detikhealth

Ibu Tangguh yang Punya 3 Anak Istimewa: Asperger, Down Syndrome dan Autis

Vera Farah Bararah - detikHealth
Selasa, 09/10/2012 15:26 WIB
Ibu Tangguh yang Punya 3 Anak Istimewa: Asperger, Down Syndrome dan AutisBecky bersama Ben, Harry dan Charlie (dok: The Sun)
Jakarta, Memiliki 1 anak berkebutuhan khusus sudah cukup membuat orangtua repot, apa jadinya jika memiliki 3 anak berkebutuhan khusus sekaligus? Ini yang dialami oleh Becky Kenyon yang memiliki 3 anak dengan kondisi down syndrome, autis dan sindrom asperger.

Becky Kenyon (40 tahun) mendedikasikan seluruh waktunya untuk merawat ketiga buah hatinya yang memiliki cacat atau kebutuhan khusus berbeda-beda. Meski begitu ia menolak menyebut dirinya tidak beruntung.

Putra sulung Becky bernama Ben (15 tahun) diketahui memiliki sindrom asperger, anak keduanya bernama Harry (13 tahun) memiliki Down syndrome dan anak ketiganya bernama Charlie (8 tahun) memiliki autis.

"Mengetahui mereka membutuhkan banyak dukungan ekstra dan perawatan seumur hidup memang sangat sulit awalnya. Saya berusaha meneliti setiap kondisi dan hanya berkata pada diri sendiri bahwa mereka membutuhkan saya," ujar Becky, seperti dikutip dari The Sun, Selasa (9/10/2012).

Becky menuturkan beberapa ibu lain ada yang merasa kasihan padanya, tapi ia hanya bisa mengangkat bahu atas simpati tersebut. Apapun kondisinya anaknya, Becky tetap merasa bangga dan menyanyangi ketiga buah hatinya sehingga tidak pernah berpikir untuk mengubahnya.

Diagosis pertama terjadi pada Harry yang mana ia diketahui memiliki down syndrome saat lahir. Selang 2 bulan kemudian anak pertamanya Ben diketahui memiliki Asperger. Ben diperiksa setelah melihat ia tidak suka dipeluk dan sangat sulit memahami perbedaan antara 'ya' dan 'tidak'.

Dengan 2 anak berkebutuhan khusus, Becky pun perlu sedikit waktu untuk beradaptasi. Karenanya ketika ia hamil anak ketiga ia hanya berharap anaknya baik-baik saja, yaitu tidak autis atau down syndrome.

Saat dilahirkan, Charlie dalam kondisi baik-baik saja walaupun prematur, sampai akhirnya ketika balita ia mulai menunjukkan tanda-tanda yang patut dikhawatirkan. Saat ia berusia 18 bulan dokter mendiagnosisnya dengan autis.

Autisme yang dimiliki Charlie membuatnya harus berjuang untuk berbicara dan komunikasi, menghindarkan diri dari situasi sosial dan bisa sangat merasa tertekan jika ada perubahan.

Meskipun Becky sangat menyayangi ketiga buah hatinya, ia pun sempat mengalami depresi ketika ia harus 24 jam dan 7 hari dalam seminggu merawat anak-anaknya. Becky pun sempat diberikan obat-obatan oleh dokter untuk mengatasi depresinya. Terlebih saat ia harus berpisah dengan suaminya, Andy pada November 2008.

"Ketika Andy dan saya berpisah, saya menghabiskan waktu seharian sebagai ibu pengasuh, dan Ben sudah lebih tua sehingga cukup memudahkan. Terlebih saat Ben dan Harry mulai sekolah, maka memberikan saya waktu lebih banyak dengan Charlie," ungkapnya.

Petugas medis tidak mengetahui apa penyebab kondisi ini. Diketahui memang ada berbagai variasi perkirakan, rata-rata sekitar 1 dari 100 kemungkinan anak lahir mengembangkan autisme.

Sementara itu jika didapati ada 1 anak dengan gangguan spektrum autistik, maka ada kemungkinan 1 dari 10 anak memiliki asperger, sedangkan kemungkinan memiliki 3 kondisi tersebut hampir 1 dari 9 juta.

"Jika dulu saya berpikir 'Mengapa saya' maka sekarang saya senang bahwa saya yang dipilih untuk menjadi ibu bagi mereka. Sekarang tidak ada yang bisa membuat saya lebih bahagia dan bangga dengan semua anak-anak saya," ujar Becky.

(ver/ir)


Ikuti survei online detikHealth berhadiah paket dari SOHO dan merchandise di sini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit