Bahan Kimia Cat Kuku dan Hair Spray Berisiko Tingkatkan Diabetes

Linda Mayasari - detikHealth
Rabu, 18/07/2012 08:28 WIB
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Pada beberapa produk perawatan pribadi wanita telah ditemukan sekelompok bahan kimia yang berbahaya. Bahan kimia yang biasanya terkandung dalam cat kuku dan hair spray dinilai dapat meningkatkan risiko diabetes.

Berdasarkan penelitian, wanita yang memiliki konsentrasi tertinggi bahan kimia phthalates dalam tubuhnya, cenderung lebih berisiko terhadap diabetes daripada wanita yang memiliki konsentrasi phthalates yang rendah dalam tubuhnya.

Phthalates ditemukan dalam berbagai produk kecantikan, termasuk cat kuku, hair spray, sabun dan sampo.

"Phthalates dalam tubuh dapat mengganggu metabolisme gula darah," kata Tamarra James-Todd, peneliti dari Women's Hospital's Division of Women's Health di Brigham.

James-Todd dan rekannya menganalisis informasi yang dikumpulkan dari 2.350 wanita dengan usia 20 sampai 80 tahun. Peserta penelitian juga diminta untuk menjalani ujian fisik dan memberikan sampel urin.

Hasilnya, dari keseluruhan peserta yang mengikuti penelitian, sebanyak 217 wanita memiliki diabetes. Wanita yang memiliki diabetes tersebut mempunyai kadar bahan kimia mono-benzil phthalate dan mono-isobutil ftalat yang cukup tinggi dalam sampel urinnya.

Paparan bahan kimia mono-benzil phthalate dan mono-isobutil ftalat tersebut dapat meningkatkan risiko diabetes hingga sekitar 70 persen. Wanita dapat terpapar phthalates melalui konsumsi beberapa obat dan penggunaan produk yang mengandung phthalates.

Peneliti juga memperhitungkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat phthalates, seperti jumlah kalori dari lemak yang dikonsumsi. Sehingga wanita perlu menjaga pola makannya dari makanan yang berlemak tinggi untuk mengontrol kadar phthalates.

"Kemungkinan phthalates bekerja dengan mengganggu jaringan lemak dan menyebabkan resistensi insulin, sehingga dapat meningkatkan risiko diabetes," kata peneliti, seperti dilansir foxnews, Rabu (18/7/2012).

Namun, para peneliti menyatakan bahwa masih perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut, mengingat penelitian ini hanya dilakukan pada satu titik waktu. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Environmental Health Perspectives pada tanggal 13 Juli.

(ir/ir)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit