Jam Tidur Berantakan? Bisa Jadi Ada yang Salah dengan Makanan Anda
Senin, 11/02/2013 19:00 WIB
(Foto: ThinkStock)
Berita Lainnya
Jakarta, Sudah menjadi rahasia umum jika apa yang dimakan oleh seseorang menunjukkan siapa orang itu sebenarnya. Namun ternyata menurut sebuah studi terbaru, apa yang mereka makan juga mempengaruhi pola tidur yang bersangkutan. Bagaimana bisa?
"Secara umum kita tahu bahwa orang-orang yang tidur selama 7-8 jam setiap malamnya memiliki kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik, lalu kami terdorong untuk bertanya, 'Apakah ada perbedaan pola makan antara mereka yang jam tidurnya lebih pendek, lebih panjang atau pola tidurnya standar?'" tukas peneliti Michael A. Grandner, Ph.D., dari Center for Sleep and Circadian Neurobiology, Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania, AS.
Kesimpulan itu diperoleh setelah peneliti mengamati jumlah kalori dari makanan yang dikonsumsi setiap hari oleh partisipan National Health and Nutrition Examination Survey antara tahun 2007-2009.
Selain itu, peneliti juga mengumpulkan informasi tentang jumlah waktu tidur partisipan. Dari situ peneliti dapat mengkategorikan partisipan menjadi 4 kelompok: partisipan yang jam tidurnya 'sangat pendek' (kurang dari 5 jam semalam), 'pendek' (5-6 jam semalam), 'standar' atau normal (7-8 jam semalam) dan 'panjang' (9 jam ke atas dalam semalam).
Hasilnya, peneliti menemukan kaitan antara jumlah kalori yang dikonsumsi partisipan dengan seberapa lama waktu tidurnya. Partisipan yang paling banyak mengonsumsi kalori lebih cenderung memiliki jam tidur yang 'pendek'.
Namun uniknya, partisipan yang diketahui banyak mengonsumsi kalori berikutnya adalah partisipan yang jam tidurnya 'normal', baru kemudian partisipan dengan jam tidur 'sangat pendek' dan 'panjang'.
Tak hanya itu, peneliti juga mengidentifikasi kaitan antara waktu tidur dan tipe nutrisi yang mereka makan. Misalnya, partisipan dengan jam tidur 'sangat pendek' diketahui paling jarang minum air putih, serta konsumsi makanan berkarbohidrat dan zat yang dikandung dalam makanan berwarna merah dan jingga paling sedikit daripada partisipan lain.
Sedangkan partisipan dengan jam tidur 'panjang' dilaporkan kekurangan konsumsi zat yang ditemukan dalam teh dan cokelat, begitu pula dengan kolin (dari telur dan beberapa jenis daging) dibanding partisipan lainnya, tapi paling banyak minum alkohol.
Hal itu berarti secara keseluruhan partisipan yang jam tidurnya 'sangat pendek', 'pendek' dan 'panjang' mengonsumsi pola makan yang tidak sevariatif partisipan dengan jam tidur 'normal'. Namun peneliti mengaku tak tahu apakah mengubah kebiasaan atau pola makan dapat mempengaruhi pola tidur partisipan.
"Pertanyaan tersebut mendorong perlunya dilakukan studi lanjutan karena sepanjang yang kami tahu durasi tidur yang pendek erat kaitannya dengan penambahan berat badan dan obesitas, diabetes serta penyakit kardiovaskular," ujar Grandner seperti dikutip dari Huffingtonpost, Senin (11/2/2013).
"Di sisi lain kami juga tahu bahwa tidur terlalu lama pun bisa memunculkan konsekuensi kesehatan yang negatif. Tapi jika kami dapat menemukan kombinasi nutrisi dan kalori yang ideal untuk mendorong kualitas tidur yang sehat maka hal ini dapat berpotensi besar untuk mengurangi angka obesitas dan faktor risiko kardiometabolik lainnya," tutupnya.
(vit/vit)
"Secara umum kita tahu bahwa orang-orang yang tidur selama 7-8 jam setiap malamnya memiliki kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik, lalu kami terdorong untuk bertanya, 'Apakah ada perbedaan pola makan antara mereka yang jam tidurnya lebih pendek, lebih panjang atau pola tidurnya standar?'" tukas peneliti Michael A. Grandner, Ph.D., dari Center for Sleep and Circadian Neurobiology, Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania, AS.
Kesimpulan itu diperoleh setelah peneliti mengamati jumlah kalori dari makanan yang dikonsumsi setiap hari oleh partisipan National Health and Nutrition Examination Survey antara tahun 2007-2009.
Selain itu, peneliti juga mengumpulkan informasi tentang jumlah waktu tidur partisipan. Dari situ peneliti dapat mengkategorikan partisipan menjadi 4 kelompok: partisipan yang jam tidurnya 'sangat pendek' (kurang dari 5 jam semalam), 'pendek' (5-6 jam semalam), 'standar' atau normal (7-8 jam semalam) dan 'panjang' (9 jam ke atas dalam semalam).
Hasilnya, peneliti menemukan kaitan antara jumlah kalori yang dikonsumsi partisipan dengan seberapa lama waktu tidurnya. Partisipan yang paling banyak mengonsumsi kalori lebih cenderung memiliki jam tidur yang 'pendek'.
Namun uniknya, partisipan yang diketahui banyak mengonsumsi kalori berikutnya adalah partisipan yang jam tidurnya 'normal', baru kemudian partisipan dengan jam tidur 'sangat pendek' dan 'panjang'.
Tak hanya itu, peneliti juga mengidentifikasi kaitan antara waktu tidur dan tipe nutrisi yang mereka makan. Misalnya, partisipan dengan jam tidur 'sangat pendek' diketahui paling jarang minum air putih, serta konsumsi makanan berkarbohidrat dan zat yang dikandung dalam makanan berwarna merah dan jingga paling sedikit daripada partisipan lain.
Sedangkan partisipan dengan jam tidur 'panjang' dilaporkan kekurangan konsumsi zat yang ditemukan dalam teh dan cokelat, begitu pula dengan kolin (dari telur dan beberapa jenis daging) dibanding partisipan lainnya, tapi paling banyak minum alkohol.
Hal itu berarti secara keseluruhan partisipan yang jam tidurnya 'sangat pendek', 'pendek' dan 'panjang' mengonsumsi pola makan yang tidak sevariatif partisipan dengan jam tidur 'normal'. Namun peneliti mengaku tak tahu apakah mengubah kebiasaan atau pola makan dapat mempengaruhi pola tidur partisipan.
"Pertanyaan tersebut mendorong perlunya dilakukan studi lanjutan karena sepanjang yang kami tahu durasi tidur yang pendek erat kaitannya dengan penambahan berat badan dan obesitas, diabetes serta penyakit kardiovaskular," ujar Grandner seperti dikutip dari Huffingtonpost, Senin (11/2/2013).
"Di sisi lain kami juga tahu bahwa tidur terlalu lama pun bisa memunculkan konsekuensi kesehatan yang negatif. Tapi jika kami dapat menemukan kombinasi nutrisi dan kalori yang ideal untuk mendorong kualitas tidur yang sehat maka hal ini dapat berpotensi besar untuk mengurangi angka obesitas dan faktor risiko kardiometabolik lainnya," tutupnya.
(vit/vit)
Baca Juga
- Gangguan Kecil Ketika Tidur Bikin Otak Gampang Lupa
- Berat Badan Susah Turun Saat Diet? Bisa Jadi Akibat Kurang Tidur
- Jangan Makan Tengah Malam, Keberhasilan Diet Juga Ditentukan Waktu Makan
- Yuk Coba! Trik Menurunkan Berat Badan dengan Strategi Warna
- Ini Dia Posisi Tidur yang Baik dan Buruk bagi Kesehatan
- Waspadai Gangguan Tidur Ini: Teror Malam Hingga Seksomnia
Foto Terkait
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Selasa,18/06/2013 20:00 WIB
Orang Obesitas Bisa Kena Sakit Gula Kalau Lewatkan Sarapan
-
Selasa,18/06/2013 19:33 WIB
Venezuela akan Larang Bayi Diberi Minum dengan Botol Susu
-
Selasa,18/06/2013 19:04 WIB
Bukan Pornografi, Foto Mastektomi Boleh Di-upload di Facebook
-
Selasa,18/06/2013 18:32 WIB
Diminta Stop Iklan Rokok Lewat Petisi, Ini Tanggapan Kominfo
-
Selasa,18/06/2013 18:17 WIB
Sudah Coba Banyak Posisi Tapi Tak Pernah Orgasme, Apakah Saya Frigid?
-
Selasa,18/06/2013 18:03 WIB
Semangat Saat Menjelang Tidur Membuat Badan Sulit Terlelap
-
Punya Otot Kuat, Stamina Saat Bercinta Makin Dahsyat
-
Ingin Punya Perut Sixpack ? Ini Caranya
-
Ini Dia Pria dengan Otot Tubuh Paling Seksi di Mata Wanita
-
Laki-laki Berotot, Seksi atau Menyeramkan?
-
Ini Cara Mengencangkan Betis Agar Tak Kebablasan Jadi 'Berkonde'
-
Bodybuilding Bikin Payudara Mengecil? Sebaliknya, Justru Makin Kencang
-
Selasa, 18/06/2013 19:04 WIB
Bukan Pornografi, Foto Mastektomi Boleh Di-upload di Facebook
-
Selasa, 18/06/2013 18:13 WIB
Sudah Coba Banyak Posisi Tapi Tak Pernah Orgasme, Apakah Saya Frigid?
-
Selasa, 18/06/2013 13:25 WIB
HappyPlayTime, Aplikasi Masturbasi Wanita Pertama di Dunia
-
Selasa, 18/06/2013 19:33 WIB
Venezuela akan Larang Bayi Diberi Minum dengan Botol Susu
-
Selasa, 18/06/2013 15:31 WIB
Tak Kuat Menahan Kantuk? Perhatikan Ini Sebelum Memutuskan Tidur Siang
-
Selasa, 18/06/2013 20:00 WIB
Orang Obesitas Bisa Kena Sakit Gula Kalau Lewatkan Sarapan
-
Selasa, 18/06/2013 16:00 WIB
Hindari Makanan Seperti Ini Kalau Tak Mau Kena Alzheimer
-
Selasa, 18/06/2013 12:01 WIB
Kena Penyakit Sangat Langka, Pria Ini Tak Bisa Gemuk Meski Banyak Makan
-
35 Komentar
-
18 Komentar
-
16 Komentar
-
16 Komentar
-
15 Komentar
-
6 Komentar
-
6 Komentar
-
6 Komentar
-
Kalkulator Seks
Berapa Kali Anda Pernah Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Lama Berhubungan Seks
Berapa Durasi Rata-rata Ketika Berhubungan Seks?
-
Kalkulator Masa Subur
Kapan Perkiraan Masa Paling Subur Anda?
Must Read
close
-
Selasa, 18/06/2013 08:08 WIB
Kisah April, Bayi 6 Bulan yang Melawan Penyakit Langka Emanuel Syndrome
-
Selasa, 18/06/2013 07:32 WIB
Dengan Operasi Bariatrik, Pria Ini Berhasil Susutkan Bobot 100 Kg
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

Cek Masa Pertumbuhan Anak Anda









