detikhealth

Ulasan Khas

Terapi untuk Pemulihan Pasien Stroke

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Rabu, 04/07/2012 15:20 WIB
Terapi untuk Pemulihan Pasien Strokeilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Setelah terserang stroke, beberapa pasien mengalami berbagai gangguan seperti kelumpuhan, penurunan kemampuan komunikasi, perubahan mental hingga depresi. Oleh karena itu, pasien stroke perlu menjalani proses rehabilitasi agar dapat sebisa mungkin mengembalikan fungsi tubuhnya.

Rehabilitasi stroke adalah proses dimana pasien stroke menjalani perawatan untuk membantunya kembali ke kehidupan normal. Dalam masa rehabilitasi, penderita stroke belajar bergerak, berpikir, dan merawat diri sendiri.

Rehabilitasi tidak dapat menyembuhkan efek-efek yang ditimbulkan akibat serangan stroke, namun dapat membantu penderita untuk mengoptimalkan fungsi tubuhnya.

"Sel otak memiliki kemampuan restorasi, yaitu kemampuan untuk menggantikan fungsi sel yang rusak dengan sel yang masih bisa berfungsi. Meskipun demikian, hasilnya tidak sesempurna dengan sebelum tekena stroke. Untuk bisa melakukan restorasi dengan baik, perlu bimbuingan terapis atau dokter spesialis rehabilitasi medik," kata Prof dr Teguh Ranakusuma, SpS (K), dokter spesialis saraf dari Departemen Neurologi FKUI-RSCM ketika berbincang dengan detikHealth, Rabu (4/7/2012).

Rehabilitasi dapat memberikan hasil yang optimal bila dilakukan dalam waktu 3 bulan setelah serangan stroke. Meskipun demikian, proses pemulihannya bisa berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu, sangat penting untuk memulai rehabilitasi sedini mungkin dan berkesinambungan.

Menurut WHO, tujuan Rehabilitasi penderita stroke adalah:
1. Memperbaiki fungsi motorik, wicara, kognitif dan fungsi lain yang terganggu.
2. Readaptasi sosial dan mental untuk memulihkan hubungan interpesonal dan aktivitas sosial.
3. Dapat melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Pemilihan jenis terapi yang diperlukan disesuaikan dengan kondisi pasien dan apa yang dibutuhkan supaya pasien dapat mandiri.

Tim rehabilitasi medis, yang terdiri dari dokter spesialis rehabilitasi medis, perawat, fisioterapis, terapis wicara, terapis okupasi, dokter spesialis gizi dan psikiater, akan melakukan pengkajian dan menentukan perencanaan terapi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pasien.

Terapi dimulai secara bertahap, yaitu berlatih mulai dari duduk, berdiri, dan berjalan sendiri. Pasien juga dilatih melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, makan, buang air, berpakaian dan berdandan.

Pada tahap advance, pelatihan bisa dilakukan untuk mengembalikan fungsi tubuh yang bersifat hobi dan hubungan kemasyarakatan seperti memasak dan berkebun.

Selain rehabilitasi, pasien stroke perlu mewaspadai bahaya lainnya, yaitu serangan stroke berulang yang dapat fatal dan lebih buruk dari serangan pertama. Hal ini terjadi karena pasien tersebut tidak mengendalikan faktor risiko stroke.

Bagi yang sudah pernah terkena serangan stroke, merubah gaya hidup menjadi lebih sehat adalah pilihan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Praktiknya adalah seperti berhenti merokok, diet rendah lemak atau kolesterol dan tinggi serat, berolahraga teratur, makan secukupnya dengan memenuhi kebutuhan gizi seimbang, menjaga berat badan dan dan mengatasi stres.

"Untuk mengubah pola hidup, diperlukan juga terapi psikologis. Selain itu juga perlu diberikam terapi pengendalian emosi agar pasien stroke tidak cepat naik darah. Agar proses rehabilitasi bisa berjalan optimal, dukungan dari keluarga sangat penting," kata dr Teguh.

Apabila diperlukan, dapat memberikan pemahaman kepada orang-orang di sekitar pasien agar mampu menolong atau setidaknya bersikap tepat terhadap penderita.

Dr Manfaluthy Hakim, SpS(K) dari departemen neurologi FKUI mengatakan pengobatan yang diberikan pada pasien stroke ada 2 yaitu:

1. Mengendalikan faktor risikonya, misal untuk hipertensi maka minum obat antihipertensi, orang yang diabetes dikontrol secara baik, orang yang kelebihan lemak bisa mengatur pola makannya atau mengonsumsi obat untuk kurangi kadar lemak. Dalam hal ini mengubah gaya hidupnya.

2. Melakukan rehabilitasi atau dalam kasus pasien stroke biasanya disebut dengan neurorestorasi untuk mengatasi kecacatannya, misalnya dengan melatih cara berjalan atau berbicara lagi.

"Orang yang sudah pernah kena stroke pola hidupnya harus diatur dan dijaga, karena ia memiliki risiko terkena stroke lagi atau berulang yang 5 kali lebih besar dibanding orang yang belum pernah kena stroke," ujar dr Luthy.
 
 
 
 
(pah/ir)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit