detikhealth

Doctor's Life

Dr Siti Setiati, Suka dengan Pasien Tua karena 'Wisdom'-nya

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Senin, 26/11/2012 12:34 WIB
Dr Siti Setiati, Suka dengan Pasien Tua karena Wisdom-nyaDr Siti Setiati (foto: detikHealth)
Jakarta, Kesehatan itu hak semua orang, semua golongan dan semua usia. Tapi di Indonesia, kebanyakan yang paling banyak mendapat perhatian adalah anak-anak dan ibu hamil. Ada kelompok usia yang rentan terserang penyakit, namun masih kurang mendapat perhatian serius, yaitu kelompok usia lanjut.

"Orang-orang lanjut usia rentan terserang berbagai penyakit karena penuaan maupun penyakit kronis seperti penyakit jantung, darah tinggi, diabetes, stroke dan sebagainya. Namun tidak banyak orang yang mau benar-benar terjun memperhatikannya," kata dr Siti Setiati, SpPD, ahli gerontologi (ilmu penuaan) dari FKUI/RSCM kepada detikHealth seperti ditulis Senin (26/11/2012).

Merawat kakek-nenek yang telah jompo membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Dr Setiati sendiri mengakui bahwa tak banyak dokter yang menekuni masalah orang tua ini secara mendalam. Selain merepotkan, orang-orang pada usia ini cenderung rewel dan susah dipahami.

Dr Siti mengaku bahwa untuk memeriksa 1 pasien saja dibutuhkan waktu sekitar 1 jam. Namun jika pasiennya sudah sering berkonsultasi, waktunya bisa berkurang menjadi sekitar 45 menit.

"Merawat orang tua itu butuh ketelatenan dan kesabaran ekstra. Saya menekuninya karena terdorong oleh kepedulian dan juga memang suka berinteraksi dengan orang tua. Saya mengagumi 'wisdom'-nya dan pengalaman hidupnya," kata dr Siti.

Ketertarikan dr Siti menangani pasien lanjut usia bertambah ketika bertemu dengan seorang pasien di tahun 2000-an. Ketika itu dia sedang memeriksa seorang pasien lanjut usia yang ditemani perempuan paruh baya. Ketika ditanya, perempuan tersebut mengaku bahwa pasien yang sedang diperiksa dr Siti itu bukanlah orangtuanya, melainkan saudara jauhnya dari Semarang.

Dr Siti penasaran, mengapa perempuan tersebut mau repot-repot membawa saudara jauh dari Semarang untuk dirawat di Jakarta dengan telaten, padahal nenek jompo itu bukan orang tua kandungnya. Perempuan tersebut menjawab bahwa ia menganggap lansia yang ia rawat ini bukanlah beban, melainkan ladang amal untuk beribadah.

"Ini kan ladang amal buat saya Bu. Jarang-jarang lho kita dikasih kesempatan sama Tuhan untuk beribadah seperti ini, jadi buat saya kenapa tidak?" tutur dr Siti menirukan ucapan perempuan tersebut.

Mendengar perkataan perempuan tersebut, dr Siti pun terhenyak. Ia memahami betapa repotnya mengurus lansia. Tapi dengan kesabaran dan keikhlasan hati, kerepotan itu tentu akan berbuah baik. Apalagi karena semua orang juga pasti bertambah tua. Jika sejak sekarang mau merawat orang tua, maka gantian nanti jika bertambah tua akan ada orang yang merawatnya.

Walau tak banyak peminat, dr Siti yakin bahwa pertumbuhan dokter spesialis penuaan akan bertambah banyak di kemudian hari. Saat ini ia memperkirakan ada 30 orang dokter subspesialis Geriatri, yaitu ilmu kedokteran yang mempelajari penyakit orang usia lanjut. Namun data menunjukkan bidang ini nampaknya akan semakin dibutuhkan beberapa tahun mendatang.

Pada tahun 2010 di Indonesia, ada sekitar 23,9 juta orang usia lanjut dengan rata-rata usia harapan hidup mencapai 67,9 tahun. Pada tahun 2020 nanti, diperkirakan jumlahnya akan naik menjadi 28 juta dengan rata-rata usia harapan hidup sebesar 71,1 tahun. Artinya, jumlah penduduk usia lanjut semakin meningkat.

"Ilmu tentang lansia ini kan sebenarnya ilmu yang baru. Di Indonesia sendiri baru masuk tahun 90-an. Di negara-negara maju lainnya memang sudah cukup berkembang, namun di sini nampaknya juga akan demikian mengingat kerentanan lansia terhadap malnutrisi," terang dr Siti.

Dr Siti memaparkan bahwa pada usia 50-59 tahun, risiko malnutrisi yang dimiliki adalah sebesar 22 persen. Ketika berusia 60-69 tahun, risikonya naik menjadi 25%. Risiko ini akan naik menjadi 27% saat usia 70-79 tahun, lalu naik menjadi 33 persen pada usia 80-89 tahun dan pada usia di atas 90 tahun akan meningkat jadi 37 persen.

Kondisi malnutrisi pada orang usia lanjut ini tentu berdampak buruk bagi kesehatannya, yaitu menyebabkan proses penyembuhan menjadi lama, otot menciut (sarkopenia), meningkatkan risiko terjadinya komplikasi dan infeksi, memperlama rawat inap di RS sehingga meningkatkan biaya perawatan, menurunkan kualitas hidup bahkan meningkatkan risiko kematian.

BIODATA

Nama: Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, KGer, M.Epid, FINASIM

Tempat tanggal lahir: Bandung, 15 Oktober 1961

Pendidikan:


  • Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1980-1986)
  • Spesialis Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1996)
  • Pendidikan Pasca Sarjana Departemen Kedokteran Geriatrik dan Rehabilitasi di rumah sakit Royal Adelaide, Australia (1996-1997)
  • Pendidikan SP2 Konsultan Geriatri Penyakit Dalam, Kolegium Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1997-2000),
  • Program Pasca Sarjana Epidemiologi Klinik, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (2001-2003)
  • Doktor Epidemiologi Klinik, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (2003-2006)


Pengalaman Kerja:


  • Kepala Puskesmas Sei Purun dan Batu Ampar, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat (1987-1990)
  • Penanggung Jawab Klinik Layanan Terpadu Usia Lanjut RSCM (1998-2004)
  • Tim Editor Majalah Kedokteran Indonesia (2002-2003)
  • Anggota Program Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan FKUI (2000-2005)
  • Ketua Bidang Ilmiah Pengurus Besar Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (2004 -sekarang)
  • Koordinator Penelitian dan Administrasi Keuangan Divisi Geriatri (2004-sekarang)
  • Ketua Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI (2006-sekarang)
  • Sekretaris Unit Epidemiologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI (2005-sekarang)
  • Sekretaris Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (2003-sekarang)
  • Koordinator pendidikan PPDS tahap I Program Studi Ilmu Penyakit Dalam FKUI (2004-sekarang)
  • Staf Pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI (1996-sekarang)


Praktik:


  • Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta
  • Rumah Sakit Medistra, Jakarta


Organisasi:


  • IDI (Ikatan Dokter Indonesia)
  • PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia)
  • Pergemi (Persatuan Gerontologi Medik Indonesia)





(pah/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close