detikhealth

Global Warming Akibatkan Bakteri Berbahaya Makin Merebak

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Senin, 23/07/2012 17:23 WIB
Global Warming Akibatkan Bakteri Berbahaya Makin Merebakilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Pemanasan global memicu kenakan permukaan air laut dan perubahan ekosistem di seluruh permukaan bumi. Yang mengkhawatirkan, pemanasan global ini menyebabkan wabah bakteri penyebab infeksi makin merebak. Untungnya, wabah ini tidak terjadi di indonesia, tetapi di negara-negara Eropa Utara.

Populasi bakteri yang dapat menyebabkan radang usus mengalami peningkatan secara drastis akibat global warming. Dalam laporan penelitian yang dimuat jurnal Nature, dibeberkan beberapa bukti kuat bahwa pola pemanasan di Laut Baltik di sebelah barat daya Skandinavia bertepatan dengan munculnya infeksi Vibrio di Eropa Utara.

Vibrio adalah sekelompok bakteri yang tumbuh di lingkungan laut hangat dan tropis. Bakteri ini dapat menyebabkan berbagai infeksi pada manusia lewat memakan kerang mentah atau kurang matang dan terpapar air laut.

Suatu tim ilmuwan dari berbagai lembaga asal Inggris, Finlandia, Spanyol dan Amerika Serikat memeriksa catatan suhu permukaan laut, data satelit, serta statistik kasus infeksi Vibrio di sekitar Laut Baltik.

Hasilnya menemukan bahwa jumlah dan distribusi kasus infeksi bakteri di daerah Laut Baltik sangat terkait dengan puncak kenaikan suhu permukaan laut. Setiap tahun, suhu laut naik satu derajat dan jumlah kasus vibrio naik hampir 200 persen.

"Peningkatan yang besar telah kita lihat dalam banyak kasus selama gelombang panas dan cenderung menunjukkan bahwa perubahan iklim lah yang mempengaruhi infeksi," kata Craig Baker-Austin dari Centre for Environment, Fisheries and Aquaculture Science asal Inggris seperti dilansir MSNBC.com, Senin (23/7/2012).

Penelitian terhadap kondisi iklim menunjukkan bahwa meningkatnya emisi gas rumah kaca secara global membuat suhu permukaan laut mengalami peningkatan rata-rata sekitar 0,17 derajat Celcius pada tahun 1980 sampai 2010.

Penelitian ini difokuskan pada Vibrio di Laut Baltik karena kenaikan suhu terjadi pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu sebanyak 0,063 - 0,078 derajat Celcius di tahun 1982 sampai tahun 2010.

Banyak bakteri laut berkembang dalam air yang hangat dan rendah garam. Perubahan iklim juga telah menyebabkan curah hujan lebih sering dan lebih berat sehingga mengurangi kandungan garam di laut. Karena suhu laut terus meningkat dan wilayah pesisir utara menjadi kurang asin, bakteri Vibrio akan muncul.

Wabah Vibrio juga muncul di daerah beriklim sedang dan dingin di Chile, Peru, Israel, barat laut Amerika Serikat dan barat laut Spanyol. Fenomena ini juga dapat dikaitkan dengan pola pemanasan global. Padahal, wabah Vibrio yang terjadi di daerah dingin sebelumnya dikategorikan sebagai hal yang sporadis, bukan diakibatkan respon jangka panjang dari perubahan iklim.





(pah/ir)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit