detikhealth

Sudah Dibantu Tenaga Medis, kok Angka Kematian Ibu Masih Tinggi

Vera Farah Bararah - detikHealth
Senin, 02/07/2012 15:59 WIB
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta, Persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan diketahui bisa membantu menurunkan angka kematian ibu. Tapi nyatanya di Indonesia, persalinan dengan tenaga kesehatan tinggi tapi angka kematian ibu tetap jelek.

"Persalinan dengan tenaga kesehatan meningkat dengan baik, tapi tidak terefleksi pada angka kematian ibu yang tetap jelek," ujar Dr Melania Hidayat, MPH selaku NPO on Reproductive Health UNFPA dalam acara workshop UNFPA di Menara Thamrin, Jakarta, Senin (2/7/2012).

Dr Melania menuturkan kemungkinan ada masalah pada standar tenaga kesehatan itu sendiri, tenaga kesehatan yang skillfull itu seperti apa, jadi ada PR bersama untuk memverifikasi apakah tenaga kesehatan ini sudah terpenuhi standarnya atau belum karena harusnya bisa menurunkan angka kematian ibu.

Selain tenaga kesehatan, ada pula hal lain yang bisa mempengaruhi angka kematian ibu yaitu penggunaan kontrasepsi atau alat KB. Ini karena akses KB yang baik bisa memberikan kontribusi menurunkan seperempat dari angka kematian ibu.

"Persalinan dengan tenaga kesehatan meningkat, pada tahun 1991 lebih rendah dari 40 persen tapi kini sudah meningkat menjadi 77 persen pada tahun 2009. Kenaikan ini terutama pada penduduk miskin yang sudah mendapat akses," ujar Dr Endang L Achadi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.

Dr Endang mengungkapkan umumnya bidan ini menangani persalinan normal dan juga menstabilkan ibu yang akan melahirkan sebelum dirujuk, ini karena kalau komplikasi terjadi pada persalinan dengan bidan harus dirujuk ke rumah sakit.

Lebih lanjut Dr Endang menjelaskan angka kematian ibu pada orang miskin 2,5 kali lebih banyak dari orang kaya, masalahnya terletak pada akses dan kualitas pelayanan. Namun angka kematian ibu pada orang kaya juga tinggi meski aksesnya ada, jadi kemungkinan ada masalah pada kualitas pelayanan.

"Setiap kehamilan sama baik untuk orang kaya maupun yang miskin, tapi akses ke pelayanan kesehatan lebih cepat pada orang kaya dibading orang miskin," ujar Dr Endang.


(ver/ir)
Artikel detikHealth juga bisa dibaca melalui aplikasi detikcom untuk Android, BlackBerry, iPhone, iPad & Windows Phone. Install sekarang!

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit