detikhealth

Menkes Resmikan Rumah Riset Jamu di Tawangmangu

Muchus Budi R. - detikHealth
Kamis, 31/01/2013 19:20 WIB
(dok: detikHealth)
Karanganyar, Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, meresmikan Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus di Tawangmangu, Karanganyar, Jateng. RRJ tersebut merupakan yang pertama di Indonesia. Menkes bahkan mengusulkan ada mata kuliah jamu di fakultas kedokteran untuk menginteragrasikan kedokteran Barat dan Timur.

RRJ Hortus Medicus di Balai Besar dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu, yang diresmikan Kamis, (31/1/2013) tersebut merupakan RRJ pertama yang dimiliki oleh Kemenkes. Di tempat yang sama, selain meresmikan RRJ, Menkes juga meresmikan gedung pelatihan iptek tanaman obat dan jamu.

Hasil riset saintifikasi jamu menunjukkan bahwa jamu bermanfaat dalam pengobatan penyakit degeneratif dan paliatif. Hasil-hasil riset dan bukti ilmiah itu akan makin meningkatkan kepercayaan pada dokter, tenaga kesehatan, maupun para ilmuwan dan terutama masyarakat trentang manfaat jamu untuk kesehatan.

"Saya minta agar riset tanaman obat dan jamu diselenggarakan secara periodik, karena pada tahun 2012 baru 20 persen etnis yang dikaji, yaitu 221 dari 1068 yang ada di tanah air kita," ujarnya sembari menambahkan bahwa sasaran menengah kementeriannya adalah menetapkan 20 persen kabupaten/kota memiliki 2 Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan tradisional, komplementer dan alternatif.

Nafsiah juga menegaskan agar para dokter dan tenaga kesehatan mendapat pelatihan tentang saintifikasi jamu. Bahkan dia juag mengusulkan agar ke depan segera diprogramkan mata kuliah jamu bagi mahasiswa di fakultas kedokteran, fakultas farmasi, dan fakultas kesehatan masyarakat, sebagai bagian dari upaya menginteragrasikan ilmu kedokteran Barat dan Timur.

Baru Sah Sebagai Menteri

Secara senda-gurau, Nafsiah menceritakan bahwa belum lebih dari satu jam dilantik sebagai menteri, Kepala Balitbangkes Kemenkes, sudah membujuknya untuk segera mengagendakan kunjungan ke Tawangmangu untuk melihat balai riset tanaman obat dan obat tradisional yang telah dikembangkan Kemenkes.

"Pak Trihono (Kepala Balitbangkes Kemenkes -red) bahkan mengatakan Ibu belum akan sah sebagai menteri kalau belum ke Tawangmangu. Nah sekarang ini saya penuhi, berarti hari ini saya baru sah sebagai menteri ya," ujarnya disambut tawa seluruh hadirin.

Nafsiah juga mengatakan sebagai orang yang berasal dari Sulawesi, dia dibesarkan bukan dalam tradisi jamu. Karenanya semula dia cenderung sinis terhadap jamu. Apalagi karena rasanya yang pahit dan bau jamu. Nafsiah mengatakan hingga saat ini masih banyak dokter yang tidak percaya pada jamu. Karena itulah pembuktian secara ilmiah akan menjadi bukti bahwa jamu adalah obat ampuh milik bangsa sendiri.

"Tapi tadi saya kok melihat ada pasak bumi segala ya. Awas kalau jamu dari pasak bumi itu nantinya berdampak pada meningkatnya HIV dan AIDS. HIV dan AIDS itu sudah membikin saya pusing. Jangan tambah bikin saya pusing dengan dampak pasak bumi dari Tawangmangu. Jika nanti pengidap HIV dan AIDS bertambah gara-gara jamu pasak bumi dari Tawangmangu, akan saya hantui terus kau Pak Kepala Balitbangkes," ujar Nafsiah berseloroh.

(mbr/vit)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit