Protein Ini Bisa Jadi Kunci Terapi Baru Atasi Obesitas
Rabu, 09/01/2013 07:00 WIB
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Berita Lainnya
Jakarta, Sudah diet dan olahraga mati-matian tapi berat badan tak kunjung turun? Bisa jadi masalahnya bukan di metode yang Anda gunakan tapi struktur tubuh Anda sendiri. Baru-baru ini sekelompok peneliti menemukan sebuah protein yang dapat dijadikan sarana untuk membantu orang-orang mengatasi masalah kelebihan berat badan yang dialaminya.
"Dalam banyak kasus, obesitas itu disebabkan oleh faktor yang lebih dari sekedar makan berlebihan dan kurang berolahraga. Misal ada sesuatu yang rusak di dalam tubuh sehingga tubuh menyimpan lebih banyak lemak dan membakar energi lebih sedikit," ungkap salah satu peneliti dari Sanford-Burnham Medical Research Institute.
Peneliti percaya penyebabnya adalah sebuah protein yang disebut dengan ps62. Ketika protein ps62 ini hilang dari jaringan lemak, keseimbangan metabolik dari sistem tubuh seseorang akan berubah sehingga menyebabkan terhambatnya produksi brown adipose tissue (BAT) yang 'baik', sekaligus mendukung munculnya white adipose tissue (WAT) yang 'buruk'.
"Tanpa ps62, Anda akan membuat banyak lemak tapi tak bisa membakar banyak energi, bahkan tubuh merasa perlu menyimpan banyak energi," tandas Dr. Jorge Moscat dari Sanford-Burnham Medical Research Institute.
Yang membuat Moscat rekan-rekannya dari German Research Center for Environmental Health dan University of Cincinnati semakin yakin dengan temuan mereka adalah partisipan yang tidak memiliki protein ps62 di dalam tubuhnya memiliki karakteristik obesitas, menderita diabetes, mengeluarkan energi lebih sedikit atau terlihat lemah serta mengidap sindrom metabolik.
"Sejumlah peneliti percaya bahwa obesitas dipengaruhi oleh kerusakan pada jaringan otot, hati atau kesalahan pada pusat pengendalian selera makan yang ada di dalam otak. Tapi kemudian ditemukan adanya lemak putih dan lemak coklat sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi risiko obesitas. Lemak putih adalah lemak tubuh yang tidak diinginkan, sedangkan lemak coklat adalah lemak bermanfaat karena dapat membakar kalori," terang peneliti seperti dilansir redorbit, Rabu (9/1/2013).
Untuk membuktikannya, Moscat dan rekan-rekannya mencoba mencari tahu jaringan mana yang khusus bertanggung jawab terhadap obesitas dengan menciptakan beberapa tikus model yang 'dihilangkan' protein ps62-nya dari sejumlah sistem organ spesifik seperti sistem saraf pusat, hati atau otot. Namun ternyata tikusnya tetap normal dan tak mengalami obesitas.
Sebaliknya ketika peneliti menciptakan tikus model yang kekurangan protein ps62 di dalam jaringan lemaknya, tikusnya menjadi obesitas. Lalu setelah dianalisis terungkap bahwa protein ps62 menghambat sebuah enzim (ERK yang lebih aktif di dalam lemak putih) sembari memicu enzim ps38 yang tak begitu aktif di dalam lemak coklat. Dari situ peneliti semakin yakin bahwa protein ps62 mengatur proses metabolisme lemak secara normal.
Menurut Moscat, temuan tentang peran protein ps62 di dalam lemak coklat ini dapat dimanfaatkan potensinya dalam terapi pencegahan atau pengobatan obesitas karena jaringan lemak jauh lebih mudah diakses ketimbang bagian tubuh lainnya, mengingat obesitas telah menjadi epidemi di AS.
"Terapi obat-obatan ini dapat dirancang untuk meminimalisir asupan makanan sekaligus menghasilkan efek samping yang cukup besar," pungkasnya.
(vit/vit)
"Dalam banyak kasus, obesitas itu disebabkan oleh faktor yang lebih dari sekedar makan berlebihan dan kurang berolahraga. Misal ada sesuatu yang rusak di dalam tubuh sehingga tubuh menyimpan lebih banyak lemak dan membakar energi lebih sedikit," ungkap salah satu peneliti dari Sanford-Burnham Medical Research Institute.
Peneliti percaya penyebabnya adalah sebuah protein yang disebut dengan ps62. Ketika protein ps62 ini hilang dari jaringan lemak, keseimbangan metabolik dari sistem tubuh seseorang akan berubah sehingga menyebabkan terhambatnya produksi brown adipose tissue (BAT) yang 'baik', sekaligus mendukung munculnya white adipose tissue (WAT) yang 'buruk'.
"Tanpa ps62, Anda akan membuat banyak lemak tapi tak bisa membakar banyak energi, bahkan tubuh merasa perlu menyimpan banyak energi," tandas Dr. Jorge Moscat dari Sanford-Burnham Medical Research Institute.
Yang membuat Moscat rekan-rekannya dari German Research Center for Environmental Health dan University of Cincinnati semakin yakin dengan temuan mereka adalah partisipan yang tidak memiliki protein ps62 di dalam tubuhnya memiliki karakteristik obesitas, menderita diabetes, mengeluarkan energi lebih sedikit atau terlihat lemah serta mengidap sindrom metabolik.
"Sejumlah peneliti percaya bahwa obesitas dipengaruhi oleh kerusakan pada jaringan otot, hati atau kesalahan pada pusat pengendalian selera makan yang ada di dalam otak. Tapi kemudian ditemukan adanya lemak putih dan lemak coklat sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi risiko obesitas. Lemak putih adalah lemak tubuh yang tidak diinginkan, sedangkan lemak coklat adalah lemak bermanfaat karena dapat membakar kalori," terang peneliti seperti dilansir redorbit, Rabu (9/1/2013).
Untuk membuktikannya, Moscat dan rekan-rekannya mencoba mencari tahu jaringan mana yang khusus bertanggung jawab terhadap obesitas dengan menciptakan beberapa tikus model yang 'dihilangkan' protein ps62-nya dari sejumlah sistem organ spesifik seperti sistem saraf pusat, hati atau otot. Namun ternyata tikusnya tetap normal dan tak mengalami obesitas.
Sebaliknya ketika peneliti menciptakan tikus model yang kekurangan protein ps62 di dalam jaringan lemaknya, tikusnya menjadi obesitas. Lalu setelah dianalisis terungkap bahwa protein ps62 menghambat sebuah enzim (ERK yang lebih aktif di dalam lemak putih) sembari memicu enzim ps38 yang tak begitu aktif di dalam lemak coklat. Dari situ peneliti semakin yakin bahwa protein ps62 mengatur proses metabolisme lemak secara normal.
Menurut Moscat, temuan tentang peran protein ps62 di dalam lemak coklat ini dapat dimanfaatkan potensinya dalam terapi pencegahan atau pengobatan obesitas karena jaringan lemak jauh lebih mudah diakses ketimbang bagian tubuh lainnya, mengingat obesitas telah menjadi epidemi di AS.
"Terapi obat-obatan ini dapat dirancang untuk meminimalisir asupan makanan sekaligus menghasilkan efek samping yang cukup besar," pungkasnya.
(vit/vit)
Anda punya pengalaman diet yang menginspirasi? Silakan berbagi pengalaman Anda, dan jangan lupa sertakan foto sebelum dan sesudah diet di Sini
Baca Juga
- Awas, Risiko Ini Bisa Muncul Jika Berat Badan Terlalu Cepat Turun
- Strategi Diet: Pertimbangkan Usaha Membakar Kalori Sebelum Ambil Makanan
- 'Aturan' Diet Ini Jangan Anda Dengarkan
- Kesalahan yang Sering Dilakukan di Restoran dan Membuat Gemuk
- Cara Baru Atasi Obesitas, Usus Dilatih Mengenali Rasa
- Cara Efektif Agar Suami Kembali Langsing adalah dengan Mengomelinya
Foto Terkait
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Minggu,19/05/2013 16:04 WIB
Ini Dia 12 Cara Mudah Tingkatkan Orgasme Saat Bercinta
-
Minggu,19/05/2013 14:03 WIB
Sebelum Anak Leukimia Diobati dengan Stem Cell, Pikirlah Sekali Lagi
-
Minggu,19/05/2013 13:02 WIB
Bayi yang Baru Dilahirkan Ini Keracunan Alkohol Gara-gara Ibunya Mabuk
-
Minggu,19/05/2013 12:05 WIB
Obati Leukimia dengan Stem Cell, Berapa Besar Tingkat Keberhasilannya?
-
Minggu,19/05/2013 11:06 WIB
Pesan IDI di Hari Bakti: Batasi Konsumsi Gula untuk Hidup yang Lebih Manis
-
Minggu,19/05/2013 10:01 WIB
Wanita dan Pria, Mana Lebih Baik Fisiknya Sebelum Serangan Jantung?
-
Ulasan Khas Alergi
Begini Caranya Dapat Momongan Ketika Punya Alergi Sperma
-
Ulasan Khas Alergi
Alergi Lateks, Salah Satu Penyebab Orang Malas Pakai Kondom
-
Ulasan Khas Alergi
Andai Semua Orang Alergi Uang, Masih Adakah Korupsi?
-
Ulasan Khas Alergi
Ini Dia 5 Pemicu Alergi pada Anak
-
Ulasan Khas Alergi
Waspadai, Ini Tandanya Tubuh Mengalami Alergi Cuaca
-
Ulasan Khas Alergi
Hati-hati Pilih Obat, Salah-salah Tidak Jadi Sembuh Malah Alergi
-
Ulasan Khas Alergi
Alergi Tak Bisa Sembuh, Hindari Pemicu Atau Malah Harus Dibiasakan?
-
Ulasan Khas Alergi
Lakukan Tes Ini Jika Curiga Punya Alergi
-
Minggu, 19/05/2013 16:04 WIB
Ini Dia 12 Cara Mudah Tingkatkan Orgasme Saat Bercinta
-
Minggu, 19/05/2013 14:03 WIB
Laporan dari Singapura
Sebelum Anak Leukimia Diobati dengan Stem Cell, Pikirlah Sekali Lagi
-
Minggu, 19/05/2013 13:02 WIB
Bayi yang Baru Dilahirkan Ini Keracunan Alkohol Gara-gara Ibunya Mabuk
-
Minggu, 19/05/2013 09:03 WIB
Mau Angkat Telepon Pakai Tangan yang Mana? Otaklah Penentunya
-
Sabtu, 18/05/2013 16:08 WIB
Agar Pria Berpenis Mungil Pede, Kontes Mr P Terkecil Digelar
-
Minggu, 19/05/2013 08:01 WIB
Banyak Minum Minuman Berpemanis Buatan Picu Risiko Batu Ginjal
-
Sabtu, 18/05/2013 10:25 WIB
Inilah Alasan Mengapa Air Kelapa Murni Itu Menyehatkan
-
Minggu, 19/05/2013 10:01 WIB
Wanita dan Pria, Mana Lebih Baik Fisiknya Sebelum Serangan Jantung?
-
10 Komentar
-
5 Komentar
-
5 Komentar
-
5 Komentar
-
4 Komentar
-
4 Komentar
-
3 Komentar
-
3 Komentar
-
Kalkulator Seks
Berapa Kali Anda Pernah Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Lama Berhubungan Seks
Berapa Durasi Rata-rata Ketika Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Masa Subur
Kapan Perkiraan Masa Paling Subur Anda?
Must Read
close
-
Sabtu, 18/05/2013 10:25 WIB
Inilah Alasan Mengapa Air Kelapa Murni Itu Menyehatkan
-
Sabtu, 18/05/2013 09:42 WIB
Tak Hanya untuk Bikin Cokelat, Kakao Juga Bisa Jadi Obat Tifus
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

Cek Masa Pertumbuhan Anak Anda






_7.gif)

