detikhealth

Bagi yang Rambutnya Merah, Punya Uban Justru Lebih Sehat

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jumat, 20/07/2012 11:29 WIB
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Warna rambut berhubungan juga dengan kesehatan, salah satunya terkait risiko kanker. Pigmen atau zat warna bisa mengikat radikal bebas pemicu kanker, sementara uban yang tidak punya pigmen justru menandakan tidak adanya radikal bebas.

Bagi kebanyakan orang, rambut beruban pasti selalu dikeluhkan karena memberi kesan lebih tua dari usia sebenarnya. Bagi yang memang sudah tua, memudarnya warna rambut sering ditutup-tutupi dengan memakai semir atau cat rambut agar tampak lebih muda.

Padahal penelitian terbaru yang dimuat di jurnal Physiological and Biochemical Zoolog menunjukkan, banyaknya uban justru menunjukkan bahwa seseorang lebih sehat dalam arti tertentu. Pasalnya, rambut dikatakan beruban ketika pigmen atau zat warnanya mulai berkurang.

Penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari Museo Nacional de Ciencias Naturales di Spanyol ini juga mengungkap bahwa pigmen ada 2 macam, yakni eumelanin dan pheomelanin. Eumelanin memberi warna coklat atau hitam, sementara pheomelanin memberi warna merah atau coklat muda.

Berbeda dengan eumelanin, pheomelanin membutuhkan senyawa yang disebut glutation atau GSH untuk menghasilkan warna pada rambut maupun kulit. Senyawa ini merupakan antioksidan, yang seharusnya melindungi tubuh dari radikal bebas pemicu kanker.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pembentukan warna, khususnya oleh pigmen pheomelanin banyak menghabiskan kadar GSH. Akibatnya reaksi oksidasi yang menghasilkan radikal bebas meningkat, sehingga risiko kanker juga ikut meningkat.

Ini berarti, bagi yang rambutnya merah maka banyak uban justru menjadi pertanda baik. Karena pigmen atau zat warna pheomelaninnya berkurang, kadar GSH lebih terjaga dan bisa lebih optimal dalam melindungi tubuh dari radikal bebas penyebab kanker.

"Bukannya menandakan usia yang makin tua, uban yang makin banyak justru menandakan kondisi kesehatan yang lebih baik," kata Ismael Galvan yang memimpin penelitian ini seperti dikutip dari Livescience, Jumat (20/7/2012).

Sayangnya seperti dikatakan oleh Galvan, penelitian ini baru dilakukan pada babi hutan yang memang diyakini memiliki kemiripan proses pigmentasi dengan manusia. Namun diperkirakan, hubungan antara warna rambut dengan risiko kanker tidak akan jauh berbeda ketika diterapkan pada manusia.



(up/ir)
Artikel detikHealth juga bisa dibaca melalui aplikasi detikcom untuk Android, BlackBerry, iPhone, iPad & Windows Phone. Install sekarang!

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit