detikhealth

Ulasan Khas Ababil dan Gangguan Jiwa

Cinta Ditolak, Guncangan Jiwanya Mengacaukan Saraf Otak

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 24/10/2012 15:03 WIB
Cinta Ditolak, Guncangan Jiwanya Mengacaukan Saraf OtakIlustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Mendadak gila karena cinta ditolak, mungkinkah? Tergantung bagaimana orang mendefinisikan istilah gila. Kalau sekedar guncangan jiwa yang membuat para remaja berubah perilakunya, sampai batas tertentu kemungkinan tersebut memang ada.

Sangat manusiawi jika seseorang merasa terguncang saat sedang patah hati, apalagi kalau masih remaja ketika gejolak jiwanya sedang meledak-ledak. Sehari dua hari mengurung diri di kamar, menangis atau berteriak-teriak biasanya masih bisa dimaklumi dalam kondisi seperti ini.

Begitupun kalau orang awam menyebut perilaku tersebut mirip seperti 'orang gila' karena seperti tidak terkontrol, maka hal itu juga perlu dimaklumi. Gila dalam pengertian awam memang tidak jelas batasannya, antara gila yang sekedar aneh dengan skizofrenia yang merupakan gangguan jiwa berat.

Kalau yang dimaksud gila adalah skizofrenia atau gangguan jiwa berat, maka urusan cinta sangat kecil kemungkinannya bisa jadi penyebab utama dan satu-satunya. Sebagai pemicu mungkin bisa, namun hanya akan terjadi pada pribadi yang memang punya faktor risiko sebelumnya.

"Skizofrenia tidak bisa di-trigger oleh hal kecil yang baru (saja terjadi). Biasanya itu kumpulan, akumulasi dari yang sudah terjadi 10 atau 20 tahun lalu dan baru meledak saat ada pemicunya," kata ahli psikoseksual Zoya Amirin kepada detikHealth, seperti ditulis Rabu (24/10/2012).

Masalah emosi seperti saat sedang putus cinta memang bisa menjadi pemicu skizofrenia. Namun kasusnya tidak sebanyak gangguan jiwa lainnya seperti depresi, yang meski sering dianggap sepele dampaknya tidak kalah serius karena 80 persen kasus bunuh diri terjadi pada penderita depresi.

Anggapan gila kadang juga dialamatkan pada para remaja yang betah menjalani 'love-hate relationship' alias pacaran model benci tapi rindu. Sudah tahu kalau ketemu bakal cekcok, tetapi kangennya tidak pernak kapok. Orang bilang, "Gila lu ya."

"Oh kalau itu bukan gangguan jiwa, hal biasa itu dalam rangka pembiasaan dengan pasangan. Bukan kecenderungan masokis (perilaku seksual yang suka menyakiti dan disakiti), kalau anak muda biasanya itu karena posesif saja," kata dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K), psikiater anak dan remaja dari RS Jiwa Soeharto Heerdjan, Grogol.

Lain halnya kalau model hubungan semacam ini terbawa sampai menikah, kecenderungan masokis kejiwaan perlu diwaspadai. Zoya sempat mengatakan, beberapa orang memang lebih terangsang secara seksual kalau sebelum bercinta cekcok dulu dengan pasangan.

"Adrenalin rush ya? Mesti dicurigai, sebab ada pasangan yang sengaja cekcok biar bisa make up seks. Jadi sengaja cekcok biar bisa bergairah. Pertanyaannya adalah, memangnya kalau nggak berantem nggak bisa menjalani hubungan?" terang Zoya yang menilai perilaku tersebut tidak sehat secara emosional.

Bagi Zoya, cekcok atau berantem yang sehat adalah berantem yang pada akhirnya bisa menemukan solusi. Mitos dalam berhubungan yang mengatakan bahwa setelah berantem jadi lebih romantis itu salah besar karena lama-lama bisa menjadi masokis emosional.


(up/vit)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit