detikhealth

Jumlah Anak 'Kuntet' di Indonesia Tak Berkurang Sejak 1992

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 14/01/2013 12:43 WIB

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta, Salah satu indikator yang menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan di Indonesia belum memuaskan adalah masih tingginya jumlah anak stunting alias pendek. Menurut pengamat gizi, jumlah anak yang kemudian dikatakan kuntet karena pertumbuhan tinggi badannya tidak optimal sampai dewasa cenderung tidak berkurang sejak tahun 1992.

Pengamat gizi dari Universitas Hassanudin Makassar, Prof Abdul Razak Thaha menilai hal itu kontradiktif dengan fakta lain yang menunjukkan bahwa pendapatan per kapita justru meningkat. Menurutnya, kontradiksi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan kurang merata dan kurang menyentuh kelompiok miskin.

"Kalau kita lihat, stunting (pendek) di negara-negara Asia Tenggara yang lain angkanya terus turun. Di Indonesia tidak banyak berkurang sejak 1992," kata Prof Thaha dalam diskusi Refleksi Setahun Menjelang Pilpres 2014 di Kantor Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Menteng, Jakarta Pusat, Senin (14/1/2013).

Dibandingkan negara lain di seluruh dunia, jumlah anak pendek di Indonesia memang masih memprihatinkan. Secara global jumlahnya menempati urutan ke-5, berturut-turut di bawah India, China, Nigeria dan Pakistan.


"Indonesia hanya 'kalah' dari India dan China karena jumlah penduduknya. Kurang lebih setara dengan Pakistan dan India," lanjut Prof Thaha.

Masalah anak pendek atau stunting merupakan salah satu masalah gizi yang sifatnya kompleks dan terbentuk dari lintas generasi. Kurang gizi yang dialami suatu generasi, umumnya baru memicu stunting pada generasi-generasi berikutnya yang berarti anak cucu yang bersangkutan.

Menariknya lagi, di setiap daerah di seluruh Indonesia ada korelasi yang erat antara jumlah anak pendek dan anak gemuk atau gizi berlebih. Seperti disampaikan Prof Thaha, makin banyak anak kurus di suatu daerah maka semakin banyak jumlah anak gemuk di daerah tersebut.

"Anak pendek kalau kita beri gizi, akan kelihatan gemuk. Tapi sebenarnya punya risiko terkena sakit jantung dan sebagainya," tambah Prof Thaha.

Di seluruh dunia, jumlah anak stunting atau pendek mencapai 32 persen dari jumlah balita yang ada, atau kurang lebih 3 dari 10 balita. Dari angka tersebut, 90 persen atau 9 dari 10 berada di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia.



(up/vit)






Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        
    Twitter Recommendation


    Kalkulator Sehat indeks »
    Database Dokter Obat Penyakit
    Must Read close