detikhealth

Bukan Cuma Opor, Kue Lebaran Juga Banyak Kolesterolnya Lho

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 20/08/2012 08:01 WIB
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta, Dengan kuah dan daging yang berlemak, opor ataupun makan lain yang disajikan saat lebaran sering dikambinghitamkan sebagai sumber kolesterol. Kue lebaran sering terlupakan karena hanya cemilan, padahal kolesterolnya tak kalah banyak.

Bagaimana tidak, aneka kue yang dihidangkan saat lebaran umumnya dibuat dengan tambahan telur sebagai pengembang. Bahkan putihnya kadang tidak digunakan, hanya kuning telurnya saja yang memang dikenal memiliki kandungan kolesterol sangat tinggi.

Prof Dr Hardinsyah, ahli gizi dari Fakultas Ekologi Manusia Istitut Pertanian Bogor (FEMA IPB) mengatakan kandungan kolesterol dalam kue lebaran memang tidak sebanyak gulai atau opor yang berlemak. Namun bukan berarti boleh diabaikan, karena kalau dianggap aman maka ada kecenderungan untuk dimakan berlebihan.

"Sebagai pembanding kami pernah mengamati bawah 1 sayat kue black forest punya kandungan kolesterol 25-30 mg. Kalau misalnya ditambah opor dengan telur, kolesterolnya 80 mg. Ditambah ayam 1 potong, tambah lagi 100 mg. Itu sudah tercukupi kebutuhan kolesterol untuk 1 hari, sekitar 200 mg," kata Prof Hardinsyah saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Senin (20/8/2012).

Adanya kandungan kolesterol yang begitu tinggi bukan berarti bahwa kue lebaran tidak boleh dikonsumsi sama sekali, melainkan hanya perlu dibatasi agar tidak berlebihan. Akan lebih bagus lagi kalau cemilannya dibuat lebih beragam, misalnya dengan ditambahkan buah dan sayuran.

Selain kolesterol, kandungan makanan lainnya dalam hidangan khas lebaran menurut Prof Hardinsyah juga meliputi lemak, garam dan gula. Garam yang terlalu banyak bisa memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi, sedangkan gula bisa memicu kekambuhan bagi yang punya diabetes.

Tekstur makanan juga perlu diperhatikan agar tidak mengganggu sistem pencernaan setelah sebulan berpuasa. Makanan yang lembut tentunya lebih dianjurkan sedangkan yang keras-keras seperti dendeng sebaiknya dibatasi dulu karena perut masih beradaptasi.

"Habis puasa sebulan, perut masih butuh waktu untuk adaptasi. Secara budaya kita punya lontong atau ketupat, itu bagus karena teksturnya cukup lembut. Opor dan sayur lodeh juga bagus karena teksturnya lembut di perut," kata Prof Hardinsyah.

Terakhir, Prof Hardinsyah mengingatkan agar citarasa makanan untuk lebaran sebaiknya tidak terlalu pedas. Sama seperti penjelasannya mengenai tekstur makanan, citarasa yang terlalu pedas juga bisa mengagetkan lambung yang masih beradaptasi setelah berpuasa.


(up/ir)
Artikel detikHealth juga bisa dibaca melalui aplikasi detikcom untuk Android, BlackBerry, iPhone, iPad & Windows Phone. Install sekarang!

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit