detikhealth

Ulasan Khas

Orang-orang yang Sedang Berjuang Melawan Kanker

AN Uyung Pramudiarja,Putro Agus Harnowo - detikHealth
Rabu, 27/06/2012 15:01 WIB
Orang-orang yang Sedang Berjuang Melawan Kankerilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Kena penyakit kanker bukan berarti lantas menganggap bahwa dunia akan berakhir. Kanker bisa diobati dengan terapi yang tepat dan pasien mau disiplin menjalani pengobatan. Pengobatan kanker memang membutuhkan waktu yang lama dan menguras tenaga.

Banyak pasien kanker yang tetap memiliki semangat dalam melawan kanker yang diderita. Banyak pula kisah yang terjadi dalam upaya mencari kesembuhan dari kanker. Beberapa kisah yang berhasil dihimpun detikHealth, Rabu (27/6/2012) antara lain:

1. Curiga Kena Kanker Serviks Karena KB
Zubaedah (58 tahun) asal Bogor mengidap kanker serviks stadium III. Ia baru menyadari gejala penyakitnya tahun 2011 lalu. Awalnya ia melihat sering keluar darah dari vagina secara tidak teratur dan terkdang disertai keputihan.

Berdasarkan pemeriksaan RS PMI Bogor, dokter menemukan bahwa penyebabnya adalah kanker. Zubaedah pun segera dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Sampai saat ini, sudah 3 bulan ia menjalani pengobatan di RSCM.





Zubaedah mencurigai kankernya ini disebabkan oleh suntik KB yang sering ia lakukan. Namun dokter yang memeriksa sendiri menurutnya tidak mengetahui apa pastinya penyebab kanker yang ia derita.

Ketika ditemui di Rumah Singgah pasien kanker binaan CISC di bilangan Paseban, kondisinya sangat lemas, kurus dan kulitnya sangat keriput. Menurut penuturan putri kandung yang merawatnya, berat badan Zubaedah menyusut dari 70 kg menjadi 48 kg.

Akibat kemoterapi yang dijalani, Zubaedah sering buang air besar, mual dan malas makan. Sampai saat ini, ia sudah mendapat 20 kali terapi radiasi dan 3 kali kemoterapi. Ia masih harus menjalani kemoterapi 3 kali lagi.

Dokter meminta Zubaedah banyak mengkonsumsi buah, sayur dan susu. Nasi tidak perlu dikonsumsi banyak-banyak dan menyaranan untuk mengurangi makan daging, ikan asin dan terasi.

2. Belum Sembuh Total Sudah Kabur, Kemudian Kumat Lagi
Hj Siti Mustafiah (53 tahun) asal Lampung mengidap tumor rahim dan sudah diangkat rahimnya pada tahun 2010 lalu. Ia juga sudah menjalani kemoterapi sebanyak 2 kali. Karena sudah merasa baikan, ia kemudian kabur dan pulang kembali ke Lampung. Padahal pengobatan kemoterapinya masih belum sepenuhnya selesai.

Pada tahun 2012 gejalanya penyakitnya kumat lagi. Bagian rahim yang sudah diangkat terasa membengkak. Selang 2 bulan kemudian, ia kembali berobat ke RS Dharmais dan menemui dokter yang dulu pernah menanganinya, dr Jack Zackifman. Terang saja dr Jack mengenali Siti dan memperingatkan agar jangan kabur lagi.

Menurut hasil pemeriksaan, tumor di rahimnya belum hilang sepenuhnya dan masih aktif menghasilkan cairan. Cairan ini menumpuk sehingga membuat perutnya membengkak. Beruntung tumornya masih masuk stadium II, jadi masih bisa dikendalikan.





Saat ini, Siti sudah menjalani 3 kali kemoterapi sejak bulan Maret 2012. Ia masih harus menjalani 3 kali lagi kemoterapi kemudian dilihat perkembangan kondisinya.

Sebelum memutuskan kembali ke Dharmais, Siti sempat menjalani pengobatan alternatif berupa pijat. Ia juga sempat mendatangi orang yang mengaku sebagai dokter dan ditawari obat sari kulit manggis dengan harga Rp 400.000 sebotol.

Siti langsung curiga akan niatan si 'dokter'. Pasalnya, bidan di puskesmas pernah menawari obat serupa lengkap dengan paket tambahan seperti suplemen, tablet dan lain-lain dengan harga Rp 300.000. Karena curiga, Siti kemudian berhenti mengunjungi berobat ke 'dokter' ini.

3. Tidak Merokok Tapi Kena Kanker Nasofaring
Mashuri (63 tahun) asal Lampung mengidap kanker nasofaring stadium IV. Awalnya ia merasakan gejala telinga berdenging, hidung tersumbat dan muncul benjolan besar di leher sebelah kanan. Setelah menjalani pemeriksaan CT Scan di RS Abdul Malik, Bandar Lampung, ia diketahui positif mengidap kanker nasofaring. Ia kemudian dirujuk ke RS Dharmais.

Hasil pemeriksaan di RS Dharmais menunjukkan bahwa kankernya sudah masuk stadium IV. Ia menjalani kemoterapi sebanyak 2 kali dan operasi pengangkatan benjolan pada bulan Maret 2009. Setelah itu ia diminta beristirahat di rumah.

Pada bulan maret 2011, muncul lagi benjolan sebanyak 7 buah di lehernya. Bahkan satu benjolan ada yang beratnya mencapai 1,5 kg di leher bagian kanan. Mashuri kemudian kembali lagi ke RS Dharmais untuk mengangkat benjolan dan mendapat radiasi sebanyak 40 kali serta kemoterapi 9 kali. Benjolannya ini menyusut dan ia diminta untuk periksa lagi setengah tahun berikutnya.





Ketika kontrol lagi pada bulan Mei 2012, muncul lagi 2 benjolan di leher sehingga harus menjalani 3 kali kemoterapi. Benjolan ini sekarang sudah sedikit menyusut. Kemoterapi terakhir dilakukan pada tanggal 29 Mei 2011 lalu dan direncanakan masih akan menjalani kemoterapi satu kali lagi.

Mashuri mengaku tidak pernah merokok dan menjalani hidup sederhana di desa. Namun ia mengaku memang dulu waktu masih muda sering bekerja keluar kota dan banyak mengkonsumsi makanan gorengan.

4. Sempat Kena Tipu 100 Juta Karena Ingin Obati Kanker
Afit Supriadi (47 tahun) asal Batam menderita kanker nasofaring. Ada 2 benjolan di leher sebelah kanan dan kirinya. Ia mengetahui diagnosis kankernya ini dengan cara berobat ke Singapura pada bulan November 2007. Menurut dokter, kankernya masih stadium I dan memilki kemungkinan sembuh sebesar 90%.

Ia mendapat informasi bahwa pengobatan di Singapura dengan paket sebanyak 30 kali radiasi harus menghabiskan uang sebanyak Rp 175 juta. Di Malaysia harganya lebih murah, yaitu satu paket pengobatan 30 kali radiasi seharga Rp 30 juta. Namun angka segitu tetap saja terhitung besar bagi Afit.

Afit berusaha mencari pengobatan alternatif. Sudah tak terhitung berapa banyak pengobatan alternatif yang ia ikuti, mulai dari berobat ke kiai, dukun, mencoba obat dari MLM, pemijatan hingga berobat ke Sinshe. Ia bahkan sempat mengunjungi seorang dukun di Cirebon yang mengaku mampu memindahkan penyakitnya ke kambing dengan membayar uang 10 juta.

Ia kemudian dibujuk bahwa dukun sakti itu bisa menggandakan uangnya berpuluh kali lipat jika Afit besedia menyediakan uang 100 juta. Karena putus asa ingin mendapat uang lebih banyak untuk membiayai pengobatan, Afit menyanggupi permintaan dukun. Sayang, tak lama setelah uang diserahkan, sang dukun kabur naik motor membawa uang 100 juta di depan matanya.





Yang menyedihkan, berbagai pengobatan tersebut tidak membuat penyakitnya membaik, namun justru betambah parah. Bahkan salah satu benjolannya membesar hingga sebesar botol air mineral.

Afit kemudian mendapat informasi dari seorang bidan puskesmas di tempat tingalnya bahwa RS Dharmais Jakarta memberikan pengobatan kanker secara gratis. Akhirnya mulai bulan Juni 2011, ia berobat ke RS Dharmais. Dokter mendiagnosa bahwa kankernya sudah meningkat ke stadium III.

Afit sudah menjalani 35 kali radiasi dan 6 kali kemoterapi. Benjolan di lehernya kini sudah tak nampak lagi. Namun ia mengaku bagian samping lehernya masih terasa kaku. Meskipun demikian, Afit belum boleh pulang karena masih harus menjalani kemoterapi 3 kali lagi. Dan semua pengobatan tersebut ia dapatkan secara gratis lewat Jamkesmas.
 
 
 
 
(pah/ir)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit