Ini Dia Status Gizi Anak Indonesia
Rabu, 14/11/2012 17:55 WIB
(Foto: Thinkstock)
Berita Lainnya
Jakarta, Saat ini belum banyak data mengenai status gizi anak-anak Indonesia. Padahal status gizi anak-anak ini turut mempengaruhi sumber daya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Hasil studi South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) yang melibatkan 4 negara di Asia Tenggara yaitu Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Thailand ini dilakukan untuk mengetahui status gizi anak sehingga nantinya dapat menyusun program intervensi yang tepat.
"Survei ini melibatkan 7.200 anak berusia 6 bulan sampai 12 tahun dan bertujuan untuk mengetahui status gizi anak Indonesia," ujar Dr Sandjaja, MPH, ketua tim peneliti SEANUTS Indonesia dalam acara Konferensi Nasional SEANUTS di Hotel Bidakara, Rabu (14/11/2012).
Dr Sandjaja menuturkan masalah gizi konsekuensinya tidak hanya di kesehatan, tapi juga pengaruhi produktivitas, perkembangan mental dan IQ. Pada studi lain diketahui gizi buruk bisa menurunkan IQ sebanyak 13 persen.
Survei ini dilakukan di 48 kabupaten/kota, 96 desa dan 25 propinsi yang hasilnya cukup memadai dan mewakili kondisi nyata dari masalah gizi makro dan mikro anak-anak Indonesia.
"Dasarnya bervariasi, mulai dari Jakarta lokasi yang elit sampai Papua. Kita pilih anak-anak yang sehat karenanya bekerja sama dengan puskesmas, tapi kalau dapati anak yang sakit tetap kita obati," ungkapnya.
Hasil survei ini mendapati beberapa fakta baru mengenai status gizi yang dimiliki oleh anak-anak Indonesia, yaitu:
1. Prevalensi kekurangan vitamin A sudah jauh menurun, tingkat kekurangan vitamin A pada anak usia 24-59 bulan sebesar 0,6 persen dan usia 5-12 tahun sebesar 0,7 persen.
"Sekarang rendah, kurang dari 1 persen karena pemerintah memberikan kapsul suplementasi vitamin A dari mulut ke mulut dan cakupannya tinggi," ujar Dr Minarto, MPS, direktur Bina Gizi Masyarakat Kemenkes.
2. Kadar vitamin D di bawah 40 nmol/L pada anak usia 24-59 bulan adalah 11,9 persen dan anak usia 5-12 tahun sebesar 12,5 persen. Sedangkan untuk kadar vitamin D di bawah 50 nmol/L pada anak usia 24-59 bulan sebesar 41,4 persen dan anak usia 5-12 tahun sebesar 46,7 persen.
3. Prevalensi anemia berdasarkan pengukuran hemoglobin pada anak usia 24-59 bulan adalah 13,4 persen dan anak usia 5-12 tahun sebesar 12,7 persen. Sedangkan prevalensi anemia berdasarkan kadar ferritin dalam darah pada anak usia 24-59 bulan adalah 13,2 persen dan anak usia 5-12 tahun adalah 3,7 persen.
4. Ekskresi iodium kategori defisiensi (kurang 100 mcg/L) adalah 11,5 persen, sedangkan ekskresi iodium kategori lebih dari cukup (lebih dari 200 mcg/L) adalah 14,9 persen.
5. Anak laki-laki yang tinggal di daerah pedesaan lebih aktif dari anak perempuan, sebaliknya anak perempuan yang tinggal di daerah perkotaan lebih aktif dari anak laki-laki.
6. Kondisi stunting parah lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dibanding perempuan dengan perbedaan sekitar 2,2 persen pada usia balita, sedangkan untuk usia 5-12 tahun perbedaanya sebesar 2,2 persen.
7. Sekitar 1,1 persen anak di pedesaan mengalami kondisi gizi buruk parah, sedangkan sekitar 6,9 persen mengalami kondisi gizi buruk. Pada kondisi ini seseorang kehilangan jaringan lemak dan otot akibat tubuh mengalami kondisi kekurangan gizi yang bersifat akut.
"Hasil ini menunjukkan pencapaian program pemerintah dalam meningkatkan status vitamin A pada anak melalui program pembagian kapsul vitamin A dosis tinggi 2 kali setahun dan peningkatan status yodium melalui yodisasi garam terbukti efektif," ujar Dr Minarto.
Lebih lanjut Dr Minarto mengungkapkan hasil ini juga menunjukkan masih ada beberapa indikator gizi yang harus diperhatikan di antaranya status vitamin D pada anak, stunting, underweight (kurang gizi termasuk gizi buruk) dan anemia.
Dr Minarto menjelaskan saat ini Indonesia memiliki 3 bentuk masalah gizi yaitu kekurangan zat gizi mikronutrien, masalah gizi kurang dan stunting serta masalah kelebihan gizi. Meski begitu saat ini sudah diketahui apa yang perlu dilakukan dan tinggal penerapannya saja.
(ver/vit)
Hasil studi South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) yang melibatkan 4 negara di Asia Tenggara yaitu Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Thailand ini dilakukan untuk mengetahui status gizi anak sehingga nantinya dapat menyusun program intervensi yang tepat.
"Survei ini melibatkan 7.200 anak berusia 6 bulan sampai 12 tahun dan bertujuan untuk mengetahui status gizi anak Indonesia," ujar Dr Sandjaja, MPH, ketua tim peneliti SEANUTS Indonesia dalam acara Konferensi Nasional SEANUTS di Hotel Bidakara, Rabu (14/11/2012).
Dr Sandjaja menuturkan masalah gizi konsekuensinya tidak hanya di kesehatan, tapi juga pengaruhi produktivitas, perkembangan mental dan IQ. Pada studi lain diketahui gizi buruk bisa menurunkan IQ sebanyak 13 persen.
Survei ini dilakukan di 48 kabupaten/kota, 96 desa dan 25 propinsi yang hasilnya cukup memadai dan mewakili kondisi nyata dari masalah gizi makro dan mikro anak-anak Indonesia.
"Dasarnya bervariasi, mulai dari Jakarta lokasi yang elit sampai Papua. Kita pilih anak-anak yang sehat karenanya bekerja sama dengan puskesmas, tapi kalau dapati anak yang sakit tetap kita obati," ungkapnya.
Hasil survei ini mendapati beberapa fakta baru mengenai status gizi yang dimiliki oleh anak-anak Indonesia, yaitu:
1. Prevalensi kekurangan vitamin A sudah jauh menurun, tingkat kekurangan vitamin A pada anak usia 24-59 bulan sebesar 0,6 persen dan usia 5-12 tahun sebesar 0,7 persen.
"Sekarang rendah, kurang dari 1 persen karena pemerintah memberikan kapsul suplementasi vitamin A dari mulut ke mulut dan cakupannya tinggi," ujar Dr Minarto, MPS, direktur Bina Gizi Masyarakat Kemenkes.
2. Kadar vitamin D di bawah 40 nmol/L pada anak usia 24-59 bulan adalah 11,9 persen dan anak usia 5-12 tahun sebesar 12,5 persen. Sedangkan untuk kadar vitamin D di bawah 50 nmol/L pada anak usia 24-59 bulan sebesar 41,4 persen dan anak usia 5-12 tahun sebesar 46,7 persen.
3. Prevalensi anemia berdasarkan pengukuran hemoglobin pada anak usia 24-59 bulan adalah 13,4 persen dan anak usia 5-12 tahun sebesar 12,7 persen. Sedangkan prevalensi anemia berdasarkan kadar ferritin dalam darah pada anak usia 24-59 bulan adalah 13,2 persen dan anak usia 5-12 tahun adalah 3,7 persen.
4. Ekskresi iodium kategori defisiensi (kurang 100 mcg/L) adalah 11,5 persen, sedangkan ekskresi iodium kategori lebih dari cukup (lebih dari 200 mcg/L) adalah 14,9 persen.
5. Anak laki-laki yang tinggal di daerah pedesaan lebih aktif dari anak perempuan, sebaliknya anak perempuan yang tinggal di daerah perkotaan lebih aktif dari anak laki-laki.
6. Kondisi stunting parah lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dibanding perempuan dengan perbedaan sekitar 2,2 persen pada usia balita, sedangkan untuk usia 5-12 tahun perbedaanya sebesar 2,2 persen.
7. Sekitar 1,1 persen anak di pedesaan mengalami kondisi gizi buruk parah, sedangkan sekitar 6,9 persen mengalami kondisi gizi buruk. Pada kondisi ini seseorang kehilangan jaringan lemak dan otot akibat tubuh mengalami kondisi kekurangan gizi yang bersifat akut.
"Hasil ini menunjukkan pencapaian program pemerintah dalam meningkatkan status vitamin A pada anak melalui program pembagian kapsul vitamin A dosis tinggi 2 kali setahun dan peningkatan status yodium melalui yodisasi garam terbukti efektif," ujar Dr Minarto.
Lebih lanjut Dr Minarto mengungkapkan hasil ini juga menunjukkan masih ada beberapa indikator gizi yang harus diperhatikan di antaranya status vitamin D pada anak, stunting, underweight (kurang gizi termasuk gizi buruk) dan anemia.
Dr Minarto menjelaskan saat ini Indonesia memiliki 3 bentuk masalah gizi yaitu kekurangan zat gizi mikronutrien, masalah gizi kurang dan stunting serta masalah kelebihan gizi. Meski begitu saat ini sudah diketahui apa yang perlu dilakukan dan tinggal penerapannya saja.
(ver/vit)
Baca Juga
- Anak Pusing-pusing Belum Tentu karena Matanya Minus
- Ingin Anak Selalu Bugar? Olahraga 7 Menit Saja Cukup Kok
- Anak Orang Kaya Lebih Gampang Kena Alergi Kacang
- Waduh, Obat Demam Malah Bikin Bayi Rentan Asma
- Tambah Waktu Bermain Anak di Luar Rumah Kurangi Risiko Mata Minus
- Saat Liburan, Kasus Diabetes pada Anak Naik
Foto Terkait
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Rabu,19/06/2013 20:08 WIB
Jepang Kembangkan Organ Vital Manusia dari Rahim Hewan
-
Rabu,19/06/2013 19:33 WIB
Mastectomy Bra, Bra Seksi untuk Wanita 'Tak Berpayudara'
-
Rabu,19/06/2013 19:06 WIB
Jika Tak Diatasi, Ngorok Bisa Rusak Kehidupan Seks
-
Rabu,19/06/2013 18:36 WIB
Yuk Jadi Konsumen Cerdas dengan Rajin Baca Keterangan di Label Makanan
-
Rabu,19/06/2013 18:13 WIB
Takut Kena Kanker karena Kemaluan Terasa Sakit Setelah Ejakulasi
-
Rabu,19/06/2013 18:00 WIB
Bebas Ngorok Saat Tidur dengan Langkah Ini
-
Jika Tak Diatasi, Ngorok Bisa Rusak Kehidupan Seks
-
Bebas Ngorok Saat Tidur dengan Langkah Ini
-
Kenali Risiko yang Mungkin Terjadi Jika Ibu Hamil Tidur Ngorok
-
Ini Dia Ciri-ciri Orang yang Kalau Tidur Ngorok
-
Mengapa Suara Mengorok Bisa Berbeda-beda?
-
Terus-terusan Tidur Ngorok? Ini Dampaknya
-
Rabu, 19/06/2013 19:24 WIB
Mastectomy Bra, Bra Seksi untuk Wanita 'Tak Berpayudara'
-
Rabu, 19/06/2013 16:03 WIB
Ulasan Khas Tidur Ngorok
Ini Dia Ciri-ciri Orang yang Kalau Tidur Ngorok
-
Rabu, 19/06/2013 17:25 WIB
Bra Ini Diciptakan karena Tak Semua Orang Mau Telanjang di Ruang Operasi
-
Rabu, 19/06/2013 19:59 WIB
Jepang Kembangkan Organ Vital Manusia dari Rahim Hewan
-
Rabu, 19/06/2013 17:59 WIB
Ulasan Khas Tidur Ngorok
Bebas Ngorok Saat Tidur dengan Langkah Ini
-
Rabu, 19/06/2013 07:37 WIB
4 Peregangan Wajib di Pagi Hari Sebelum Beranjak dari Tempat Tidur
-
Rabu, 19/06/2013 11:40 WIB
Tangan Selalu Basah, Gejala Penyakit Apa?
-
Rabu, 19/06/2013 11:08 WIB
Ulasan Khas Tidur Ngorok
Pasangan Anda Tidur Mengorok? Lakukan Langkah Ini Agar Tak Terganggu
-
35 Komentar
-
18 Komentar
-
16 Komentar
-
16 Komentar
-
15 Komentar
-
6 Komentar
-
6 Komentar
-
5 Komentar
-
Kalkulator Seks
Berapa Kali Anda Pernah Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Lama Berhubungan Seks
Berapa Durasi Rata-rata Ketika Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Masa Subur
Kapan Perkiraan Masa Paling Subur Anda?
Must Read
close
-
Rabu, 19/06/2013 11:08 WIB
Pasangan Anda Tidur Mengorok? Lakukan Langkah Ini Agar Tak Terganggu
-
Rabu, 19/06/2013 10:33 WIB
Meski Tak Bisa Melihat, Ini 7 Tunanetra Paling Mengagumkan di Dunia
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

Cek Masa Pertumbuhan Anak Anda






_5.gif)



