Stres Paling Efektif Diobati dengan Belanja?
Kamis, 21/06/2012 15:02 WIB
(Foto: Thinkstock)
Berita Lainnya
Ini Kriteria Obat yang Masuk Formularium Nasional
Menkominfo Diminta Beri Tanggapan Jelas Soal Petisi Stop Iklan Rokok
Daftar Obat Formularium Nasional akan Rampung Juli 2013
Ketua IBI: Bidan Tak Punya Kompetensi dan Wewenang untuk Sunat Perempuan
Seminggu Raih 5.000 Suara, Target Petisi Stop Iklan Rokok Ditambah
Jakarta, Setiap orang pasti memiliki cara-cara tersendiri jika berhadapan dengan stres. Salah satunya adalah makan banyak makanan atau ngemil dan pergi berbelanja. Biasanya hal ini dilakukan oleh kaum wanita.
Namun orang-orang yang mengalami stres ini akan jadi lebih selektif ketika berbelanja untuk mengatasi tantangan yang mungkin terjadi di masa depan. Hal ini diungkap sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Research.
Penyanyi dan presenter Tammy Faye Bakker pernah berkata, "Saya selalu mengatakan bahwa belanja itu lebih murah daripada pergi ke psikiater."
"Konsisten dengan pernyataan tersebut, studi ini pun menunjukkan bahwa konsumen menggunakan berbagai produk untuk mengatasi tantangan terhadap citra dirinya sekaligus untuk secara proaktif melindungi dirinya sendiri dari tantangan potensial di masa depan," ungkap peneliti Soo Kim dan Derek D. Rucker dari Kellog School of Management, Northwestern University.
Retail therapy atau terapi retail sendiri merupakan mekanisme untuk mengatasi stres yang sebenarnya sudah sangat umum dilakukan. Setelah mengalami stres yang menantang citra dirinya, konsumen cenderung meningkatkan konsumsinya dalam rangka mengalihkan perhatian dan "melupakan segala hal yang terjadi."
Namun apakah konsumen berbelanja untuk mengatasi stres setelah penyebab stres itu terjadi? Jawabannya tidak. Peneliti menemukan bahwa konsumen juga berbelanja secara proaktif ketika menghadapi tantangan potensial di masa depan yang menyangkut citra dirinya.
Meski begitu, konsumen cenderung sangat selektif dalam memilih produk-produk yang spesifik untuk situasi yang berpotensi negatif atau memberikan respon negatif.
Misalnya seorang siswa mungkin membeli sebotol 'Smart Water' sebelum menjalani ujian matematika. Tentu saja dengan asumsi air itu bisa membantunya berpikir dan mengerjakan soal-soal ujian dengan baik. Atau seorang konsumen yang membeli beberapa perhiasan mahal sebelum menghadiri reuni SMA untuk menghindari persepsi bahwa sebenarnya si konsumen ini belum sukses atau bahkan pengangguran.
Contoh lainnya seperti Anda membeli baju dari desainer terkemuka untuk menghadiri pertemuan penting yang menentukan masa depan perusahaan.
Sebelum menerima umpan balik negatif, konsumen memilih menggunakan produk yang secara khusus bertujuan untuk memperkuat atau menjaga citra dirinya yang mungkin berada di bawah ancaman.
"Namun setelah menerima umpan balik negatif, tampaknya konsumen justru meningkatkan konsumsinya sebagai alat untuk mengalihkan perhatian mereka dari umpan balik negatif tersebut," simpul peneliti seperti dilansir dari health24, Kamis (21/6/2012).
(ir/ir)
Namun orang-orang yang mengalami stres ini akan jadi lebih selektif ketika berbelanja untuk mengatasi tantangan yang mungkin terjadi di masa depan. Hal ini diungkap sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Research.
Penyanyi dan presenter Tammy Faye Bakker pernah berkata, "Saya selalu mengatakan bahwa belanja itu lebih murah daripada pergi ke psikiater."
"Konsisten dengan pernyataan tersebut, studi ini pun menunjukkan bahwa konsumen menggunakan berbagai produk untuk mengatasi tantangan terhadap citra dirinya sekaligus untuk secara proaktif melindungi dirinya sendiri dari tantangan potensial di masa depan," ungkap peneliti Soo Kim dan Derek D. Rucker dari Kellog School of Management, Northwestern University.
Retail therapy atau terapi retail sendiri merupakan mekanisme untuk mengatasi stres yang sebenarnya sudah sangat umum dilakukan. Setelah mengalami stres yang menantang citra dirinya, konsumen cenderung meningkatkan konsumsinya dalam rangka mengalihkan perhatian dan "melupakan segala hal yang terjadi."
Namun apakah konsumen berbelanja untuk mengatasi stres setelah penyebab stres itu terjadi? Jawabannya tidak. Peneliti menemukan bahwa konsumen juga berbelanja secara proaktif ketika menghadapi tantangan potensial di masa depan yang menyangkut citra dirinya.
Meski begitu, konsumen cenderung sangat selektif dalam memilih produk-produk yang spesifik untuk situasi yang berpotensi negatif atau memberikan respon negatif.
Misalnya seorang siswa mungkin membeli sebotol 'Smart Water' sebelum menjalani ujian matematika. Tentu saja dengan asumsi air itu bisa membantunya berpikir dan mengerjakan soal-soal ujian dengan baik. Atau seorang konsumen yang membeli beberapa perhiasan mahal sebelum menghadiri reuni SMA untuk menghindari persepsi bahwa sebenarnya si konsumen ini belum sukses atau bahkan pengangguran.
Contoh lainnya seperti Anda membeli baju dari desainer terkemuka untuk menghadiri pertemuan penting yang menentukan masa depan perusahaan.
Sebelum menerima umpan balik negatif, konsumen memilih menggunakan produk yang secara khusus bertujuan untuk memperkuat atau menjaga citra dirinya yang mungkin berada di bawah ancaman.
"Namun setelah menerima umpan balik negatif, tampaknya konsumen justru meningkatkan konsumsinya sebagai alat untuk mengalihkan perhatian mereka dari umpan balik negatif tersebut," simpul peneliti seperti dilansir dari health24, Kamis (21/6/2012).
(ir/ir)
Baca Juga
- Tingkat Stres Naik Dari Tahun ke Tahun Sejak 1983
- Gemuk dan Sering Stres Efeknya Bisa Ngantuk Sepanjang Hari
- Saat Stres Baiknya Matikan TV dan Komputer
- Jangan Buru-buru Ambil Obat, Atasi Stres dengan Minyak Lemon
- Keranjingan Belanja? Kasih Obat Alzheimer Pasti Sembuh
- Wanita Lebih Stres Memikirkan Gaji, Pria Memikirkan Jam Kerja
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Selasa,18/06/2013 11:24 WIB
Beda Iklim, Ini Risiko Gangguan Kesehatan Jemaah Haji di Tanah Suci
-
Selasa,18/06/2013 10:31 WIB
Bila Sembarangan, Liburan dan Makan Siang Pun Bisa Picu Migrain
-
Selasa,18/06/2013 10:00 WIB
Teknik 'Las' Ini Diklaim Mampu Sembuhkan Luka Caesar Lebih Cepat
-
Selasa,18/06/2013 09:39 WIB
Awas, Berebut Mainan dengan Saudara Picu Gangguan Mental pada Anak
-
Selasa,18/06/2013 09:01 WIB
Persahabatan Jadi Kunci Sukses Diet Kedua Gadis Ini
-
Selasa,18/06/2013 08:33 WIB
Ilmuwan Anggap Nyeri Akibat Kelamaan Mengetik Cuma Soal Keyakinan
-
Punya Otot Kuat, Stamina Saat Bercinta Makin Dahsyat
-
Ingin Punya Perut Sixpack ? Ini Caranya
-
Ini Dia Pria dengan Otot Tubuh Paling Seksi di Mata Wanita
-
Laki-laki Berotot, Seksi atau Menyeramkan?
-
Ini Cara Mengencangkan Betis Agar Tak Kebablasan Jadi 'Berkonde'
-
Bodybuilding Bikin Payudara Mengecil? Sebaliknya, Justru Makin Kencang
-
Selasa, 18/06/2013 10:00 WIB
Teknik 'Las' Ini Diklaim Mampu Sembuhkan Luka Caesar Lebih Cepat
-
Selasa, 18/06/2013 09:39 WIB
Awas, Berebut Mainan dengan Saudara Picu Gangguan Mental pada Anak
-
Selasa, 18/06/2013 10:55 WIB
Berat Badan Naik Saat Umur Sebulan, Tanda Bayi Bakal Jadi Pintar
-
Selasa, 18/06/2013 08:08 WIB
Kisah April, Bayi 6 Bulan yang Melawan Penyakit Langka Emanuel Syndrome
-
Selasa, 18/06/2013 09:01 WIB
Persahabatan Jadi Kunci Sukses Diet Kedua Gadis Ini
-
Selasa, 18/06/2013 10:31 WIB
Bila Sembarangan, Liburan dan Makan Siang Pun Bisa Picu Migrain
-
Selasa, 18/06/2013 07:32 WIB
Dengan Operasi Bariatrik, Pria Ini Berhasil Susutkan Bobot 100 Kg
-
Selasa, 18/06/2013 08:33 WIB
Ilmuwan Anggap Nyeri Akibat Kelamaan Mengetik Cuma Soal Keyakinan
-
34 Komentar
-
18 Komentar
-
16 Komentar
-
16 Komentar
-
15 Komentar
-
9 Komentar
-
6 Komentar
-
6 Komentar
-
Kalkulator Seks
Berapa Kali Anda Pernah Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Lama Berhubungan Seks
Berapa Durasi Rata-rata Ketika Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Masa Subur
Kapan Perkiraan Masa Paling Subur Anda?
Must Read
close
-
Senin, 17/06/2013 19:59 WIB
Sayatan Kelamin pada Sunat Perempuan = Memotong Sepertiga Penis Pria
-
Senin, 17/06/2013 19:30 WIB
Komnas Anak: RUU Pertembakauan Bukti Negara Kalah dari Industri Rokok
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

Cek Masa Pertumbuhan Anak Anda






_3.gif)


