafsiah diangkat menjadi Menteri Kesehatan setelah menteri sebelumnya Endang Rahayu Sedyaningish meninggal pada 2 Mei 2012 karena sakit kanker paru.

Dengan ditunjuknya Nafsiah sebagai Menkes baru, kementerian ini diisi terus oleh menteri perempuan yaitu Siti Fadilah Supari dan Endang Rahayu Sedyaningsih. Ketiga perempuan ini semuanya berprofesi dokter, Siti adalah dokter spesialis jantung, Endang dokter di spesialisasi kesehatan masyarakat dan Nafsiah di spesialisasi anak.

Nafsiah sendiri memang sudah berkali-kali menjadi kandidat Menteri Kesehatan, namun baru kali ini saat usianya sudah senja kesempatan itu datang.

Kemampuan dokter anak ini sudah tidak diragukan lagi. Ilmu dan prestasinya sangat mumpuni untuk menjabat sebagai Menteri Kesehatan. Apalagi ia sangat concern dengan target Millenium Development Goals (MDG's) yang harus dicapai pemerintah Indonesia pada 2015.

Profil Pribadi

Terlahir dari 6 bersaudara, Nafsiah Mboi merupakan putri sulung dari pasangan Andi Walinono dan Rahmatiah Sonda Daeng Badji. Ayah Nafsiah adalah hakim yang pernah bertugas di Ujungpandang, Surabaya, Jayapura, dan Jakarta serta merupakan tokoh masyarakat dan intelektual di Sulawesi Selatan.

Nafsiah memiliki saudara kandung bernama Prof Dr Andi Hasan Walinono, direktur jenderal dan sekjen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada era 1980-an, dan Dr Erna Witoelar, aktivis lingkungan yang juga mantan menteri era Presiden Abdurrahman Wahid.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2006, Nafsiah Mboi dipercaya untuk menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional. Posisi ini menggantikan pejabat sebelumnya, Sukawati Abubakar.

Dalam profil yang dikeluarkan KPA, Nafsiah pernah menjadi PNS karier di Kemenkes selama 35 tahun sebelum akhirnya menjadi anggota MPR RI periode 1982-1987.

Pendidikan dan Karir

Nafsiah menyelesaikan pendidikannya tahun 1958-1964 studi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Suaminya, Ben Mboi sempat menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 1978-1988. Keduanya bertemu di kampus FK UI. Ben adalah kakak kelas Nafsiah.

Ben sendiri lulus pada 1961 dan sempat terjun bersama Benny Moerdani saat operasi Trikora di belantara Papua Barat pada 1962. Persis setelah Nafsiah lulus pada 1964, mereka menikah. Keduanya kemudian bergabung sebagai dokter sukarelawan Dwikora.

Selama sepuluh tahun mendampingi suaminya sebagai gubernur di NTT, Nafsiah memberi perhatian besar pada masalah perempuan dan kesehatan anak. Kiprahnya itu membuat suaminya memperoleh penghargaan bergengsi dari Pemerintah Filipina yakni Ramon Magsaysay.

Jabatan terakhir yang disandang Ben Mboi adalah Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dibawah kepemimpinan mendiang Sudomo.

Nafsiah mendalami ilmu kesehatan anak di Amsterdam, Belanda pada tahun 1971-1972. Ia kemudian mendalami ilmu kesehatan masyarakat di Royal Tropical Institute, Antwerpen, Belgia dan meraih gelar master of public health (MPH) pada tahun 1990-1991.

Pada 1997-1999, Nafsiah dipercaya sebagai ketua Komite Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan merupakan satu-satunya orang Asia yang pernah mendapat posisi itu.

Selepas berkarier di Komite Anak PBB, Nafsiah dipercaya lagi menjadi direktur bidang gender dan kesehatan perempuan World Health Organisation (WHO) di Jenewa, 1997-2002. Setelah itu, Nafsiah kembali ke Indonesia dan menjabat sebagai wakil ketua Komnas Perempuan.

Nafsiah kemudian meneruskan pendidikannya di Harvard University, Amerika Serikat, untuk mendalami HIV/AIDS. Ia melihat HIV/AIDS bakal menjadi ancaman global karena bisa menyebar dengan cepat.

Di sana, ia bertemu Jonathan Mann, mantan Direktur Global Program on AIDS dari WHO yang menjadi pengajar di Harvard School of Public Health. Jonathan Mann ini adalah orang yang gencar menyuarakan bahaya AIDS. Nafsiah banyak mengikuti kelas Mann dan dilanjutkan aktif dalam kegiatan pencegahan AIDS di jalur hotline dan support group.

Pada 2005-2006 Nafsiah dipercaya sebagai konsultan Family Health International alias Aksi Stop AIDS. Pada Agustus 2006 Nafsiah akhirnya menjabat sebagai Sekretaris KPA Nasional. Sejak itulah dia berkeliling Indonesia untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya HIV/AIDS.

Selamat bekerja Ibu Menteri!


(ir/ir)


Punya pengalaman menarik seputar diet ? Kirimkan disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit