detikhealth

Handphone Bantu Tingkatkan Komunikasi Anak yang Terlambat Bicara

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Kamis, 12/07/2012 17:57 WIB
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Pada usia 12 bulan, anak biasanya sudah dapat mengeluarkan kata-kata yang bermakna. Namun ada kalanya sampai berusia 2 tahun, anak masih sulit menjawab pertanyaan sederhana. Jika ditemui kasus ini, besar kemungkinan anak mengalami gangguan keterlambatan bicara, salah satu gangguan tumbuh kembang yang paling banyak dialami anak di Indonesia.

"Orangtua tidak dapat memaksa jika anak tidak dapat berkomunikasi lewat verbal. Yang penting adalah anak mengerti apa yang dibicarakan. Maka jika anak-anak tidak dapat bicara, pemahamannya dulu kita tingkatkan. Sebab jika dia tidak paham maka dia tidak akan bisa berkomunikasi, apapun bentuknya," kata dr Dr. Trully Kusumawardhani, Sp.A, dokter spesialis anak dalam acara Soft Opening Klinik Tumbuh Kembang Anak Ruwivito Harun Evasari (RHE) di Jakarta Pusat, Kamis (12/7/2012).

Pemahaman kemampuan bahasa anak dapat diperbaiki lewat terapi. Setelah pemahamannya bagus dan mengerti pembicaraan atau kalimat yang dikatakan, baru kemampuan berbicaranya ditingkatkan. Pada beberapa anak yang mengalami gangguan bicara, mereka bisa memahami namun tidak dapat melafalkan kata-kata.

Agar dapat berbicara, tubuh melalui proses yang cukup panjang. Otak memiliki 2 jalur komunikasi. Jalur pertama untuk pemahaman bahasa dan jalur berikutnya untuk berbicara. Dalam kemampuan berbicara, selain ada upaya otak untuk mengungkapkan apa yang dimaksud, koordinasi otot-otot untuk berbicara juga harus benar.

"Kalau diibaratkan komputer ada monitor, ada CPU dan printer. Nah pada kasus seperti ini, printernya macet, jadi monitornya saja yang jalan. Agar dapat berkomunikasi, anak-anak bisa menggunakan teknologi seperti sms lewat hape atau pakai kartu bergambar," jelas dr Trully.

Sulit untuk menetapkan batasan kapankah seorang anak penderita gangguan bicara pada akhirnya benar-benar mampu berkomunikasi dengan lancar. Tapi upaya tersebut akan selalu dicoba dan harapannya di suatu titik si anak akan bisa. Apalagi penelitian mengenai autis dan gangguan wicara belum banyak di Indonesia, sehingga batasan lama terapi yang diberikan juga belum dapat ditentukan dengan pasti.

Yang membuat masalah gangguan bicara makin sulit ditangani adalah banyak orangtua yang mengasuh anaknya dengan TV dan channel untuk anak yang kabarnya bagus. Tapi hal itu tidak akan membuat bayi menjadi lebih pintar karena TV dan film merupakan media komunikasi satu arah, anak hanya diam dan menonton, jadi tidak dapat bicara.

"Sebenarnya yang paling bagus adalah komunikasi, kita ajak ngobrol. Tapi bukan berarti program TV itu jelek. Asal ada pendamping dan dipandu oleh orangtua, maka tidak apa-apa. Semua anak kalau dikasih TV akan diam, anak hiperaktif pun jika disetelkan TV juga akan anteng," kata dr Trully.





(pah/ir)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit