detikhealth

Wajah Sering Tersipu Tanpa Sebab, si Pemuda Pilih Akhiri Hidup

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 12/07/2012 14:00 WIB
Wajah Sering Tersipu Tanpa Sebab, si Pemuda Pilih Akhiri Hidup(Foto: MSNBC)
Jakarta, Tanpa sebab apapun, tahu-tahu Brandon Thomas tersipu dengan warna kulit merah terang pada leher hingga telinganya. Ia sering jadi bahan tertawaan karena wajahnya sering tiba-tiba memerah.

Hal yang sepele bagi orang lain, ternyata tidak buat Brandon yang mengalami tekanan berat karena wajahnya sering tersipu merah tanpa sebab.

Ingin mengakhiri deritanya, si pemuda 20 tahun yang juga mahasiswa University of Washington itu memilih menuntaskan hidupnya pada 29 Mei 2012 dengan terjun dari balkon lantai 11 asramanya di Seattle karena tak tahan dengan kondisinya yang dikira orang biasa saja.

Orangtua, saudara kembar dan teman-temannya tak pernah mengira Brandon mengalami masalah tersipu kronis yang membuat mentalnya jatuh. Apalagi Brandon dikenal sebagai pria yang lucu, energik, mudah disukai setiap orang.

Orangtuanya yakni Steve dan Dawn Thomas menganggap wajah sering tersipu dengan muka yang memerah yang dialami Brandon bukan hal yang perlu dikhawatirkan.

Tapi dalam buku diary yang ditulis sebelum meninggal menjelaskan alasan kenapa ia bunuh diri. Selama lebih dari 4 tahun, Brandon ternyata mengaku berjuang menghadapi kondisi tersipu yang kronis dan yang membuatnya terpuruk.

"Salah satu alasannya bunuh diri adalah jika ia melakukan upaya yang drastis maka hal ini akan meningkatkan kesadaran banyak orang. Brandon ingin kematiannya berdampak pada semua orang," ungkap ibu Brandon, Dawn seperti dilansir dari MSNBC, Kamis (12/7/2012).

Menurut ayah dan ibunya, setiap hari Brandon berjuang melawan apa yang digambarkan para ahli sebagai tersipu patologis (pathological blushing). Kondisi dimana saat tersipu kulit di sekitar wajah memerah jauh melebihi orang normal, terutama ketika melakukan kesalahan atau berbicara di depan banyak orang.

Diperkirakan hanya 5-7 persen populasi yang menderita kondisi tersipu kronis ini, reaksinya tak dapat dikendalikan namun dipicu oleh sistem saraf yang terlalu aktif dan bisa diperparah oleh dampak rasa malu sosial. Hal ini diungkap Dr. Enrique Jadresic, seorang psikiatris dari Chili dan pakar gangguan ini yang paling terkemuka di dunia. Jadresic sendiri juga penderita gangguan ini.

"Tersipu mungkin tampak seperti gejala minor, namun nyatanya kondisi ini tak hanya bisa mengikis harga diri penderitanya tetapi juga kemauan dan keinginannya untuk hidup," jelas Jadresic. Jadresic juga sempat menulis buku terkait kondisi ini pada tahun 2008 yang berjudul "When Blushing Hurts: Overcoming Abnormal Facial Blushing."

Memang ada beberapa cara untuk mengobati tersipu kronis, termasuk hipnosis, terapi, penggunaan obat anti-kecemasan hingga operasi kontroversial untuk memotong saraf di dalam tubuh yang bertugas mengendalikan kondisi tersipu.

Namun sama halnya dengan Brandon, banyak penderita kondisi ini yang menderita dalam diam, malu untuk mengakui kondisinya karena takut mempengaruhi pekerjaan maupun kehidupan asmaranya.

Menurut Jadresic, bahkan masalah pertamanya bukanlah tersipu itu sendiri. Pada orang normal, tersipu biasanya dipicu oleh emosi yang kuat seperti rasa malu atau marah, namun bisa juga karena makanan pedas atau alkohol. Namun pada penderita tersipu kronis, tak ada pemicu yang jelas.

Hal ini terjadi pada Brandon yang ternyata telah mengalami kondisi ini sejak berusia sekitar 15 tahun.

"Saat tertawa bersama teman-temannya, seseorang akan menunjuk Brandon dan berkata, 'Oh, lihat semerah apa Brandon'. Dan ia pun berpikir, 'Apakah begitu?' Karena Brandon tak menyadari jika kulitnya telah memerah," ujar Dawn seperti yang diungkapkan Brandon.



(ir/ir)


Ikuti survei online detikHealth berhadiah paket dari SOHO dan merchandise di sini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit