Doctor's Life
Prof Abdul Razak Thaha Ungkap Misteri Anak Indonesia Bertubuh Pendek
Senin, 21/01/2013 15:15 WIB
Prof Abdul Razak Thaha (Foto: detikHealth)
Berita Lainnya
Dr Florence Manurung, Dokter 'Pencerah' Dunia Anak-anak
dr Susie Rendra, Dokter Kulit yang Sempat 'Terhadang' Kerusuhan 98
Dr Lie Dharmawan & Perjuangan Bangun RS Apung Swasta Pertama Indonesia
Suka-duka dr Bhimantoro, SpOG Merawat Belasan Anak Anjing
Prof Heriandi Punya Teknik Jitu Agar Dokter Gigi Tak Seperti 'Monster' Bagi Anak
Jakarta, Secara genetik, orang-orang Asia seperti di Indonesia ini memang memiliki postur tubuh yang terhitung pendek. Maka maklum jika kita sering menemui orang yang bertubuh pendek. Padahal, bisa jadi orang tersebut sebenarnya mengalami pertumbuhan tinggi badan yang kurang optimal
Bagi kebanyakan orang, mungkin permasalahan pertumbuhan tinggi badan ini adalah hal biasa. Tapi lain halnya buat Prof Abdul Razak Thaha. Terhambatnya pertumbuhan tinggi badan atau stunting merupakan pertanda bahwa masyarakat Indonesia kekurangan gizi.
"PR besar kita adalah stunting karena hal itu bukan hanya gambaran kekurangan gizi, tapi juga titik awal dari kelebihan gizi. Kita punya data stunting dari tahun 1989 sampai sekarang nyaris tidak berubah," kata Prof Thaha kepada detikHealth seperti ditulis, Senin (21/1/2013).
Menurut South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) jumlah anak pendek di Indonesia terbilang tinggi dibandingkan Malaysia, Vietnam dan Thailand. Ada 34 persen balita dan 30 persen anak sekolah di tanah air yang terhambat pertumbuhannya. Sedangkan di ketiga negara tetangga tersebut hanya 11-12 persen.
Menurut Prof Thaha, masalah ini terjadi jauh-jauh hari sebelum seorang anak dilahirkan, yaitu sejak ibunya masih remaja. Gangguan gizi pada remaja putri yang berlanjut saat kehamilan akan menyebabkan bayi terlahir dengan kekurangan asupan nutrisi. Ini adalah penyebab tingginya angka stunting di Indonesia.
"Setelah lahir, anak masih mengalami masalah gizi kurang. Ada juga persoalan dengan ASI eksklusif. Memang persoalannya itu berantai, tapi semuanya bermula dari remaja putri," terang Prof Thaha.
Prof Thaha berpendapat, postur tubuh anak Indonesia yang cenderung pendek bukanlah perkara genetik, melainkan karena status gizinya. Ia memberi contoh tentara Jepang yang sering disebut 'tentara kate' oleh penduduk Indonesia bagian timur. Ketika perang dunia usai, sebagian tentara Jepang tetap tinggal di Amerika.
Beberapa tahun kemudian, ternyata anak-anak keturunan tentara Jepang yang tinggal di Amerika ketika remaja badannya lebih tinggi daripada rata-rata orang Jepang. Jadi, pengaruh gen atau keturunan dalam masalah tinggi badan sebenarnya hanya sedikit sekali.
"Anak saya juga begitu, badannya tinggi, padahal saya dan istri badannya pendek," imbuh Prof Thaha.
Prof Thaha menambahkan jika sejak remaja ibu hamil tercukupi gizinya, maka bayinya akan lahir dengan sehat. Ia memberikan contoh sebuah survei di NTB yang menunjukkan bahwa 50 - 90 persen remaja mengalami anemia. Daerah tersebut merupakan daerah dengan angka stunting tertinggi di Indonesia.
Artinya, remaja Indonesia memang pada dasarnya sudah kurang gizi. Tandanya adalah mengalami anemia. Apabila hal ini dialami ibu hamil, maka bayi yang dilahirkan akan memiliki berat badan rendah. Jika ditambah dengan kebutuhan ASI eksklusif yang tidak terpenuhi, lengkap sudah status kurang gizi anak-anak Indonesia.
Salah satu hal yang membuat prof Thaha menekuni masalah stunting ini adalah banyaknya kasus gizi buruk yang ia temui di lapangan dan puskesmas. Anak yang mengalami stunting jika tidak mendapat makanan cukup akan mengalami gizi buruk.
Anehnya, kalau diberi makan berlebih akan jadi obesitas dan rentan terserang penyakit seperti diabetes, stroke dan penyakit jantung. Jika dihitung-hitung, biaya pengobatan yang harus dikeluarkan akibat penyakit ini bisa sangat mahal. Jadi satu-satunya cara adalah mencegah agar tidak menjadi stunting.
"Pada bulan-bulan tertentu anak yang stunting itu jadi gizi buruk. Pada musim-musim hujan di akhir November air mulai ada, maka mulai muncul akumulasi kuman-kuman penyebab diare. Kalau mereka minum itu, maka mereka kena diare hebat dan kena gizi buruk. Di semua daerah seperti itu, polanya sama," ujar Prof Thaha.
Biodata
Nama : Prof DR dr Abdul Razak Thaha, MSc, SpGK
Pendidikan
Sarjana Ilmu Kedokteran Universitas Hasanuddin (1977)
Master of Applied Nutrition dari SEAMEO Tropical Medicine and Public Health (1986)
Doktor Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia (1995)
Karier
Dosen Muda ilmu Genetika Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (1977)
Mendirikan Bagian Gizi di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (1982)
Mendirikan Pusat Studi Gizi dan Pangan (1995)
Kepala Pusat Studi Gizi dan Pangan (1995 - 2004)
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (2003 - 2006)
Direktur Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2006 - 2010)
Organisasi
Presiden Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinis Indonesia (2008 - sekarang)
Anggota Kelompok Pakar Dewan Ketahanan Pangan Nasional
Ketua Pokja Kerangka Kuallifikasi Nasional Indonesia bidang Gizi (2010-2012)
Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Dewan Penasihat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)
Dewan Penasihat Perhimpunan dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI)
Dewan Penasihat Asosiasi Institusi Pendidikan Gizi Indonesia (AIPGI)
Dewan Penasihat Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI)
Dewan Penasihat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI)
Dewan Penasihat Ikatan Sarjana Gizi Indonesia (ISAGI)
Anggota SEAPHEIN (South East of Asia Public Health Education Institution Networking)
Anggota APACPH (Asia Pacific Academic Consortium of Public Halth)
Anggota Asia Pacific Clinical Nutrition Association
Wakil Ketua Kolegium Ilmu Gizi Indonesia (2009 - sekarang)
Wakil Badan Pembina Yayasan Koalisi Fortifikasi Indonesia
Ketua Dewan Pakar Pengurus Besar IDI (2012-2015)
(pah/vit)
Bagi kebanyakan orang, mungkin permasalahan pertumbuhan tinggi badan ini adalah hal biasa. Tapi lain halnya buat Prof Abdul Razak Thaha. Terhambatnya pertumbuhan tinggi badan atau stunting merupakan pertanda bahwa masyarakat Indonesia kekurangan gizi.
"PR besar kita adalah stunting karena hal itu bukan hanya gambaran kekurangan gizi, tapi juga titik awal dari kelebihan gizi. Kita punya data stunting dari tahun 1989 sampai sekarang nyaris tidak berubah," kata Prof Thaha kepada detikHealth seperti ditulis, Senin (21/1/2013).
Menurut South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) jumlah anak pendek di Indonesia terbilang tinggi dibandingkan Malaysia, Vietnam dan Thailand. Ada 34 persen balita dan 30 persen anak sekolah di tanah air yang terhambat pertumbuhannya. Sedangkan di ketiga negara tetangga tersebut hanya 11-12 persen.
Menurut Prof Thaha, masalah ini terjadi jauh-jauh hari sebelum seorang anak dilahirkan, yaitu sejak ibunya masih remaja. Gangguan gizi pada remaja putri yang berlanjut saat kehamilan akan menyebabkan bayi terlahir dengan kekurangan asupan nutrisi. Ini adalah penyebab tingginya angka stunting di Indonesia.
"Setelah lahir, anak masih mengalami masalah gizi kurang. Ada juga persoalan dengan ASI eksklusif. Memang persoalannya itu berantai, tapi semuanya bermula dari remaja putri," terang Prof Thaha.
Prof Thaha berpendapat, postur tubuh anak Indonesia yang cenderung pendek bukanlah perkara genetik, melainkan karena status gizinya. Ia memberi contoh tentara Jepang yang sering disebut 'tentara kate' oleh penduduk Indonesia bagian timur. Ketika perang dunia usai, sebagian tentara Jepang tetap tinggal di Amerika.
Beberapa tahun kemudian, ternyata anak-anak keturunan tentara Jepang yang tinggal di Amerika ketika remaja badannya lebih tinggi daripada rata-rata orang Jepang. Jadi, pengaruh gen atau keturunan dalam masalah tinggi badan sebenarnya hanya sedikit sekali.
"Anak saya juga begitu, badannya tinggi, padahal saya dan istri badannya pendek," imbuh Prof Thaha.
Prof Thaha menambahkan jika sejak remaja ibu hamil tercukupi gizinya, maka bayinya akan lahir dengan sehat. Ia memberikan contoh sebuah survei di NTB yang menunjukkan bahwa 50 - 90 persen remaja mengalami anemia. Daerah tersebut merupakan daerah dengan angka stunting tertinggi di Indonesia.
Artinya, remaja Indonesia memang pada dasarnya sudah kurang gizi. Tandanya adalah mengalami anemia. Apabila hal ini dialami ibu hamil, maka bayi yang dilahirkan akan memiliki berat badan rendah. Jika ditambah dengan kebutuhan ASI eksklusif yang tidak terpenuhi, lengkap sudah status kurang gizi anak-anak Indonesia.
Salah satu hal yang membuat prof Thaha menekuni masalah stunting ini adalah banyaknya kasus gizi buruk yang ia temui di lapangan dan puskesmas. Anak yang mengalami stunting jika tidak mendapat makanan cukup akan mengalami gizi buruk.
Anehnya, kalau diberi makan berlebih akan jadi obesitas dan rentan terserang penyakit seperti diabetes, stroke dan penyakit jantung. Jika dihitung-hitung, biaya pengobatan yang harus dikeluarkan akibat penyakit ini bisa sangat mahal. Jadi satu-satunya cara adalah mencegah agar tidak menjadi stunting.
"Pada bulan-bulan tertentu anak yang stunting itu jadi gizi buruk. Pada musim-musim hujan di akhir November air mulai ada, maka mulai muncul akumulasi kuman-kuman penyebab diare. Kalau mereka minum itu, maka mereka kena diare hebat dan kena gizi buruk. Di semua daerah seperti itu, polanya sama," ujar Prof Thaha.
Biodata
Nama : Prof DR dr Abdul Razak Thaha, MSc, SpGK
Pendidikan
Sarjana Ilmu Kedokteran Universitas Hasanuddin (1977)
Master of Applied Nutrition dari SEAMEO Tropical Medicine and Public Health (1986)
Doktor Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia (1995)
Karier
Dosen Muda ilmu Genetika Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (1977)
Mendirikan Bagian Gizi di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (1982)
Mendirikan Pusat Studi Gizi dan Pangan (1995)
Kepala Pusat Studi Gizi dan Pangan (1995 - 2004)
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (2003 - 2006)
Direktur Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2006 - 2010)
Organisasi
Presiden Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinis Indonesia (2008 - sekarang)
Anggota Kelompok Pakar Dewan Ketahanan Pangan Nasional
Ketua Pokja Kerangka Kuallifikasi Nasional Indonesia bidang Gizi (2010-2012)
Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Dewan Penasihat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)
Dewan Penasihat Perhimpunan dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI)
Dewan Penasihat Asosiasi Institusi Pendidikan Gizi Indonesia (AIPGI)
Dewan Penasihat Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI)
Dewan Penasihat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI)
Dewan Penasihat Ikatan Sarjana Gizi Indonesia (ISAGI)
Anggota SEAPHEIN (South East of Asia Public Health Education Institution Networking)
Anggota APACPH (Asia Pacific Academic Consortium of Public Halth)
Anggota Asia Pacific Clinical Nutrition Association
Wakil Ketua Kolegium Ilmu Gizi Indonesia (2009 - sekarang)
Wakil Badan Pembina Yayasan Koalisi Fortifikasi Indonesia
Ketua Dewan Pakar Pengurus Besar IDI (2012-2015)
(pah/vit)
Baca Juga
- Dr Zaenal Abidin, MH.Kes, Masalah Gizi dan Cerita Tentang Kumis
- dr Tirta Jatuh Cinta pada Gizi karena Lihat Pasien Seperti Tengkorak
- Dr Hakim S Pohan, Dokter yang Sangat Getol Perjuangkan Aturan Rokok
- Dr Wiyarni Pambudi Perjuangkan ASI karena Pernah Jadi Korban Susu Formula
- Sosok Prof Dr Idrus Alwi, SpPD, Ketua PAPDI yang Baru
- dr Agastjya dan Trik Hadapi Masyarakat yang Masih Percaya Mistik
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Minggu,19/05/2013 10:01 WIB
Wanita dan Pria, Mana Lebih Baik Fisiknya Sebelum Serangan Jantung?
-
Minggu,19/05/2013 09:03 WIB
Mau Angkat Telepon Pakai Tangan yang Mana? Otaklah Penentunya
-
Minggu,19/05/2013 08:01 WIB
Banyak Minum Minuman Berpemanis Buatan Picu Risiko Batu Ginjal
-
Sabtu,18/05/2013 16:08 WIB
Agar Pria Berpenis Mungil Pede, Kontes Mr P Terkecil Digelar
-
Sabtu,18/05/2013 14:04 WIB
2 Bocah Kembar Ini Lahir Prematur dengan Jarak 14 Hari
-
Sabtu,18/05/2013 13:02 WIB
Tanaman Kakao Berpotensi Jadi Obat Flu Burung
-
Ulasan Khas Alergi
Begini Caranya Dapat Momongan Ketika Punya Alergi Sperma
-
Ulasan Khas Alergi
Alergi Lateks, Salah Satu Penyebab Orang Malas Pakai Kondom
-
Ulasan Khas Alergi
Andai Semua Orang Alergi Uang, Masih Adakah Korupsi?
-
Ulasan Khas Alergi
Ini Dia 5 Pemicu Alergi pada Anak
-
Ulasan Khas Alergi
Waspadai, Ini Tandanya Tubuh Mengalami Alergi Cuaca
-
Ulasan Khas Alergi
Hati-hati Pilih Obat, Salah-salah Tidak Jadi Sembuh Malah Alergi
-
Ulasan Khas Alergi
Alergi Tak Bisa Sembuh, Hindari Pemicu Atau Malah Harus Dibiasakan?
-
Ulasan Khas Alergi
Lakukan Tes Ini Jika Curiga Punya Alergi
-
Minggu, 19/05/2013 09:03 WIB
Mau Angkat Telepon Pakai Tangan yang Mana? Otaklah Penentunya
-
Minggu, 19/05/2013 10:01 WIB
Wanita dan Pria, Mana Lebih Baik Fisiknya Sebelum Serangan Jantung?
-
Minggu, 19/05/2013 08:01 WIB
Banyak Minum Minuman Berpemanis Buatan Picu Risiko Batu Ginjal
-
Sabtu, 18/05/2013 16:08 WIB
Agar Pria Berpenis Mungil Pede, Kontes Mr P Terkecil Digelar
-
Sabtu, 18/05/2013 10:25 WIB
Inilah Alasan Mengapa Air Kelapa Murni Itu Menyehatkan
-
Sabtu, 18/05/2013 07:53 WIB
5 Kesalahan Terbesar Orang Saat Makan dan Olahraga
-
Sabtu, 18/05/2013 12:01 WIB
Agar Tak Terinfeksi Bakteri Tinja di Kolam Renang, Lakukan Langkah Ini
-
Sabtu, 18/05/2013 14:04 WIB
2 Bocah Kembar Ini Lahir Prematur dengan Jarak 14 Hari
-
10 Komentar
-
6 Komentar
-
5 Komentar
-
5 Komentar
-
5 Komentar
-
4 Komentar
-
4 Komentar
-
3 Komentar
-
Kalkulator Seks
Berapa Kali Anda Pernah Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Lama Berhubungan Seks
Berapa Durasi Rata-rata Ketika Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Masa Subur
Kapan Perkiraan Masa Paling Subur Anda?
Must Read
close
-
Jumat, 17/05/2013 08:00 WIB
Anak Bersikap Agresif? Ini Dia Faktor Pemicunya
-
Jumat, 17/05/2013 07:45 WIB
Peneliti Unair Obati Pasien HIV dengan Propolis Lebah
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

Cek Masa Pertumbuhan Anak Anda






_7.gif)

