detikhealth

Dapatkan Hadiah Menarik
Program Akhir Tahun
"QUIZ on Article"

Ulasan Khas Tercandu Film Porno

Merekam Sendiri Film Porno Pribadi, Normal atau Kelainan?

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Rabu, 17/10/2012 19:04 WIB
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Berawal dari keisengan merekam adegan panas pribadi, Ariel sang vokalis sebuah grup band terkenal berakhir mendekam di bui. Selain Ariel, ada banyak selebriti dan pejabat yang harus menanggung malu setelah aibnya terbongkar lewat video panasnya yang tersebar di intenet.

Hal ini menguak tabir bahwa ternyata memang banyak pasangan yang mendokumentasikan aktifitas ranjangnya. Dengan kemudahan teknologi, merekam video sekarang bisa dilakukan hanya bermodalkan handphone. Tren ini pun memunculkan pertanyaan, apakah hal ini nomal?

"Selama privasi antara pasangan terjaga dan bukan untuk disebarkan, itu bukanlah kelainan dan sekedar untuk kesenangan. Tapi jika untuk disebarkan ke orang lain, maka sudah mengarah ke ekshibisionis, ini kelainan," kata Dr. Andri Wanananda MS, seksologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta ketika dihubungi detikHealth, Rabu (17/10/2012).

Ekshibisionis adalah kelainan mental di mana seseorang mendapatkan kepuasaan apabila memamerkan kelamin atau bagian tubuhnya yang dianggap tabu kepada orang lain. Misalnya seorang pria yang mempertontonkan kemaluan kepada wanita lain yang tak dikenal atau wanita yang seenaknya memamerkan buah dadanya kepada orang tak dikenal.

Meskipun bukan kelainan dan dianggap wajar, merekam video percintaan sendiri sebaiknya dilakukan dengan sangat hati-hati. Pastikan pasangan adalah orang yang benar-benar dapat dipercaya. Selain itu, pertimbangkan juga kemungkinan terjadinya konflik dengan pasangan nantinya.

Mau dipungkiri atau tidak, nyatanya ada beberapa kasus di mana sang pacar ataupun mantan pacar menggunakan video seks ataupun foto mesra koleksi pribadi untuk mengancam pasangannya. Oleh karena itu, jika memang berniat merekam adegan percintaan, sebaiknya pasangan sama-sama setuju dan tanpa ada unsur paksaan.

"Privasi harus betul-betul dijaga. Kalau hanya dilakukan dan ditonton untuk berdua tidak apa-apa. Tapi ada juga orang yang memasang CCTV secara sembunyi-sembunyi di kamar dan menggunakan video untuk tujuan yang tidak baik," jelas dr Andri.

Yang tak kalah pentingnya adalah menjaga kerahasiaan video pribadi dengan pasangan. Video ini seharusnya hanya layak untuk konsumsi pribadi kedua pasangan, bukan untuk diperlihatkan kepada orang lain, apalagi membuka kesempatan orang lain untuk memperbanyaknya.

Tanggung jawab pasangan sangat penting agar hal-hal pribadi tidak sampai menjadi konsumsi publik. Jika terlanjur demikian, akibatnya bisa fatal. Tentunya tidak ada orang yang mau harus menanggung malu seumur hidup, bahkan sampai meringkuk di penjara hanya gara-gara kenikmatan sesaat.


(pah/ir)

Cerianya si Kecil saat liburan. Yuk, Abadikan Momen liburan anda bersama si Buah Hati dan menangkan hadiahnya di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit