detikhealth

Ulasan Khas

Kisah Orang-orang yang Berhasil Melawan Kanker

Merry W, Linda M - detikHealth
Rabu, 27/06/2012 16:00 WIB
Kisah Orang-orang yang Berhasil Melawan Kanker(Foto: thinkstock)
Jakarta, Kanker memang bukan penyakit yang mudah untuk disembuhkan, namun bukan berarti tak ada peluang untuk sembuh. Semakin dini kanker terdeteksi, maka peluang untuk sembuh pun semakin besar. Setidaknya ada beberapa kisah sukses orang-orang yang menang melawan kanker, yang dapat dijadikan contoh.

Penyakit kanker tidak selalu berujung dengan kematian. Hal tersebut tergantung besarnya keinginan si penderita untuk tetap bertahan dan dukungan yang besar dari keluarga. Berikut cerita dari penderita kanker yang dengan gigih berusaha untuk terbebas dari kanker.

1. Zainudin, survivor kanker laring

Salah satunya adalah Zainudin (39 tahun). Ia didiagnosis kanker laring (kotak suara) karena menjadi korban rokok. Zainudin bukanlah penggila rokok melainkan perokok pasif yang jadi korban asap rokok.

Zainudin pernah menghisap rokok namun hanya sesekali demi penghormati teman-temannya. Namun ia tidak terpengaruh oleh candu rokok karena sama sekali tidak merokok ketika di rumah atau melakukan aktivitas lain.

Malangnya, ia menjadi korban asap rokok orang lain dan didiagnosis menderita kanker laring (kotak suara) pada Desember 1995. Tak ingin menunggu lama, ia segera memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan pita suara pada Februari 1996.

Alhasil, kini terdapat lubang di leher Zainudin. Bila berbicara, suaranya terdengar seperti robot dan ada hembusan udara yang keluar dari lubang tersebut. Hembusan tersebut akan terlihat jelas ia menggunakan penutup leher seperti sapu tangan.

"Gejala kanker laring awalnya suara serak, sering batuk-batuk dan sesak napas karena ada benjolan kanker di pita suara. Saya bicara tanpa pita suara, tapi secara alami dari suara saluran makan yang namanya esofagus. Kalau orang-orang kena polusi ada bulu hidung yang menyaring, tapi kalau saya tidak ada karena dari lubang di leher ini jaraknya cuma 10 cm ke paru-paru," jelas Zainudin dengan suaranya yang lebih terdengar seperti robot, saat berbincang dengan detikHealth, beberapa waktu lalu, seperti ditulis Rabu (27/6/2012).





Zainudin merupakan korban kanker laring termuda karena rata-rata penderita kanker laring berusia di atas 50 tahun. Karena lubang di lehernya yang sangat sensitif, ada beberapa hal yang harus dihindarinya, yaitu air, benda asing dan polusi udara.

"Kalau mandi saya basahi air sampai dada, kalau keramas harus nunduk, jadi nggak boleh kemasukan air. Tapi sering juga kena cipratan-cipratan air, ya langsung batuk-batuk gitu jadinya. Kemana-mana harus ditutup, kalau mau naik angkot saya harus memastikan bahwa di angkot tidak ada yang merokok, karena saya berbeda dengan kalian, polusi udara langsung masuk paru-paru nggak ada lagi penyaring di hidung," tutup Zainudin.

Pada tahun 2002 ia juga pernah dikirim ke Jepang selama 3 bulan untuk melatih kemampuan bicara melalui saluran makan. Sepulang dari sana, Zainudin kini menjadi relawan yang mengajarkan cara berbicara pada sesama mantan penderita kanker laring yang kehilangan pita suara di Speech Training RSCM.

2. Martini Lim, survivor kanker payudara

Martini (48 tahun) adalah salah satu survivor kanker payudara yang berhasil mengatasi keterpurukan menghadapi diagnosis dan tekanan mental pasca terapi. Saat mendapat diagnosis kanker, usianya masih tergolong muda yaitu 38 tahun. Saking putus asanya, ia pun tak berpikir untuk melakukan terapi pengobatan.

Benjolan pertama kali terasa di payudara Martini pada saat ia melakukan SADARI (periksa payudara sendiri). Saat merasa ada yang aneh, ia pun memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam. Setelah dilakukan USG dan mamografi, dokter pun mendiagnosisnya dengan kanker yang tergolong ganas dan dirujuk ke dokter bedah untuk segara dilakukan operasi.

"Rasanya mulai berkecamuk, antara tidak percaya dan menolak. Akhirnya kita pulang dengan 1001 pikiran di kepala saya. Dengan rasa putus asa, saya memutuskan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Yang terpikir oleh saya, karena saat itu saya bekerja, adalah mempersiapkan data-data pekerjaan. Mungkin sudah waktunya saya estafetkan pekerjaan saya. Hanya itu yang terpiikir, bukan bagaimana caranya berobat," jelas Martini, saat ditemui detikHealth.

Martini merasa kankernya disebabkan karena pola makan yang tidak benar. Ia memang tidak memiliki masalah dengan berat badan, tapi karena itulah ia bisa merasa bebas untuk makan makanan apa saja yang ia suka, termasuk makanan berlemak dan tidak sehat. Ia pun jarang melakukan olahraga.

Banyaknya pasien kanker yang meninggal meski sudah berobat kesana-kemari, membuat Martini merasa tak ada gunanya untuk berobat. Namun berkat dukungan keluarga dan orang-orang terdekat, ia pun akhirnya mau melakukan terapi pengobatan.

Tak butuh waktu lama, seminggu setelah diagnosis diterimanya, ia pun langsung memutuskan untuk melakukan tindakan mastektomi (pengangkatan seluruh bagian payudara).

"Sebelah payudara saya diangkat semua (mastektomi), dilanjutkan dengan kemoterapi 6 kali. Saya dioperasi di Singapura. Sebenarnya saya dirujuk dokter bedah disini, tapi kebetulan dia sedang pindah klinik, sehingga saya tidak bisa ketemu dokter itu dan janjian secepatnya," lanjut Martini.

Sama dengan diagnosis dokter dalam negeri, dokter Singapura pun mengatakan bahwa kanker yang tumbuh di tubuh Martini tergolong ganas dan harus segera diambil tindakan. Tanpa berpikir panjang, keesokan harinya ia pun melakukan tindakan operasi. Setelah operasi, ia pun menjadi 6 siklus kemoterapi yang dilakukan tiap 3 minggu sekali.





"Secara fisik saya baik, karena sebelumnya memang saya sehat. Hanya secara mental payah sekali, merasa dekat dengan maut, ketakutan, rasanya berhadapan begitu dekat dengan kematian. Jadi dari diagnosa sampai dioperasi pikiran itu seperti jet coaster, naik uturun. Ketika mendapat dukungan dari keluarga, saya menjadi kuat. Tapi ketika memikirkan ada ketakuran, down lagi. Sehingga saya menutup diri, mengurung diri di kamar hanya membaca. Sampai saya selesai kemo, baru saya dipaksa keluar lagi untuk berinteraksi. Perasaan malu karena ada penyakit maut di dalam diri kita, sehingga malu ketemu orang. Tapi ini pengalaman saya pribadi, dari teman-teman lain ada yang tidak seperti itu, mereka lebih siap, mental lebih kuat," jelasnya.

Mentalnya yang drop bisa kembali bangkit setelah bergabung dengan support group sesama survivor kanker. Ia mulai mengikuti acara-acara rutin yang diadakan kelompok tersebut.

"Saya percaya bahwa sesudah pengobatan ada kehidupan normal kembali. Tadinya saya selalu membayangkan penderita kanker itu berobat sampai akhirnya meninggal. Tapi setelah saya datang ke support group, banyak sekali survivor yang sudah kembali normal dan melakukan aktivitas seperti biasa," tutupnya.

3. Dr. Felicia Zahida, MSc, survivor kanker payudara

Dr. Felicia Zahida, MSc (46 tahun) divonis menderita kanker payudara oleh dokter pada bulan Juni tahun 2009. Awalnya Ibu Felicia yang akrab dipanggil Ibu Edo sehari-hari, merasa patah semangat ketika dokter menyarankan untuk operasi pengangkatan payudara dalam waktu dekat.

Tetapi hidup harus terus berjalan demi anak-anak dan keluarga dan Ibu Edo memutuskan untuk menjalani masektomi di rumah sakit Panti rapih, Yogyakarta. Setelah 8 hari menjalani perawatan pasca operasi di rumah sakit, Ibu Edo diizinkan pulang dan harus menjalani serangkaian proses pengobatan.

Proses pengobatan berikutnya adalah kemoterapi yang harus dilakukan sebanyak 6 kali. Sekali kemoterapi memerlukan biaya yang sangat besar, sehingga banyak orang yang menyerah di tengah jalan dalam proses pengobatan terhadap kanker karena kendala biaya.

"Saya bersyukur karena keluarga memberikan dukungan yang besar terhadap kesembuhan saya. Proses kemoterapi terasa semakin berat karena ketika itu saya harus menyelesaikan program doktoral di fakultas Biologi, UGM," kata Ibu Edo, yang ditemui di sela-sela kesibukannya sebagai dosen fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, kepada detikHealth.

Rambut yang terus-terusan rontok sampai habis dan kondisi hilangnya memori jangka pendek (short memory lost) adalah efek dari kemoterapi yang harus Ibu Edo jalani. Tetapi ibu Edo tetap bersemangat menjalani hidup karena masa depan masih panjang.

Selanjutnya Ibu Edo harus menjalani radioterapi dan operasi histerektomi atau pengangkatan rahim untuk memutus asupan estrogen pada sel kanker yang masih tersisa agar tidak dapat berkembang dan dapat diobati. Kemudian proses pengobatan selanjutnya adalah denagn terapi hormon yang masih dijalani oleh Ibu Edo sampai sekarang.





Setelah menjalani proses terapi hormon selama 5 tahun, akan dilakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan bahwa penderita benar-benar telah bebas dari kanker. Semangat Ibu Edo untuk bertahan melawan kanker perlu dicontoh oleh para penderita kanker yang lain.

Selain bekerja sebagai dosen, Ibu Edo juga aktif di Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan pada bulan September 2011, Ibu Edo diberikan kepercayaan untuk menjadi ketua Paguyuban Penderita dan Mantan Penderita Kanker, YKI cabang Yogyakarta.

4. Indah, survivor kanker indung telur

Pengalaman memerangi kanker juga dialami oleh Ibu Indah (57 tahun) yang sehari-hari bekerja sebagai instruktur budi pekerti di Panti Sosial Karya Wanita, Yogyakarta. Ibu Indah telah dinyatakan bebas dari kanker pada tahun 2002, setelah berjuang melawan kanker indung telur sejak tahun 1997.

Awalnya Ibu Indah sering merasa perutnya kembung seperti masuk angin sejak tahun 1992. Ibu Indah tidak merasakan gejala yang menyakitkan sampai ibu Indah menyadari bahwa perutnya semakin membesar dan memutuskan untuk memeriksakan kondisinya ke dokter pada tahun 1997.

Setelah divonis menderita kanker indung telur dan harus menjalani operasi pengangkatan rahim, Ibu Indah sempat mengalami depresi dan mencoba menjalani pengobatan alternatif tanpa perlu menjalani proses operasi. Tetapi bagaimanapun juga, sel kanker akan tetap menyebar jika sumbernya tidak diangkat.

"Saya telah menjalani berbagai macam pengobatan alternatif dan hasilnya tidak kunjung terlihat. Sehingga saya memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan rahim," kata Ibu Indah kepada detikHealth.





Proses pengobatan selanjutnya adalah kemoterapi yang harus dilakukan sebanyak 6 kali. Di tengah-tengah masa kemoterapi, Ibu Indah tetap menjalankan aktivitasnya di bidang sosial yaitu dengan menjadi motivator bagi para penderita kanker lainnya.

Karena jiwa sosialnya yang tinggi terhadap sesama penderita kanker, Ibu Indah dipercaya menjadi ketua Pagutuban Relawan Yayasan Kanker Indonesia cabang Yogyakarta.

Ibu Indah menjalani proses pengobatan selama 5 tahun dan pada tahun 2002, dokter menyatakan bahwa kanker indung telurnya benar-benar telah sembuh. Hal tersebut ditandai dengan hasil tes CA125 di laboratorium yang telah menunjukkan angka yang normal.

Meski sedang berjuang melawan ganasnya kanker yang menggerogoti tubuhnya, Ibu Indah tetap memberikan semangat kepada para penderita kanker lainnya untuk sama-sama bertahan dan tidak menyerah terhadap keadaan.





(mer/ir)


Punya pengalaman menarik seputar diet ? Kirimkan disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit