detikhealth

Teh Ciplukan Buatan Mahasiswa UGM Aman Bagi Pasien Diabetes

Bagus Kurniawan - detikHealth
Jumat, 20/07/2012 16:35 WIB
Teh Ciplukan Buatan Mahasiswa UGM Aman Bagi Pasien DiabetesCip Cup Tea (dok: Bagus-detikHealth)
Yogyakarta, Buah Ciplukan atau Physalis angulata L. yang sering kita temui di persawahan ternyata mempunyai banyak khasiat untuk kesehatan. Salah satunya untuk mengobati penyakit seperti diabetes, darah tinggi, kencing manis, borok, dan sakit tengorokan.

Melihat banyak manfaat dalam tanaman yang biasanya tumbuh bersama tanaman palawija itu, empat orang mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) mencoba membuat produk minuman olahan dari ciplukan. Keempat mahasisa itu adalah Denok Kumalasari, Rahmi Wijayanti, Intin Nurwati dan Ridho Andika Putra.

"Kami mencoba membuat produk ini karena ciplukan sudah banyak digunakan sebagai ramuan obat diantaranya diabetes," ungkap Denok dalam acara Research Week 2012 di Grha Sabha Pramana UGM, Jumat (20/7/2012).

Namun lanjut Denok, pengolahan yang dilakukan masih manual yaitu dengan direbus. Hanya airnya saja yang dipakai untuk obat dengan cara diminum.

"Karena harus direbus dulu ternyata kurang praktis," katanya.

Denok bersama teman-temannya kemudian membuat dalam bentuk kemasan celup agar lebih praktis dan lebih tahan lama. "Waktu Kadaluwarsa hampir sama dengan teh pada umumnya hingga 2 tahunan," katanya.

Menurutnya, dalam tanaman tersebut mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes. Ciplukan mengandung senyawa flavonoid yang tinggi yaitu sebesar 4 persen.

"Penderita diabet itu insulinnya tidak berfungsi, tak mampu lagi mengubah gula dalam tubuh menjadi energi. Nah, flavonoid ini berfungsi memperbaiki dan mengembalikan fungsi insulin dalam tubuh," katanya.

Selain mengandung flavonoid, ciplukan juga terdapat senyawa antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas.

Dia menuturkan Cipcup tea dibuat dengan memanfaatkan batang dan daun ciplukan. Bagian-bagian tanaman tersebut dikeringkan terlebih dulu dengan menggunakan oven bersuhu 200 derajat Celcius selama 6-7 jam hingga kadar air dalam ciplukan hanya 3-4 persen.

Saat ini untuk bahan ciplukan kering pihaknya membeli dari kelompok tani Bina Agro Mandiri, Dongkelan yang biasa menjual berbagai jenis jamu-jamuan kering. Per kilogramnya dijual seharga Rp. 20 ribu.

Untuk membuat, ciplukan kering digiling hingga halus menjadi serbuk. Sebelum dikemas dalam kantong celup, ditambahkan daun stevia dan teh hijau kering.

Sari daun stevia digunakan sebagai pengganti gula. Stevia mengandung senyawa gtikosida diterpen dengan tingkat kemanisan antara 200-300 kali dari gula tebu, tetapi berkalori rendah.

"Daun ini telah terbukti bermanfaat membantu program diet, mengatur tekanan darah, dan juga baik dikonsumsi bagi penderita diabetes," tambah Rahmi Wijayanti.

Menurut Rahmi dalam setiap 1 kantong teh ciplukan tersusun dari komposisi ciplukan (0,6 persen), stevia (0,4 persen), dan teh hijau (0,2 persen). Dalam satu kali produksi menggunakan 1.200 gram ciplukan kering , 800 gram stevia kering, dan 400 gram teh hijau kering. Dari bahan-bahan tersebut dihasilkan sebanyak 2000 kantong teh cipulkan untuk 200 pack Cipcup Tea.

"Kemasan satu pack isi 10 kantung dengan berat 12 gram seharga Rp. 8.000," katanya.

Rahmi mengatakan produknya telah mendapat sertifikasi MUI. Cipcup Tea memang belum dipasarkan secara luas.

"Kami juga berkomitmen penghasilan dari penjualan teh ciplukan ini 2,5 persennya akan disalurkan untuk penederita diabetes yang kurang mampu," pungkas Rahmi.


(up/ir)


Ikuti survei online detikHealth berhadiah paket dari SOHO dan merchandise di sini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit