detikhealth

Ini Alasan Orang Sulit Menghindari Minuman Manis

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 06/07/2012 18:00 WIB
Ini Alasan Orang Sulit Menghindari Minuman Manis(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Di sebuah kelas nutrisi, seorang pakar diet bernama Andrea Giancoli meminta beberapa partisipan untuk membawa kaleng dan botol minuman yang sering diminum partisipan setiap hari, mulai dari soda, jus buah hingga teh manis.

Kemudian pakar yang berdomisili di New York ini meminta partisipan membaca label di balik kaleng atau botol yang berisi keterangan tentang ukuran, jumlah kalori dan gulanya lalu Giancoli menggunakan tumpukan gula batu untuk memberi gambaran seberapa besar gula yang dikonsumsi partisipan.

"Mereka tak tahu apa yang baik dan buruk bagi kesehatannya. Mereka memang membaca kemasan luarnya tetapi tidak pada labelnya," ungkap pakar diet lainnya, Angela Ginn yang juga menjadi anggota The Academy of Nutrition bersama Giancoli.

Meski penjualan minuman ringan telah menurun selama beberapa tahun belakangan, penjualan minuman olahraga, jus dan minuman non-karbonasi lainnya justru meningkat.

Padahal pada tahun 2011 saja, orang Amerika tercatat rata-rata minum 2400 mL minuman ringan berkarbonasi atau menurut buletin industri minuman terkemuka di AS, Beverage Digest sekitar 9 milyar kasus sedangkan penjualan minuman non-karbonasi lainnya, termasuk air botolan mencapai 15 milyar kasus.

Giancoli pun mengungkapkan bahwa beberapa partisipan yang melihat gambar buah pada label berasumsi bahwa minuman berpemanis itu baik bagi kesehatannya. Bahkan ada partisipan lain yang kesulitan untuk mengatakan berapa jumlah porsi yang dikonsumsinya, namun para pakar mengatakan hampir setiap orang mengonsumsi sekitar tiga porsi dengan ukuran kalori 6000 mL perbotol.

Oleh karena itu Giancoli menciptakan trik untuk membantu partisipan memahami asupan gula dan kalorinya yaitu dengan menunjukkan jumlah gula yang sebenarnya pada sejumlah minuman yang sering dikonsumsi partisipan. Giancoli juga mengemukakan bahwa minum 6000 mL botol soda setiap hari dapat menambah 12 kg berat badan pertahunnya.

Masalahnya adalah otak manusia tidak melihat kalori dari minuman sebagaimana pada makanan. Tak heran jika banyak orang yang kesulitan untuk memahami dampak dari ukuran botol atau kaleng yang lebih besar, ungkap para pakar.

Peneliti Pierre Chandon yang baru-baru ini telah mempelajari 21 studi menemukan bahwa meskipun cangkir atau kemasannya berukuran ganda namun konsumen tak bisa mengatakan jika dirinya mendapatkan porsi dua kali lipat.

"Hal ini menunjukkan bahwa otak kita sangat buruk dalam geometri," kata Chandon yang juga seorang profesor di sekolah bisnis INSEAD di Paris seperti dilansir dari huffingtonpost, Jumat (6/7/2012)

Menurutnya, produsen harus mencantumkan gambar di bagian depan yang menunjukkan jumlah porsi minuman tersebut. Justru dengan menambahkan kata 'medium' atau 'besar' pada label tak ada artinya bagi konsumen.



(ir/ir)


Punya pengalaman menarik seputar diet ? Kirimkan disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit