Ini Risikonya Diet Makanan Mentah
Jumat, 18/01/2013 09:26 WIB
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Berita Lainnya
Jakarta, Diet banyak ragamnya, misalnya vegetarianisme atau diet Mediteranian yang efektivitasnya telah terbukti secara ilmiah dan diet vegan yang benar-benar menghindari berbagai produk hewani seperti telur dan susu. Lalu ada lagi yang baru yaitu diet vegan mentah yang menganggap makanan olahan tak alami dan tak sehat. Tapi apakah itu benar-benar sehat?
Diet vegan mentah ini menganjurkan agar bahan makanan tak dipanaskan di atas suhu 40 derajat Celcius. Makanan hanya boleh dimakan dalam kondisi segar, didehidrasi dengan panas rendah, difermentasi, dijus dan dibuat menjadi 'green smoothies'.
Menurut diet ini bahan makanan yang dipanaskan di atas 40 derajat Celcius tak hanya akan menghilangkan nutrisi yang ada di dalamnya tapi juga membuat makanan menjadi beracun dan susah dicerna. Padahal belum tentu yang ditekankan diet ini sudah benar. Untuk lebih jelasnya berikut 4 hal yang disalahpahami oleh pelaku diet vegan mentah seperti dilansir Livescience, Jumat (18/1/2013).
Kesalahpahaman #1: Memasak merusak nutrisi
Memang benar bahan makanan mentah itu masih bergizi tinggi tapi bukan berarti jika dimasak lalu nutrisi ini hilang. Sebaliknya proses memasak dapat memecahkan dinding sel dan serat dari makanan agar dapat melepaskan nutrisi yang sama dengan yang diperoleh dari makanan mentah.
Misalnya memasak tomat dapat meningkatkan bioavaibilitas dari antioksidan yang dikandung tomat yaitu likopen hingga lima kali lipat. Begitu juga dengan wortel yang dimasak karena proses itu membuat beta-karoten yang dikandungnya jadi lebih mudah diserap oleh tubuh ataupun sup.
Memasak juga dapat mengurangi kadar senyawa-senyawa kimia tertentu yang menghambat penyerapan mineral, termasuk mineral penting seperti zat besi, seng, kalsium dan magnesium. Seperti halnya memasak bayam akan melepaskan lebih banyak zat besi dan kalsium dari daunnya.
"Memang ada beberapa nutrisi yang hilang saat dimasak seperti vitamin C dan vitamin B tertentu. Tapi tumbuhan mengandung begitu banyak nutrisi sehingga proses memasak pun tak mampu menghilangkan seluruh nutrisi yang ada," ungkap John McDougall, penemu salah satu jenis diet ramah vegan dan pati, McDougall Program.
"Lagipula memakan makanan mentah maupun olahan akan memberikan manfaat terbaik dari keduanya," timpal Jennifer Nelson dari Mayo Clinic dan profesor gizi dari Mayo Medical School in Rochester, Minn.
Lain halnya dengan masak terlalu lama (overcooking) dan charring karena keduanya memang dapat menghilangkan kandungan nutrisi sekaligus menciptakan senyawa kimia penyebab kanker. Kendati begitu solusinya bukan berhenti memasak sama sekali, tapi lebih beralih pada mengukus, menumis atau banyak membuat sup.
Sedangkan membuat fermentasi atau jus dari bahan makanan mentah memang dapat mengakibatkan semakin banyak sejumlah nutrisi yang muncul tapi hal itu tidak dapat menggeser fakta bahwa memasak membuat makanan lebih mudah dicerna dan bergizi.
Kesalahpahaman #2: Memasak merusak enzim
Panas memang bisa merusak enzim-enzim yang ada dalam makanan tapi hal ini bukan jadi soal. Lagipula manusia memiliki enzim pencernaan tersendiri yang dapat memecah molekul makanan besar menjadi bentuk yang lebih kecil, apapun bentuk olahan makanannya. Hebatnya lagi, manusia bisa terus membuat enzim-enzim baru seumur hidupnya sehingga takkan terganggu kondisi apapun.
Justru jika bahan makanan dikonsumsi dalam keadaan mentah, sebagian besar enzim pada tumbuhan itu akan hancur seketika akibat asam dari usus manusia. Hanya sedikit yang bisa sampai ke usus kecil. Namun kontribusi ini tidaklah begitu besar. "Yang saya tahu enzim tumbuhan tak ada gunanya di dalam pencernaan manusia," kata McDougall.
Kesalahpahaman #3: Makanan mentah bisa menghilangkan racun (detoksifikasi)
Detoksifikasi dengan diet makanan tertentu merupakan pengobatan alternatif yang hanya memiliki sedikit kredibilitas. Apalagi organ yang dikatakan membutuhkan detoks adalah hati dan usus besar, padahal nyatanya racun atau toksik dapat berakumulasi dimanapun di dalam tubuh, terutama pada jaringan lemak hingga ke protein dan tulang.
Kendati begitu nyatanya usus besar hanya mengandung sedikit racun. Hati sendiri adalah organ yang berfungsi menyaring racun sehingga dipenuhi oleh berbagai jenis racun namun racun ini dapat langsung dihancurkan ketika melewatinya.
Selain itu, hingga kini belum pernah terbukti ada makanan atau herbal yang dapat mengikat dan menarik toksin keluar dari dalam darah atau tubuh.
"Metode detoks terbaik adalah tidak menempatkan lebih banyak toksin ke dalam tubuh selama 1-2 hari, termasuk pola makan yang kaya nabati dan banyak minum air karena itu dapat membantu hati dan ginjal Anda untuk memproses serta menghilangkan toksin secara lebih efektif," saran McDougall.
Kesalahpahaman #4: Diet vegan mentah itu menyehatkan
Banyak orang yang menjalankan diet bisa berhasil dengan mengonsumsi lebih sedikit kalori tapi penurunan berat badan tak melulu berarti sehat. Masalah yang perlu dikhawatirkan adalah kekurangan nutrisi yang bisa saja terjadi akibat diet vegan mentah ini, khususnya kehilangan vitamin B12 dan D, selenium, zat besi, seng serta asam lemak omega-3, DHA dan EPA.
Padahal tanpa mengonsumsi suplemen dalam bentuk pil, akan terasa sangat sulit (apalagi untuk vitamin B12) untuk memperoleh kadar yang cukup dari makanan nabati yang mentah.
Belum lagi jika si pelaku diet tak dapat memvariasikan makanannya dalam setahun sehingga cenderung mengonsumsi satu jenis makanan seperti buah-buahan padahal makanan seperti ini tidak mengandung energi. Parahnya, buah-buahan ini dapat mengakibatkan kerusakan gigi akibat 'kontak' antara asam dari buah dengan enamel gigi hingga kekekurangan mineral.
(vit/vit)
Diet vegan mentah ini menganjurkan agar bahan makanan tak dipanaskan di atas suhu 40 derajat Celcius. Makanan hanya boleh dimakan dalam kondisi segar, didehidrasi dengan panas rendah, difermentasi, dijus dan dibuat menjadi 'green smoothies'.
Menurut diet ini bahan makanan yang dipanaskan di atas 40 derajat Celcius tak hanya akan menghilangkan nutrisi yang ada di dalamnya tapi juga membuat makanan menjadi beracun dan susah dicerna. Padahal belum tentu yang ditekankan diet ini sudah benar. Untuk lebih jelasnya berikut 4 hal yang disalahpahami oleh pelaku diet vegan mentah seperti dilansir Livescience, Jumat (18/1/2013).
Kesalahpahaman #1: Memasak merusak nutrisi
Memang benar bahan makanan mentah itu masih bergizi tinggi tapi bukan berarti jika dimasak lalu nutrisi ini hilang. Sebaliknya proses memasak dapat memecahkan dinding sel dan serat dari makanan agar dapat melepaskan nutrisi yang sama dengan yang diperoleh dari makanan mentah.
Misalnya memasak tomat dapat meningkatkan bioavaibilitas dari antioksidan yang dikandung tomat yaitu likopen hingga lima kali lipat. Begitu juga dengan wortel yang dimasak karena proses itu membuat beta-karoten yang dikandungnya jadi lebih mudah diserap oleh tubuh ataupun sup.
Memasak juga dapat mengurangi kadar senyawa-senyawa kimia tertentu yang menghambat penyerapan mineral, termasuk mineral penting seperti zat besi, seng, kalsium dan magnesium. Seperti halnya memasak bayam akan melepaskan lebih banyak zat besi dan kalsium dari daunnya.
"Memang ada beberapa nutrisi yang hilang saat dimasak seperti vitamin C dan vitamin B tertentu. Tapi tumbuhan mengandung begitu banyak nutrisi sehingga proses memasak pun tak mampu menghilangkan seluruh nutrisi yang ada," ungkap John McDougall, penemu salah satu jenis diet ramah vegan dan pati, McDougall Program.
"Lagipula memakan makanan mentah maupun olahan akan memberikan manfaat terbaik dari keduanya," timpal Jennifer Nelson dari Mayo Clinic dan profesor gizi dari Mayo Medical School in Rochester, Minn.
Lain halnya dengan masak terlalu lama (overcooking) dan charring karena keduanya memang dapat menghilangkan kandungan nutrisi sekaligus menciptakan senyawa kimia penyebab kanker. Kendati begitu solusinya bukan berhenti memasak sama sekali, tapi lebih beralih pada mengukus, menumis atau banyak membuat sup.
Sedangkan membuat fermentasi atau jus dari bahan makanan mentah memang dapat mengakibatkan semakin banyak sejumlah nutrisi yang muncul tapi hal itu tidak dapat menggeser fakta bahwa memasak membuat makanan lebih mudah dicerna dan bergizi.
Kesalahpahaman #2: Memasak merusak enzim
Panas memang bisa merusak enzim-enzim yang ada dalam makanan tapi hal ini bukan jadi soal. Lagipula manusia memiliki enzim pencernaan tersendiri yang dapat memecah molekul makanan besar menjadi bentuk yang lebih kecil, apapun bentuk olahan makanannya. Hebatnya lagi, manusia bisa terus membuat enzim-enzim baru seumur hidupnya sehingga takkan terganggu kondisi apapun.
Justru jika bahan makanan dikonsumsi dalam keadaan mentah, sebagian besar enzim pada tumbuhan itu akan hancur seketika akibat asam dari usus manusia. Hanya sedikit yang bisa sampai ke usus kecil. Namun kontribusi ini tidaklah begitu besar. "Yang saya tahu enzim tumbuhan tak ada gunanya di dalam pencernaan manusia," kata McDougall.
Kesalahpahaman #3: Makanan mentah bisa menghilangkan racun (detoksifikasi)
Detoksifikasi dengan diet makanan tertentu merupakan pengobatan alternatif yang hanya memiliki sedikit kredibilitas. Apalagi organ yang dikatakan membutuhkan detoks adalah hati dan usus besar, padahal nyatanya racun atau toksik dapat berakumulasi dimanapun di dalam tubuh, terutama pada jaringan lemak hingga ke protein dan tulang.
Kendati begitu nyatanya usus besar hanya mengandung sedikit racun. Hati sendiri adalah organ yang berfungsi menyaring racun sehingga dipenuhi oleh berbagai jenis racun namun racun ini dapat langsung dihancurkan ketika melewatinya.
Selain itu, hingga kini belum pernah terbukti ada makanan atau herbal yang dapat mengikat dan menarik toksin keluar dari dalam darah atau tubuh.
"Metode detoks terbaik adalah tidak menempatkan lebih banyak toksin ke dalam tubuh selama 1-2 hari, termasuk pola makan yang kaya nabati dan banyak minum air karena itu dapat membantu hati dan ginjal Anda untuk memproses serta menghilangkan toksin secara lebih efektif," saran McDougall.
Kesalahpahaman #4: Diet vegan mentah itu menyehatkan
Banyak orang yang menjalankan diet bisa berhasil dengan mengonsumsi lebih sedikit kalori tapi penurunan berat badan tak melulu berarti sehat. Masalah yang perlu dikhawatirkan adalah kekurangan nutrisi yang bisa saja terjadi akibat diet vegan mentah ini, khususnya kehilangan vitamin B12 dan D, selenium, zat besi, seng serta asam lemak omega-3, DHA dan EPA.
Padahal tanpa mengonsumsi suplemen dalam bentuk pil, akan terasa sangat sulit (apalagi untuk vitamin B12) untuk memperoleh kadar yang cukup dari makanan nabati yang mentah.
Belum lagi jika si pelaku diet tak dapat memvariasikan makanannya dalam setahun sehingga cenderung mengonsumsi satu jenis makanan seperti buah-buahan padahal makanan seperti ini tidak mengandung energi. Parahnya, buah-buahan ini dapat mengakibatkan kerusakan gigi akibat 'kontak' antara asam dari buah dengan enamel gigi hingga kekekurangan mineral.
(vit/vit)
Anda punya pengalaman diet yang menginspirasi? Silakan berbagi pengalaman Anda, dan jangan lupa sertakan foto sebelum dan sesudah diet di Sini
Baca Juga
- Metode Baru Pendukung Diet: Main Twitter!
- Protein Ini Bisa Jadi Kunci Terapi Baru Atasi Obesitas
- Awas, Risiko Ini Bisa Muncul Jika Berat Badan Terlalu Cepat Turun
- Strategi Diet: Pertimbangkan Usaha Membakar Kalori Sebelum Ambil Makanan
- 'Aturan' Diet Ini Jangan Anda Dengarkan
- Kesalahan yang Sering Dilakukan di Restoran dan Membuat Gemuk
Foto Terkait
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Sabtu,18/05/2013 16:08 WIB
Agar Pria Berpenis Mungil Pede, Kontes Mr P Terkecil Digelar
-
Sabtu,18/05/2013 14:04 WIB
2 Bocah Kembar Ini Lahir Prematur dengan Jarak 14 Hari
-
Sabtu,18/05/2013 13:02 WIB
Tanaman Kakao Berpotensi Jadi Obat Flu Burung
-
Sabtu,18/05/2013 12:01 WIB
Agar Tak Terinfeksi Bakteri Tinja di Kolam Renang, Lakukan Langkah Ini
-
Sabtu,18/05/2013 10:25 WIB
Inilah Alasan Mengapa Air Kelapa Murni Itu Menyehatkan
-
Sabtu,18/05/2013 09:42 WIB
Tak Hanya untuk Bikin Cokelat, Kakao Juga Bisa Jadi Obat Tifus
-
Ulasan Khas Alergi
Begini Caranya Dapat Momongan Ketika Punya Alergi Sperma
-
Ulasan Khas Alergi
Alergi Lateks, Salah Satu Penyebab Orang Malas Pakai Kondom
-
Ulasan Khas Alergi
Andai Semua Orang Alergi Uang, Masih Adakah Korupsi?
-
Ulasan Khas Alergi
Ini Dia 5 Pemicu Alergi pada Anak
-
Ulasan Khas Alergi
Waspadai, Ini Tandanya Tubuh Mengalami Alergi Cuaca
-
Ulasan Khas Alergi
Hati-hati Pilih Obat, Salah-salah Tidak Jadi Sembuh Malah Alergi
-
Ulasan Khas Alergi
Alergi Tak Bisa Sembuh, Hindari Pemicu Atau Malah Harus Dibiasakan?
-
Ulasan Khas Alergi
Lakukan Tes Ini Jika Curiga Punya Alergi
-
Sabtu, 18/05/2013 16:08 WIB
Agar Pria Berpenis Mungil Pede, Kontes Mr P Terkecil Digelar
-
Sabtu, 18/05/2013 14:04 WIB
2 Bocah Kembar Ini Lahir Prematur dengan Jarak 14 Hari
-
Sabtu, 18/05/2013 12:01 WIB
Agar Tak Terinfeksi Bakteri Tinja di Kolam Renang, Lakukan Langkah Ini
-
Sabtu, 18/05/2013 10:25 WIB
Inilah Alasan Mengapa Air Kelapa Murni Itu Menyehatkan
-
Sabtu, 18/05/2013 13:02 WIB
Tanaman Kakao Berpotensi Jadi Obat Flu Burung
-
Sabtu, 18/05/2013 07:53 WIB
5 Kesalahan Terbesar Orang Saat Makan dan Olahraga
-
Sabtu, 18/05/2013 09:42 WIB
Tak Hanya untuk Bikin Cokelat, Kakao Juga Bisa Jadi Obat Tifus
-
Jumat, 17/05/2013 19:00 WIB
Bertengkar dengan Kekasih, Pria Ini Nekat Potong Penisnya Sendiri
-
6 Komentar
-
6 Komentar
-
5 Komentar
-
5 Komentar
-
5 Komentar
-
5 Komentar
-
4 Komentar
-
4 Komentar
-
Kalkulator Seks
Berapa Kali Anda Pernah Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Lama Berhubungan Seks
Berapa Durasi Rata-rata Ketika Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Masa Subur
Kapan Perkiraan Masa Paling Subur Anda?
Must Read
close
-
Jumat, 17/05/2013 08:00 WIB
Anak Bersikap Agresif? Ini Dia Faktor Pemicunya
-
Jumat, 17/05/2013 07:45 WIB
Peneliti Unair Obati Pasien HIV dengan Propolis Lebah
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

Cek Masa Pertumbuhan Anak Anda






_7.gif)

