detikhealth

Dikira Gejala Pilek, Ternyata Cairan Otak Meler Lewat Hidung

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Selasa, 04/12/2012 11:32 WIB
Dikira Gejala Pilek, Ternyata Cairan Otak Meler Lewat Hidung Aundrea Aragon (Foto: ABC News)
Arizona, Seorang wanita di Arizona mengalami gejala hidung meler selama 4 bulan. Awalnya ia mengira itu hanyalah gejala flu biasa. Setelah mengunjungi ahli bedah, ia terkejut mendapati bahwa cairan yang keluar dari hidungnya bukan disebabkan oleh flu, melainkan cairan dari otaknya.

Aundrea Aragon (35 tahun) merasa ada hal yang aneh akan gejala hidung melernya itu sebab cairan dari hidungnya itu keluar terlalu banyak. Cairan akan selalu menetes tiap kali ia membungkuk. Ia sudah memeriksakan diri ke dokter, tetapi dokter mengiranya gejala flu.

"Itu bahkan tidak menetes, itu mengalir keluar dari hidung saya. Jika saya melihat ke bawah atau membungkuk, cairan kan keluar dari hidung kiri saya, tak bisa dikontrol sama sekali," kata Aragon seperti dilansir ABC News, Selasa (4/12/2012).

Aragon mengaku bahwa beberapa minggu sebelum mengalami kebocoran otak ini, ia mengalami infeksi sinus dan diresepkan antibiotik oleh dokternya. Karena begitu sibuk dengan 3 anaknya yang baru berumur 9-16 tahun, ia tidak begitu memusingkan obatnya.

Setelah minum obat tersebut, Aragon tidur namun terbangun karena tersedak cairan dari hidungnya yang tak henti-hentinya mengalir. Obat semprot hidung tidak efektif mengatasi melernya, maka ia pun menjadi bingung dan pergi ke UGD terdekat.

Seorang perawat di UGD yang memeriksanya terkejut melihat banyaknya cairan yang keluar dari hidung Aragon. Ketika cairan itu diperiksa di laboratorium, ternyata protein yang ada dalam cairan itu adalah cairan otak.

Aragon lalu dirujuk ke spesialis bedah di University of Arizona Medical Center. Ia terkejut mendapat diagnosis bahwa otaknya bocor. Cairan ingus yang keluar sebenarnya adalah cairan cerebrospinal yang merembes lewat 2 celah di bagian belakang sinus.

Pernyakit Aragon yang disebut kebocoran cairan cerebrospinal ini amat langka sebab hanya terjadi pada 1 dari 200.000 pasien. Para dokter mengatakan bahwa Aragon masih beruntung bisa hidup karena ia bisa saja terkena meningitis dan koma, lalu terancam nyawanya.

"Penyakit ini paling sering terlihat pada pasien dengan kelebihan berat badan yang memiliki tekanan kranial tinggi dan sinus yang terbuka. Kadang-kadang kecelakaan mobil atau trauma kepala dapat menyebabkan luka. Dalam kasus ini, penyakit ini amat aneh," kata Dr Alexander G. Chiu, ahli bedah dan kepala divisi THT University of Arizona Medical Center.

Menurut Chiu, yang bisa berakibat fatal bukanlah hilangnya cairan, namun infeksi. Tubuh akan selalu membuat cairan otak. Bila ada hubungan antara otak yang merupakan bagian terbersih dari tubuh dengan hidung yang merupakan bagian paling kotor, kuman bisa masuk ke otak.

Chiu yang sudah menangani sekitar 100 kasus kelainan ini dibantu rekannya, ahli bedah saraf Dr Michael G. Lemole menggunakan metode endoskopi untuk mameriksa sinus dan menambal dua celah yang ada dengan cara cangkok kulit.

University of Arizona merupakan satu-satunya tempat untuk rutin melakukan prosedur ini dan paling sering menangani kasus serupa. Di rumah sakit lain, ahli bedah biasanya akan memperbaiki retakan sinus dengan kraniotomi, yaitu membuka batok kepala yang jauh lebih berisiko.

Prosedur endoskopi ini dianggap jauh lebih aman karena tidak akan menyentuh saraf optik dan bagian dari otak yang bertanggung jawab memproses bau. Prosedur ini berhasil pada 95-99 persen dari kasus. Sedangkan jika menggunakan kraniotomi, kemungkinan suksesnya hanya 60 persen.




(pah/nvt)


Punya pengalaman diet yang menginspirasi ? Ceritakan pengalamanmu disini


Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit