detikhealth

Doctor's Life

Dr Kurnia Kusumastuti Dapat Ide Ilmu Epilepsi dari Dukun

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Senin, 06/08/2012 10:05 WIB
Dr Kurnia Kusumastuti Dapat Ide Ilmu Epilepsi dari DukunDr Kurnia (dok: detikHealth)
Jakarta, Orang dengan pendidikan tinggi biasanya tidak percaya dengan dukun karena dianggap di luar nalar pemikiran. Namun sebagai seorang dokter, Dr Kurnia Kusumastuti, Sp.S(K) justru mendapatkan ide ilmu baru epilepsi untuk disertasinya dari seorang dukun.

Hal itu didapatkan ketika sedang menjalankan tugas dokter inpres di sebuah desa terpencil di Probolinggo, Jawa Timur sekitar tahun 1985.

Saat itu, di daerah tersebut tidak ada dokter. Karena itu, jika ada orang epilepsi sedang kambuh dan kejang-kejang, keluarga akan membawanya ke dukun karena dianggap kesurupan.

Dukun pun melakukan ritual untuk mengeluarkan 'setan' yang membuat pasien kejang. Saat ritual, sang dukun memencet jempol pasien. Benar saja, kejang langsung berhenti dan dianggap setan sudah keluar.

"Epilepsi dibawa ke dukun, yang membuat saya punya ide untuk membuat disertasi S3 saya. Saya angkat itu untuk disertasi karena atas dasar saya sangat percaya bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang pada umat-Nya. Orang kota diberi dokter, makanya pada berobat ke dokter. Tapi kalau orang terpencil nggak ada dokter, kemana ia harus mencari pertolongan. Ya kepada orang yang dianggap pinter, ya dukun 'orang pinter'," jelas Dr Kurnia Kusumastuti, Sp.S(K), seperti ditulis Senin (6/8/2012).

Pengalaman pasien epilepsi dan dukun itu sempat terlupakan oleh dokter lulusan FK Universitas Airlangga ini. Ia baru teringat ketika mengambil pendidikan S3 dan diminta untuk mencari teori kedokteran yang sebelumnya tidak pernah ada. Seketika ia langsung mengingat peristiwa dukun dan epilepsi.

"Jadi secara kedokteran memencet jempol itu memang bisa jadi obat epilepsi, tapi bukan sebagai pengganti obat ya. Jadi kalau teori saya itu memang tidak terbukti, ya sudah ratusan juta yang saya keluarkan hilang. Tapi saya percaya betul Tuhan itu Maha Kasih kepada makhluknya, salah satunya lewat dukun itu," pungkasnya.

Sejak kecil ingin jadi dokter tapi juga jadi guru

Sejak kecil cita-cita Dr Kurnia memang ingin menjadi dokter. Tapi dengan pikiran anak kecil yang polos kala itu, Dr Kurnia ingin jadi dokter lantaran karena bisa punya banyak uang.

Keluarganya memang bukan keluarga berada, ayah dan ibunya pun hanya seorang guru dengan gaji pas-pasan. Terang saja waktu itu yang terpikir olehnya adalah ingin kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik.

Tapi beranjak dewasa ia mulai menyadari bahwa dokter dan guru sama profesi yang mulia. Ia pun bertekad ingin menjadi dokter yang sekaligus bisa menjadi guru.

Ia mengambil pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Baru masuk sementer satu saja, si calon dokter ini sudah mulai mengajar di sebuah bimbingan belajar.

"Sebelum jadi dokter pun saya ingin jadi dokter yang guru. Jadi masuk jadi mahasiswa kedokteran semester satu saja saya sudah jadi guru. Saya mengajar di bimbingan belajar, sambil cari uang karena bapak saya tidak punya uang untuk menguliahi saya jadi dokter. Jadi sambil sekolah sambil jadi guru," tandas dokter kelahiran Purbalingga, 24 Agustus 1957 ini.


BIODATA

Nama lengkap
Dr Kurnia Kusumastuti, Sp.S(K)

Tempat, tanggal lahir
Purbalingga, 24 Agustus 1957

Status
Menikah dengan dr Haryo Wahyudi, Sp.M dengan dikaruniai 2 anak.

Riwayat Pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR)
Pendidikan Dokter Spesialis Saraf FK UNAIR
Pendidikan Dokter Spesialis Konsultan FK UNAIR

Organisasi
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Ketua Kelompok Studi Epilepsi
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi)

Jabatan
Dokter spesialis saraf di RSUD Dr Soetomo Surabaya
Ketua Satuan Penjaminan Mutu FK UNAIR


(mer/ir)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit