detikhealth

Ulasan Khas

Gagah, Atletis, Punya Karir Hebat Tapi Terenggut Kanker

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 27/06/2012 07:47 WIB
Gagah, Atletis, Punya Karir Hebat Tapi Terenggut KankerBerthie Sompie (Foto: detikHealth)
Jakarta, Kalau ada hal yang paling disesali Berthie Sompie, maka hal itu adalah kebiasaan merokoknya yang parah. Kebiasaan ini memberinya panen emas berupa kanker paru dan usus sekaligus, hingga karirnya sebagai atlet ikut hancur karenanya.

Laki-laki berkumis yang rambutnya mulai memutih itu masih tampak gagah dan atletis di usianya yang sudah 53 tahun. Pemilik nama asli Albert Charles Sompie tersebut sedianya bahkan mau menemani anak bungsunya, Albert Alvin Sompie (19 tahun) bermain futsal.

"Kalau tidak diingatkan ada janji wawancara, ini tadi saya mau main futsal sama anak saya," kata Berthie yang sore itu mengenakan kaos olahraga warna merah berlogo Adidas, saat ditemui di kediamannya di Cempaka Putih, seperti ditulis detikHealth, Rabu (27/6/2012).

Dengan postur begitu gagah, siapa sangka mantan Kapten Tim Nasional Softball era 1990-1980 ini sudah kehilangan setengah dari paru-paru kanan dan hampir dua pertiga usus besarnya. Kedua organ tersebut digerogoti kanker dan dua-duanya merupakan kanker primer, bukan cuma karena salah satu menyebar ke tempat lain.

Karirnya sebagai atlet softball profesional, juga sebagai konsultan keuangan ikut hancur bersamaan dengan diagnosis kanker yang diterimanya di usia 47 tahun, sekitar awal November 2004. Berat baginya meninggalkan dunia olahraga yang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama ini.

"Softball itu hidup saya, satu-satunya obat saya ketika balik badan menghindari operasi. Saya ketemu istri saya pertama kali juga di lapangan softball," kenang suami dari drg Endah Wahyuningsih yang dikenalnya semasa SMA saat ikut kejuaraan softball antar-pelajar di Surabaya puluhan tahun silam.

Berthie memang sempat mengingkari kondisinya, tidak berani menghadapi kanker yang sudah mengancam jiwanya. Setahun lamanya dia balik badan menghindari pengobatan medis, memilih pengobatan alternatif sambil sesekali nonton pertandingan softball untuk mengalihkan perhatian dari sakitnya.

Dengan logat Jawa Timur yang kental, laki-laki berdarah Manado yang lahir di Surabaya ini mengaku hampir gila memikirkan masa depannya saat itu. Bukan cuma terancam tidak bisa main softball, ia juga mengkhawatirkan berbagai informasi tentang kanker yang selalu berujung pada ketidaksembuhan.

Ketakutan itu masih menghantuinya ketika mau tidak mau ia harus menerima saran kakak iparnya, Prof Dr Menaldi Rasmin, SpP(K) untuk operasi. Kanker di paru-parunya yang semua berukuran 6,5 cm sudah tumbuh menjadi 8 cm sehingga harus dijadwalkan operasi pada Desember 2005.

"Sampai di situ saya masih berusaha buying time, menawar-nawar bagaimana kalau Januari saja sekalian biar dokter dan perawatnya bisa Natalan dulu. Akhirnya saya menyerah, tetapi saya ngotot masa persiapan pra-operasi harus saya jalani di rumah saja. Yang ini, gantian rumah sakit yang mengalah," kata Berthie.

Beberapa hari menjelang operasi, Berthie masih sempat minta izin kepada Prof Menaldi untuk ikut pertandingan dulu. Kakak iparnya itu mengizinkan, meski diakui oleh Berthie kemampuan fisiknya agak berkurang ketika secara fisik paru-parunya sudah disabotase oleh kanker.

Keberhasilan operasi pada 27 Desember 2005 membuat rasa percaya dirinya bangkit untuk menghadapi operasi berikutnya, yakni mengangkat kanker yang juga menggerogoti ususnya. Bagian terburuk untuk menyembuhkan kanker paru telah dijalaninya, termasuk 6 kali kemoterapi yang menyakitkan, sehingga kali ini Berthie lebih tegar.

Luka jahitan bekas operasi masih menyisakan jejak yang begitu jelas di punggung dan perutnya. Di awal-awal masa pemulihan, luka di punggung membuat lengan kanannya susah diluruskan sehingga untuk berenang kayuhan tangannya agak tidak berimbang.

Namun sisa-sisa semangatnya sebagai seorang atlet nasional menjadi dorongan yang sangat kuat untuk tidak pernah menyerah. Perlahan tetapi pasti, tangan kanannya mulai bisa digerakkan secara penuh dan sekarang sudah bisa dipakai untuk bermain squash.

Untuk berkarir lagi sebagai atlet softball profesional, rasanya memang sulit diwujudkan dengan paru-paru kanan yang tinggal separuh, di samping faktor usia yang juga sudah makin bertambah. Namun untuk menjaga kondisi, hampir setiap hari Berthie bergantian menjalani segala jenis olahraga termasuh bermain futsal dengan Alvin, anak bungsunya.

Menyesali rokok

Sejak awal menerima diagnosis, Berthie yakin betul penyebab kanker yang dideritanya adalah kebiasaan merokoknya yang memang luar biasa parah. Dalam sehari, Berthie saat itu sanggup menghabiskan 60 batang/hari atau sekitar 3 bungkus kalau masing-masing berisi 20 batang.

"Saya hidup di dua sisi yang sebetulnya tidak boleh berjalan bersamaan. Saya atlet, tetapi juga perokok berat. Gaya hidup saya sangat sehat, kecuali saya merokok. Saya bahkan tidak makan daging," kata Berthie.

Saking sukanya merokok, Berthie yang merokok sejak umur 17 tahun sampai harus membawa rokok sendiri kalau bertanding ke luar negeri karena harga rokok di sana terlalu mahal. Ia mencontohkan saat bertanding ke Jepang selama 2 minggu, rokok yang dibawanya sebagai bekal bisa mencapai 70 bungkus.

Begitu juga saat berjuang melawan kanker usus dan paru, Berthie masih merasa sulit untuk berpisah dengan rokok. Bahkan saat menunggu giliran operasi, Berthie mengaku masih menyempatkan diri menghisap sebatang rokok sebagai salam perpisahan.

"Bagi seorang mantan perokok, salah satu hal yang paling membanggakan adalah kalau ditanya momen berhenti merokoknya. Kapan berhenti merokok? Oh, pas menikah. Oh, pas ulang tahun kesekian. Oh, pas anak saya lahir. Kebetulan, saya sendiri pas mau operasi kanker paru-paru," tutur Berthie dengan senyum tersungging.
 
 
 
 
(up/ir)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit